Menlu-Menhan RI dan Australia Bahas Ketahanan Kawasan di Pertemuan ke-22 di Melbourne
Suara Pecari, Melbourne – Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Indonesia bersama dengan pejabat setara dari Australia mengadakan Pertemuan Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan (22) ke-10 di Melbourne, Australia, pada Rabu, 26 Agustus 2026. Fokus utama pertemuan ini adalah membahas penguatan ketahanan kawasan Indo-Pasifik guna menjaga perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran regional.
Penguatan Ketahanan Kawasan sebagai Prioritas
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, dan Menteri Pertahanan Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, berdialog dengan Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, serta Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles. Sugiono menegaskan pentingnya kerja sama antara Indonesia dan Australia sebagai negara tetangga yang memiliki kepentingan bersama dalam menjaga stabilitas kawasan.
“Indonesia dan Australia adalah tetangga yang ditakdirkan untuk hidup berdampingan. Karena itu, kita perlu terus membangun kerja sama yang semakin kuat, tidak hanya untuk kepentingan kita hari ini, tetapi juga untuk generasi mendatang,” ujar Sugiono.
Inisiatif Partnership for Regional Resilience (PRR)
Indonesia mengajukan konsep Partnership for Regional Resilience (PRR) sebagai kerangka kerja sama untuk menghadapi berbagai tantangan ketahanan di kawasan Indo-Pasifik. PRR mencakup sektor ketahanan pangan dan energi tanpa membentuk aliansi atau blok baru, melainkan sebagai upaya kolaboratif untuk memperkuat ketahanan bersama.
Kerja Sama Ekonomi dan Penguatan Rantai Pasok
Selain isu ketahanan kawasan, pembicaraan juga menyoroti peningkatan kerja sama ekonomi antara kedua negara. Indonesia mendorong penguatan rantai pasok yang andal untuk ketahanan pangan dan energi, baik bagi Indonesia, Australia, maupun kawasan secara keseluruhan.
“Kerja sama ekonomi perlu kita fokuskan pada penguatan rantai pasok yang andal bagi ketahanan pangan dan energi kedua negara dan kawasan,” tambah Sugiono.
Latar Belakang dan Konteks Pertemuan
Pertemuan ke-22 ini merupakan yang pertama setelah penandatanganan Treaty on Common Security antara Indonesia dan Australia pada Februari 2026. Selain itu, kedua negara juga menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama trilateral dengan negara-negara Pasifik untuk mengembangkan kerja sama pembangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan prioritas masing-masing negara mitra.
Dampak dan Harapan ke Depan
Dialog strategis ini diharapkan dapat memperkuat kemitraan bilateral Indonesia dan Australia serta memberikan kontribusi positif bagi stabilitas dan kemakmuran kawasan Indo-Pasifik. Kerja sama yang berkelanjutan diyakini akan mendukung upaya bersama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, termasuk ketahanan pangan, energi, dan keamanan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










