BPS Catat Lonjakan Harga Cabai Merah di Pekan Kedua Juni 2026, Tembus Rp56.537 per Kg
Suara Pecari | Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga cabai merah terus mengalami kenaikan hingga pekan kedua Juni 2026. Secara nasional, harga rata-rata cabai merah kini mencapai Rp56.537 per kilogram. Angka ini melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen yang ditetapkan pemerintah pada kisaran Rp37.000 hingga Rp55.000 per kilogram. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan data tersebut dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah pada Senin, 15 Juni 2026. Kenaikan harga cabai merah terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, dengan 286 kabupaten-kota mengalami peningkatan Indeks Perkembangan Harga (IPH) untuk komoditas ini.
Lonjakan Harga di Berbagai Daerah
Beberapa daerah mencatat harga cabai merah yang sangat tinggi, jauh di atas rata-rata nasional. Kabupaten Halmahera Timur menjadi salah satu wilayah dengan harga tertinggi, mencapai Rp110.741 per kilogram atau sekitar 101 persen di atas HAP batas atas. Sementara itu, Kabupaten Buton Utara mencatat harga Rp115.556 per kilogram, sekitar 110 persen lebih tinggi dibandingkan HAP batas atas. “Kabupaten-kota yang mengalami kenaikan IPH dan juga level harganya sudah tinggi antara lain yang ditandai warna merah. Seperti misalnya di Halmahera Timur dan Kabupaten Buton Utara harga cabai merahnya sudah menyentuh di atas Rp100.000,” ujar Amalia.
Berikut adalah daftar harga cabai merah di beberapa daerah per pekan kedua Juni 2026:
| Daerah | Harga per Kg (Rp) | % di atas HAP atas |
|---|---|---|
| Nasional | 56.537 | 2,8% |
| Halmahera Timur | 110.741 | 101,3% |
| Buton Utara | 115.556 | 110,1% |
| Aceh (Gayo) | 65.000 | 18,2% |
| Jawa Tengah (sentra) | 45.000 | – |
Penyebab Kenaikan: Distribusi dan Sentra Produksi Terpusat
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menilai distribusi menjadi salah satu penyebab tingginya harga cabai merah di sejumlah daerah. Menurutnya, Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan komoditas tersebut secara nasional, namun masih menghadapi tantangan dalam pemerataan pasokan. “Kemudian memang yang menjadi tantangan kita adalah bagaimana agar bawang merah, cabai merah, cabai rawit. Kita swasembada, tapi jadi kenaikan,” kata Tito dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah.
Tito menjelaskan bahwa produksi cabai merah masih terkonsentrasi di beberapa daerah, seperti Jawa Tengah. Kondisi ini menyebabkan biaya distribusi meningkat ketika pasokan harus dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia. “Bawang merah ini sentranya kan di Jawa Tengah. Kemudian baru distribusi ke seluruh Indonesia, mengakibatkan ada tambahan ongkos transportasi yang membuat terjadi kenaikan harga,” ucapnya. Hal serupa juga terjadi pada cabai merah dan cabai rawit.
Sebagai contoh, Tito menyebutkan kondisi di Aceh yang memiliki kawasan penghasil cabai melimpah di wilayah Gayo. Namun, hasil panen kerap terlebih dahulu dikirim ke Medan sebelum kembali dipasarkan ke sejumlah daerah di Aceh. Akibat rantai distribusi yang panjang tersebut, harga cabai menjadi lebih mahal di tingkat konsumen. Menurut Tito, harga dapat ditekan apabila distribusi dilakukan langsung dari sentra produksi ke daerah tujuan.
Dampak bagi Masyarakat dan Perekonomian
Lonjakan harga cabai merah memberikan dampak langsung pada daya beli masyarakat, terutama bagi rumah tangga berpenghasilan rendah yang mengandalkan cabai sebagai bumbu dapur sehari-hari. Kenaikan harga ini juga berpotensi mendorong inflasi pangan secara umum, mengingat cabai merah merupakan salah satu komoditas yang sensitif terhadap perubahan harga. BPS menilai cabai merah masih menjadi salah satu komoditas pangan yang perlu mendapat perhatian khusus. Langkah pengendalian diperlukan agar lonjakan harga tidak semakin membebani masyarakat.
Dari sisi produsen, petani cabai di sentra produksi mungkin diuntungkan oleh harga tinggi, namun keuntungan tersebut bisa tergerus oleh biaya distribusi yang tidak efisien. Sementara itu, konsumen di daerah terpencil harus membayar harga yang jauh lebih mahal, menciptakan kesenjangan harga yang signifikan antarwilayah.
Kebijakan Pemerintah dan Upaya Pengendalian
Pemerintah terus memantau perkembangan harga untuk menjaga stabilitas pasokan dan mengendalikan inflasi pangan. Mendagri Tito Karnavian mendorong pembentukan sentra produksi baru di berbagai daerah untuk mengurangi ketergantungan pada satu wilayah. “Semua perlu ada sentra-sentra baru. Perlu diatur karena sebetulnya semua daerah bisa melakukan menanam cabai,” ucapnya. Dengan adanya sentra produksi yang tersebar, rantai distribusi dapat dipersingkat, sehingga harga di tingkat konsumen dapat lebih terjangkau.
Selain itu, pemerintah juga dapat melakukan intervensi pasar melalui operasi pasar dan penyaluran bantuan pangan untuk menekan harga. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam mengatasi masalah ini. Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar secara rutin menjadi wadah untuk memantau perkembangan dan merumuskan langkah-langkah strategis.
Kronologi Kenaikan Harga Cabai Merah
- Pekan Pertama Juni 2026: Harga cabai merah mulai menunjukkan tren kenaikan di beberapa daerah.
- Pekan Kedua Juni 2026: BPS mencatat harga rata-rata nasional mencapai Rp56.537 per kg, melampaui HAP. Sebanyak 286 kabupaten/kota mengalami kenaikan IPH.
- 15 Juni 2026: Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah digelar, dihadiri Kepala BPS, Mendagri, dan pemangku kepentingan lainnya. Data kenaikan harga diumumkan dan langkah pengendalian dibahas.
Analisis ke Depan
Jika tidak ada langkah konkret untuk memperbaiki rantai distribusi dan memperluas sentra produksi, harga cabai merah diperkirakan akan tetap tinggi, terutama di daerah-daerah yang jauh dari pusat produksi. Musim panen yang tidak merata juga dapat mempengaruhi pasokan. Pemerintah perlu mendorong diversifikasi produksi dan investasi di bidang pertanian untuk menciptakan ketahanan pangan yang lebih baik. Selain itu, pemanfaatan teknologi informasi untuk memantau harga dan pasokan secara real-time dapat membantu pengambilan keputusan yang lebih cepat.
Kenaikan harga cabai merah ini menjadi pengingat bahwa swasembada pangan saja tidak cukup; distribusi yang efisien dan merata adalah kunci untuk menjaga stabilitas harga. Dengan adanya sentra produksi baru dan perbaikan infrastruktur logistik, diharapkan harga cabai merah dapat kembali ke level yang wajar dan tidak membebani masyarakat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












