Ekraf Jadi Andalan Pemulihan Pascabencana, Kemenekraf Siapkan Rp88,44 Miliar

Ekraf Jadi Andalan Pemulihan Pascabencana, Kemenekraf Siapkan Rp88,44 Miliar

Suara Pecari | Jakarta – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menempatkan sektor ekonomi kreatif (ekraf) sebagai ujung tombak pemulihan ekonomi pascabencana. Dalam rencana program tahun 2027, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengusulkan alokasi anggaran khusus sebesar Rp88,44 miliar untuk mendukung rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak bencana. Anggaran ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Latar Belakang dan Urgensi Program

Bencana alam yang kerap melanda Indonesia tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga melumpuhkan roda perekonomian masyarakat. Sektor ekonomi kreatif dinilai memiliki potensi besar untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi secara cepat dan berkelanjutan. Hal ini didasari oleh sifat sektor ekraf yang padat karya, berbasis kearifan lokal, dan mampu menyerap tenaga kerja dalam waktu singkat. Melalui program ini, Kemenekraf berupaya tidak hanya memberikan bantuan jangka pendek, tetapi juga memperkuat kapasitas pelaku ekraf di daerah sehingga tercipta peluang usaha baru dan meningkatkan daya tahan ekonomi terhadap risiko bencana di masa mendatang.

Rincian Anggaran Rehabilitasi dan Rekonstruksi

Dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI, Senin, 15 Juni 2026, Menteri Teuku Riefky memaparkan pagu anggaran rehab-rekon untuk Kemenekraf secara bertahap. Berikut rinciannya:

TahunAnggaran (Rp)Keterangan
202677,5 miliarTahap awal rehabilitasi
202788,44 miliarFokus pada rekonstruksi dan pelatihan
2028132,7 miliarPenguatan berkelanjutan

Alokasi ini menunjukkan peningkatan signifikan setiap tahun, mencerminkan komitmen jangka panjang pemerintah dalam memulihkan ekonomi kreatif pascabencana.

Program dan Pelatihan yang Direncanakan

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati, memberikan apresiasi terhadap detail program yang disampaikan. Program ini mencakup berbagai pelatihan keterampilan yang relevan dengan potensi lokal, antara lain:

  • Pelatihan kriya batik lokal
  • Pelatihan sulam dan anyam
  • Workshop desain kemasan
  • Pelatihan memasak dan menjahit

Pelatihan-pelatihan ini dirancang untuk memberdayakan masyarakat terdampak bencana agar dapat kembali produktif. Dengan mengembangkan produk-produk khas daerah, diharapkan muncul sentra-sentra ekonomi baru yang mampu bersaing di pasar lokal maupun nasional.

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat dan Industri

Program pemulihan ekraf pascabencana ini diharapkan memberikan dampak positif yang luas. Bagi masyarakat, program ini membuka akses terhadap pelatihan dan modal usaha, sehingga mereka tidak hanya bergantung pada bantuan sosial. Bagi industri kreatif, program ini memperkuat rantai pasok dan meningkatkan kualitas produk lokal. Lebih jauh, penguatan kapasitas pelaku ekraf di daerah rawan bencana akan menciptakan ketahanan ekonomi yang lebih baik. Ketika bencana kembali terjadi, masyarakat sudah memiliki bekal keterampilan dan jaringan usaha yang dapat mempercepat pemulihan.

Implikasi bagi Pemerintah Daerah

Pemerintah daerah di Aceh, Sumut, dan Sumbar diharapkan dapat bersinergi dengan Kemenekraf dalam pelaksanaan program. Koordinasi yang baik akan memastikan anggaran tepat sasaran dan program berjalan efektif. Selain itu, pemerintah daerah perlu menyiapkan infrastruktur pendukung seperti ruang pelatihan, pemasaran produk, dan akses permodalan.

Kronologi dan Proses Pengusulan

Proses pengusulan anggaran ini dimulai dengan surat dari Kementerian Sekretariat Negara (Kemensesneg) yang mengalokasikan dana rehab-rekon untuk Kemenekraf. Selanjutnya, Menteri Teuku Riefky memaparkan rincian anggaran dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI pada 15 Juni 2026. DPR memberikan apresiasi terhadap program yang spesifik dan detail, terutama fokus pada pelatihan keterampilan. Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan program yang direncanakan mulai tahun 2026 hingga 2028.

Penutup Naratif

Di tengah guncangan bencana yang kerap melanda negeri, sektor ekonomi kreatif muncul sebagai secercah harapan. Bukan sekadar bantuan tunai, tetapi investasi jangka panjang pada keterampilan dan kemandirian masyarakat. Dengan alokasi anggaran yang terus meningkat, Kemenekraf menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya tentang membangun kembali bangunan, tetapi juga membangun kembali mimpi-mimpi yang sempat runtuh. Langkah ini menjadi fondasi bagi Indonesia yang lebih tangguh, di mana setiap bencana bukan akhir, melainkan awal dari kebangkitan ekonomi yang lebih kuat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan