Suriah Peringatkan Israel sebagai Ancaman Terbesar bagi Stabilitas Timur Tengah

Suriah Peringatkan Israel sebagai Ancaman Terbesar bagi Stabilitas Timur Tengah

Suara Pecari – Suriah memperingatkan bahwa agresi Israel merupakan ancaman terbesar bagi stabilitas Timur Tengah, bukan hanya bagi Suriah sendiri. Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Tetap Suriah untuk PBB, Ibrahim Olabi, dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB pada 17 September 2026.

Olabi menyoroti tindakan Israel yang dianggap melanggar hukum internasional, termasuk kunjungan pemimpin Israel ke Gunung Hermon yang dikutuk oleh 44 negara sebagai tindakan ilegal. Meski Damaskus memilih jalur dialog dan mediasi untuk mencegah eskalasi konflik, Israel justru melakukan serangan dan penerobosan wilayah Suriah.

Ketegangan Militer di Wilayah Suriah

Israel telah menduduki Dataran Tinggi Golan sejak 1967 dan menganeksasi wilayah tersebut pada 1981, langkah yang tidak diakui oleh komunitas internasional. Setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, Israel memperluas pengaruhnya dengan memasuki zona penyangga demiliterisasi dan wilayah Gunung Hermon di Suriah.

Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, Rusia dan negara-negara Arab mengecam agresi Israel dan mendesak penarikan pasukan ke garis batas yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Pemisahan Pasukan 1974. Oman secara khusus mengecam serangan Israel yang menargetkan infrastruktur sipil, termasuk bandara Abu al-Duhur.

Persaingan Regional dan Tuduhan Saling Lempar

Selain Israel, Turki juga menjadi sorotan dalam konflik ini. Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menuduh Turki memperluas kehadiran militernya di Suriah dengan lebih dari 20 ribu tentara dan menguasai 5 persen wilayah Suriah. Ia menilai tindakan Turki sebagai bagian dari pola proksi Iran.

Menanggapi tuduhan tersebut, Duta Besar Turki untuk PBB, Ahmet Yildiz, menyatakan bahwa kehadiran pasukan Turki di Suriah adalah berdasarkan undangan dari pemerintah Damaskus. Yildiz menolak tuduhan Israel dan mendesak agar Israel meredakan ketegangan serta menarik pasukannya dari wilayah Suriah.

Dampak Kemanusiaan dan Ekonomi di Suriah

Konflik berkepanjangan juga membawa dampak kemanusiaan yang serius. Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, mengungkapkan kenaikan harga bahan bakar hingga 40 persen yang mengancam operasional fasilitas penting seperti toko roti dan pompa air. Hal ini mempengaruhi kehidupan sekitar 5,5 juta pengungsi internal serta pengungsi dari luar negeri yang masih berada di Suriah.

Sisa bahan peledak yang tersebar menjadi hambatan utama dalam proses rekonstruksi dan pemulihan, dengan ratusan korban jiwa, termasuk anak-anak, yang jatuh akibat bahan peledak tersebut sejak akhir 2024. Fletcher menyerukan konferensi donor internasional untuk membantu rekonstruksi dan mengatasi masalah keuangan sektor swasta di Suriah.

Situasi ini menunjukkan kompleksitas konflik di Suriah yang melibatkan kepentingan regional dan internasional yang saling bertentangan. PBB bersama negara-negara anggota terus mendesak penghentian pelanggaran kedaulatan Suriah dan mencari solusi damai untuk mengembalikan stabilitas di kawasan Timur Tengah.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *