Iran Tetapkan Syarat Berat Sebelum Buka Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak
Suara Pecari – Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz hingga Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan. Penutupan jalur pelayaran strategis ini berdampak langsung pada kenaikan harga minyak dunia dan menimbulkan ketegangan geopolitik yang berkelanjutan.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia. Sebelum konflik pecah, jalur ini menjadi pintu keluar utama bagi sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global. Namun, sejak Februari 2026, perseteruan militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel menyebabkan aktivitas pelayaran di wilayah ini hampir terhenti total.
Syarat Iran untuk Membuka Kembali Selat Hormuz
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menetapkan enam syarat utama agar Selat Hormuz dapat dibuka kembali secara penuh:
- Penghentian segala ancaman dan penghinaan dari Amerika Serikat terhadap Iran.
- Penghentian permanen serangan AS terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.
- Pencabutan blokade angkatan laut AS serta penarikan pasukan angkatan laut dan udara AS dari wilayah sekitar Iran.
- Pemberian kompensasi atas kerusakan yang diakibatkan oleh serangan militer AS.
- Pencabutan sanksi ekonomi yang diberlakukan AS terhadap Iran.
- Pembebasan tanpa syarat aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Iran menegaskan bahwa meskipun Selat Hormuz akan dibuka, kontrol atas wilayah tersebut akan tetap berada di tangan Iran karena dianggap sebagai wilayah teritorial strategis yang sangat penting bagi pengaruh politik dan ekspor minyak negara tersebut. Sebaliknya, Amerika Serikat memandang Selat Hormuz sebagai perairan internasional yang harus bebas dilalui oleh semua kapal.
Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap Harga Minyak
Penutupan hampir total Selat Hormuz menyebabkan gangguan besar pada aliran minyak global, yang kemudian mendorong kenaikan harga minyak mentah di pasar dunia. Harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman Oktober naik sekitar 1,09 persen menjadi 84,46 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 0,84 persen ke posisi sekitar 78,84 dolar AS per barel.
Aktivitas kapal komersial di Selat Hormuz menurun drastis, dari rata-rata sekitar 130 kapal per hari menjadi hanya sekitar 8-15 kapal pada awal Agustus 2026. Konflik militer yang berkepanjangan juga menimbulkan 64 insiden kekerasan dan 17 kematian di wilayah tersebut.
Kondisi Diplomasi dan Prospek Penyelesaian
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa Iran dan Oman hampir mencapai kesepakatan mengenai pengelolaan jalur pelayaran baru di Selat Hormuz. Namun, Iran tetap menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai seluruh tuntutan mereka dipenuhi oleh Amerika Serikat, terutama terkait pencabutan sanksi dan pembayaran kompensasi perang yang besar, yang diperkirakan mencapai 270 miliar dolar AS.
Hubungan diplomatik langsung antara Iran dan Amerika Serikat masih sangat terbatas dan hanya berlangsung melalui perantara, tanpa adanya negosiasi langsung. Selain itu, Amerika Serikat menunjukkan sikap lebih berhati-hati dan memilih pendekatan yang tidak agresif di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, yang mengisyaratkan penundaan konfrontasi langsung dengan Iran.
Signifikansi dan Implikasi Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi pusat perhatian dunia karena perannya yang sangat penting dalam perdagangan energi global. Penutupan jalur tersebut tidak hanya mempengaruhi harga minyak, tetapi juga menimbulkan ketidakpastian yang luas di pasar energi dan geopolitik Timur Tengah. Kegagalan mencapai kesepakatan yang segera membuka kembali selat ini berpotensi memperpanjang ketegangan dan ketidakstabilan di kawasan.
Para analis pasar menyatakan bahwa meskipun kemungkinan tercapainya kesepakatan tetap ada, sejarah menunjukkan bahwa komitmen diplomatik di wilayah tersebut rentan terhadap perubahan cepat dan ketidakpastian yang tinggi.
Situasi ini menuntut perhatian serius dari para pembuat kebijakan dan pelaku pasar global agar dapat mengantisipasi dampak jangka panjang terhadap pasokan energi dan stabilitas regional.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










