Kesepakatan Nuklir AS-Saudi Bergantung pada Normalisasi Hubungan dengan Israel
Suara Pecari – Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengajukan rancangan kesepakatan kerja sama energi nuklir sipil dengan Arab Saudi ke Kongres AS. Namun, perjanjian ini hanya akan berlaku jika Arab Saudi bersedia menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.
Kesepakatan yang dicapai pada Juli 2026 ini membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan Amerika untuk mengekspor teknologi nuklir sipil ke Arab Saudi. Rancangan perjanjian tersebut dikirim ke Kongres pada akhir Agustus, memulai proses evaluasi legislatif yang diatur oleh Undang-Undang Energi Atom AS. Kongres memiliki waktu 90 hari masa sidang untuk meninjau dan menyetujui atau menolak perjanjian ini. Jika tidak ada penolakan, kesepakatan akan otomatis berlaku. Di sisi lain, jika Kongres menolak, Presiden Trump dapat menggunakan hak veto yang memerlukan mayoritas dua pertiga untuk dibatalkan.
Syarat Normalisasi Hubungan dengan Israel
Trump menegaskan bahwa kesepakatan nuklir ini hanya akan berjalan jika Arab Saudi bergabung dengan Abraham Accords, yaitu kesepakatan yang memediasi normalisasi hubungan antara Israel dengan beberapa negara Arab dan mayoritas Muslim, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan. Syarat ini menjadi titik krusial dalam negosiasi, mengingat hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Israel sampai saat ini belum resmi terjalin.
Isi dan Dampak Kesepakatan Nuklir
Kesepakatan ini mencakup pembangunan reaktor AP1000, sebuah proyek energi nuklir yang bernilai puluhan miliar dolar dan akan memberikan keuntungan besar bagi perusahaan Amerika seperti Westinghouse, yang dimiliki bersama oleh Cameco dari Kanada dan Brookfield Asset Management. Proyek ini tidak hanya membuka akses teknologi nuklir sipil bagi Arab Saudi, tetapi juga berpotensi mengubah peta energi dan keamanan geopolitik di Timur Tengah.
Kritik dan Kekhawatiran
Beberapa anggota parlemen Partai Demokrat dan para ahli nonproliferasi mengkritik kesepakatan ini karena dianggap tidak cukup ketat dalam mencegah penyebaran senjata nuklir. Khususnya, kesepakatan tersebut tidak melarang Arab Saudi untuk memperkaya uranium atau memproses ulang limbah nuklir, yang merupakan dua jalur penting dalam pengembangan senjata nuklir. Namun, pemerintahan Trump menyatakan bahwa perjanjian ini sudah mencakup langkah-langkah nonproliferasi yang diwajibkan secara hukum.
Proses Evaluasi di Kongres
Setelah pengajuan resmi, dokumen kesepakatan akan diserahkan ke komite-komite terkait di Kongres untuk ditinjau. Proses ini penting untuk memastikan kesepakatan memenuhi kepentingan keamanan nasional dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Jika Kongres tidak mengajukan keberatan dalam jangka waktu 90 hari masa sidang, kesepakatan akan berlaku efektif secara otomatis.
Dengan latar belakang hubungan geopolitik yang kompleks di kawasan Timur Tengah, kesepakatan nuklir ini tidak hanya menjadi masalah energi, tetapi juga bagian strategis dari upaya memperluas normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel yang difasilitasi oleh Amerika Serikat.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










