Destry Damayanti Bicara Arah Kebijakan Suku Bunga di Tengah Tekanan Global
Suara Pecari – Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengemukakan bahwa arah kebijakan suku bunga acuan atau BI Rate akan mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang semakin kompleks. Kebijakan ini tidak hanya didasarkan pada perkembangan inflasi domestik, melainkan juga tekanan dan dinamika ekonomi global yang saat ini mempengaruhi berbagai negara.
Faktor Global dalam Penentuan Kebijakan Suku Bunga
Destry Damayanti menyoroti bahwa negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa masih menghadapi tekanan inflasi yang tinggi. Kondisi ini membatasi ruang bagi bank sentral di negara-negara tersebut untuk menurunkan suku bunga tanpa risiko menaikkan inflasi kembali. Misalnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS untuk tenor 30 tahun berada di atas 5,3 persen, jauh di atas level normal sekitar 3 persen.
Situasi semakin kompleks karena kenaikan inflasi dan yield terjadi bersamaan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi di AS. Karena itu, bank sentral AS harus mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi secara simultan dalam menentukan kebijakan moneter.
Kebijakan Bank Indonesia dalam Menghadapi Tantangan Global
Destry menegaskan bahwa Bank Indonesia akan mengkombinasikan kebijakan suku bunga dengan kebijakan makroprudensial untuk menjaga daya tarik aset domestik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini bertujuan agar aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia meski menghadapi tekanan ‘higher for longer’ atau suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama di tingkat global.
Beberapa langkah kebijakan yang dijalankan BI antara lain pemberian insentif Giro Wajib Minimum (GWM) untuk mendorong kredit pada sektor prioritas. Selain itu, BI juga telah mengalirkan likuiditas sebesar sekitar Rp 440 triliun ke perbankan agar dana tersebut dapat disalurkan dalam bentuk kredit untuk mendukung pembiayaan ekonomi.
Pentingnya Pendekatan Komprehensif dalam Kebijakan Moneter
Menurut Destry, kebijakan moneter tidak bisa hanya mengandalkan satu indikator seperti inflasi. Bank Indonesia harus merespons kondisi ekonomi global dan domestik dengan kebijakan yang fleksibel dan terintegrasi. Pendekatan ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan di tengah ketidakpastian global saat ini.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Bank Indonesia berupaya menjaga keseimbangan antara menjaga daya tarik investasi dan memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










