Teheran Kembali Menggempur: Rudal Balistik dan Drone Arash Hantam Pangkalan AS di Arab Saudi dan Bahrain

Teheran Kembali Menggempur: Rudal Balistik dan Drone Arash Hantam Pangkalan AS di Arab Saudi dan Bahrain

Suara Pecari, Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Teheran melancarkan serangan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Arab Saudi pada Sabtu (18/7/2026). Serangan ini merupakan yang pertama dalam empat bulan terakhir dan menandai eskalasi baru setelah gencatan senjata singkat yang disepakati pada Juni lalu. Dalam waktu bersamaan, Iran juga mengklaim berhasil menyerang Pangkalan Udara Sakhir di Bahrain menggunakan drone kamikaze Arash, menargetkan helikopter dan pesawat patroli maritim P-8 milik AS.

Menurut laporan yang dikutip dari Axios dan Anadolu Agency, serangan rudal ke Arab Saudi terjadi pada Sabtu pagi waktu setempat. Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya mengonfirmasi bahwa Iran menembakkan rudal balistik ke sebuah pangkalan militer Amerika di wilayah Saudi. Otoritas pertahanan sipil Saudi sempat mengeluarkan peringatan dini untuk kota Al-Kharj dan Yanbu, namun kemudian menyatakan bahwa bahaya telah berlalu tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Jika dikonfirmasi, ini adalah serangan langsung pertama Iran terhadap Saudi sejak April lalu, ketika serangan udara menghantam kompleks petrokimia Jubail.

Sementara itu, pada Jumat (17/7/2026), militer Iran mengumumkan fase ke-11 operasi ‘Saegheh’ dengan menyerang Pangkalan Udara Al-Sakhir di Bahrain menggunakan drone Arash. Serangan ini disebut sebagai balasan atas serangan AS yang menargetkan infrastruktur sipil dan warga sipil Iran. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengonfirmasi bunyi sirene serangan udara di seluruh negeri dan meminta warga untuk tetap tenang serta berlindung di tempat aman. Sebelumnya, Iran juga menyerang pangkalan AS di Yordania dan fasilitas di Bahrain dan Kuwait, menurut pernyataan militer Iran.

Eskalasi ini terjadi setelah AS melancarkan enam malam berturut-turut serangan udara ke Iran, menargetkan lokasi-lokasi di Pulau Qeshm, dekat Bandar Abbas, serta jembatan dan stasiun kereta di Bandar Khamir. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan untuk menurunkan kemampuan militer Iran. Iran membalas dengan menembakkan rudal dan drone ke pangkalan AS di negara-negara tetangga, termasuk serangan ke pangkalan udara di Yordania yang menurut Iran digunakan untuk menyerang rumah sakit kanker anak-anak di Iran.

Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat, mengganggu lalu lintas pelayaran dan mendorong kenaikan harga energi global. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim bahwa seorang warga AS telah dibebaskan dari Iran, namun otoritas kehakiman Iran membantahnya, menyatakan tidak ada tahanan AS yang dibebaskan atau dipertukarkan. Gencatan senjata yang ditandatangani pada 18 Juni lalu kini dianggap tidak berlaku lagi setelah Trump menyatakannya batal pada 9 Juli.

Serangan terbaru Teheran menunjukkan bahwa Iran tidak segan-segan menggunakan kekuatan militer untuk melawan AS dan sekutunya di kawasan. Dengan kemampuan rudal balistik dan drone yang terus dikembangkan, Iran menjadi ancaman serius bagi stabilitas Timur Tengah. Situasi ini membutuhkan respons diplomatik yang bijak dari komunitas internasional untuk mencegah konflik yang lebih luas.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *