Konferensi NPT PBB Gagal Capai Kesepakatan Akibat Perselisihan AS-Iran

Konferensi NPT PBB Gagal Capai Kesepakatan Akibat Perselisihan AS-Iran

Suara Pecari | Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meninjau Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT) berakhir tanpa mencapai kesepakatan setelah berlangsung selama empat minggu. Perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai program nuklir Teheran menjadi salah satu penyebab utama kegagalan tersebut.

Duta Besar Vietnam untuk PBB, Do Hung Viet, yang memimpin konferensi, mengungkapkan bahwa tidak ada konsensus yang tercapai di antara 191 negara anggota NPT. Dokumen akhir yang telah dirundingkan juga tidak berhasil disepakati, sebuah situasi yang dilaporkan oleh AP News pada 23 Mei 2026.

Pada konferensi sebelumnya pada tahun 2022, Rusia menghalangi kesepakatan terkait dokumen akhir yang berkaitan dengan perang Ukraina dan isu pendudukan pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia. Perjanjian NPT sendiri selama ini dianggap sebagai landasan penting dalam upaya nonproliferasi dan perlucutan senjata nuklir di tingkat global.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyampaikan penyesalan mendalam atas kegagalan konferensi ini di tengah meningkatnya risiko terkait ancaman senjata nuklir. Ia menyerukan agar seluruh negara berupaya memanfaatkan dialog, diplomasi, dan negosiasi untuk meredakan ketegangan dan mengurangi risiko nuklir global.

Ketegangan mengenai program nuklir Iran telah meningkat sejak pecahnya perang Iran pada 28 Februari. Presiden AS, Donald Trump, menyebut perang tersebut sebagai langkah untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. AS menuduh Iran melanggar kewajibannya dalam NPT, termasuk terkait inspeksi fasilitas nuklir.

Di sisi lain, Iran menilai bahwa serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklirnya melanggar hukum internasional dan ketentuan dalam NPT. Sebagai anggota NPT, Iran diwajibkan untuk membuka semua situs nuklirnya untuk inspeksi internasional oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), namun hingga kini akses bagi inspektur IAEA ke beberapa lokasi yang sebelumnya dibom oleh AS belum diberikan.

Dalam perundingan, AS bersikeras agar Iran dicantumkan dalam dokumen akhir karena dianggap melanggar kewajiban NPT. Sementara itu, Iran meminta agar AS dan Israel juga dikecam atas serangan terhadap fasilitas nuklirnya. Beberapa pengamat menilai bahwa kegagalan konferensi ini mencerminkan melemahnya fondasi NPT akibat sikap keras dari negara-negara besar.

Para ahli menyerukan perlunya diplomasi yang lebih aktif dan pragmatis untuk mencegah perlombaan senjata nuklir yang semakin tak terkendali.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan