Eropa Lebih Sibuk Urus Isu Iklim dan Gender, Hegseth: Saatnya Genjot Belanja Militer!
Suara Pecari | Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan dunia internasional, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan bahwa Eropa seharusnya genjot belanja militer, Hegseth: Ini malah urus isu iklim dan gender [titlebase]. Kritik tajam ini dilontarkan dalam pertemuan para menteri pertahanan NATO di Brussels, Belgia, yang berlangsung pada Kamis (19/6/2026). Hegseth menilai banyak negara anggota NATO di Eropa lebih fokus pada isu-isu seperti perubahan iklim dan kesetaraan gender, padahal ancaman keamanan global semakin nyata.
Menurut Hegseth, kontribusi finansial Amerika Serikat ke NATO ke depannya akan sangat bergantung pada keseriusan negara-negara anggota dalam meningkatkan anggaran pertahanan mereka. Ia mengingatkan target alokasi pertahanan sebesar lima persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2035. “Kontribusi tahunan kami untuk NATO akan bergantung pada apakah negara-negara lain memenuhi target pertahanan mereka. Jika sekutu lain gagal berinvestasi dengan urgensi yang diperlukan, kontribusi kami akan berkurang,” tegas Hegseth.
Pernyataan ini memicu perdebatan sengit di kalangan diplomat dan analis keamanan. Banyak yang menilai bahwa Eropa seharusnya genjot belanja militer, Hegseth: Ini malah urus isu iklim dan gender [titlebase] merupakan cerminan kekecewaan Washington terhadap sekutu-sekutunya. Hegseth secara khusus menyebut Spanyol, Italia, dan Prancis tidak memberikan dukungan yang cukup dalam konflik dengan Iran, terutama dalam hal akses pangkalan dan wilayah udara. Sebaliknya, Jerman disebut memberikan akses penuh melalui Pangkalan Udara Ramstein, meskipun hubungan kedua negara sempat memanas setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik strategi perang AS terhadap Iran.
Tak lama setelah kritik tersebut, Presiden Donald Trump mengumumkan rencana penarikan sekitar 5.000 personel militer AS dari Jerman. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa AS tidak akan ragu untuk mengurangi kehadiran militernya di Eropa jika sekutu tidak menunjukkan komitmen yang sepadan. Hegseth menegaskan bahwa Pentagon akan meninjau kembali penempatan pasukan AS di Eropa dalam enam bulan ke depan.
Kritik Hegseth terhadap fokus Eropa pada isu iklim dan gender menuai respons beragam. Beberapa pihak menilai bahwa isu-isu tersebut memang penting, tetapi tidak boleh mengorbankan kesiapan pertahanan. Namun, yang lain berpendapat bahwa pendekatan AS terlalu agresif dan tidak mempertimbangkan prioritas masing-masing negara. Terlepas dari pro dan kontra, pesan Hegseth jelas: Eropa seharusnya genjot belanja militer, Hegseth: Ini malah urus isu iklim dan gender [titlebase] harus menjadi peringatan bagi NATO untuk segera berbenah.
Dalam kesimpulannya, artikel ini menekankan bahwa tuntutan AS terhadap peningkatan belanja militer Eropa bukanlah sekadar retorika. Dengan ancaman keamanan yang semakin kompleks, termasuk ketegangan dengan Iran dan potensi konflik di kawasan lain, NATO harus mampu beradaptasi. Jika tidak, aliansi ini bisa kehilangan relevansinya di mata Washington. Masa depan keamanan Eropa kini berada di tangan para pemimpinnya: apakah akan terus fokus pada isu iklim dan gender, atau mulai serius meningkatkan anggaran pertahanan seperti yang diminta Hegseth.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












