Detik-detik Kakak-Adik Klaten Terpisah di KM Virgo, Sempat Berpegangan Tangan

Detik-detik Kakak-Adik Klaten Terpisah di KM Virgo, Sempat Berpegangan Tangan

Suara Pecari – Insiden tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa menimbulkan duka mendalam, terutama bagi keluarga korban. Salah satu kisah yang menyentuh datang dari Guruh dan Guntur, saudara kembar asal Klaten, yang terpisah saat tragedi tersebut terjadi.

Guruh menceritakan bahwa komunikasi terakhirnya dengan Guntur terjadi pada 10 September 2026, beberapa hari sebelum Guntur berangkat naik kapal. Mereka sempat berbincang melalui telepon, saling menanyakan kabar satu sama lain. Namun setelah itu, Guruh tidak lagi menerima kabar langsung dari adiknya tersebut.

Menjelang keberangkatan, Guntur tampak menunjukkan gelagat tidak biasa. Ia sempat membuat status di WhatsApp yang menyatakan kelelahan dan keinginan untuk tidur. Hal ini menjadi perhatian Guruh karena berbeda dengan kebiasaan Guntur sebelumnya.

Komunikasi terakhir yang diterima keluarga terjadi pada Sabtu malam sebelum kapal tenggelam, saat Guntur berhasil menghubungi ibunya setelah mendapatkan sinyal di kapal. Dari informasi tersebut, diketahui bahwa Guntur berada di kamar ketika kapal terbalik, sedangkan penumpang yang selamat umumnya berada di area dek atau lobi kapal yang lebih terbuka dan mudah dijangkau.

Kisah Kepala Desa yang Menunggu Kabar Dua Adiknya

Di sisi lain, Agus Mulyadi, kepala desa di Desa Situsaeur, Kecamatan Karangpawitan, juga merasakan kehilangan yang mendalam. Dua adiknya, Nurdin Suyanto dan Usep Saepuloh, bekerja sebagai kru di KM Virgo Transport 8 dan hingga kini belum ditemukan. Status mereka masih hilang setelah insiden tersebut.

Agus mengenang komunikasi terakhir dengan Nurdin yang terjadi dini hari sebelum kejadian. Nurdin mengabarkan kondisi laut yang sedang buruk dengan ombak besar. Meskipun demikian, Agus mengira kabar itu hanya rutinitas karena kedua adiknya sudah terbiasa menghadapi kondisi laut sulit.

Perbedaan Data Penumpang dan Kejadian di KM Virgo

Guruh juga menyinggung adanya ketidaksesuaian data manifest penumpang kapal. Meskipun Guntur bekerja di perusahaan ekspedisi, ia tidak tahu bagaimana namanya bisa tercantum sebagai penumpang. Guruh menduga data dirinya, yang memiliki SIM B, mungkin digunakan oleh Guntur yang hanya memiliki SIM A untuk armada kendaraan besar.

Perbedaan posisi penumpang saat kapal tenggelam juga menjadi faktor penting. Mereka yang berada di kamar seperti Guntur sulit menyelamatkan diri dibandingkan penumpang di dek atau lobi yang lebih terbuka dan memungkinkan evakuasi lebih cepat.

Dampak dan Harapan Keluarga Korban

Tragedi ini membawa duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Banyak korban berasal dari Desa Situsaeur, sehingga dampaknya sangat terasa di komunitas tersebut. Keluarga korban masih menanti kepastian kabar dan upaya pencarian terus dilakukan.

Situasi ini menyoroti pentingnya keselamatan penumpang dan kejelasan data manifest untuk menghindari kerancuan yang dapat memperumit penanganan darurat. Upaya pencarian dan investigasi terus berjalan demi mendapatkan kejelasan nasib para korban dan mencegah insiden serupa di masa depan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi semua pihak terkait pentingnya komunikasi yang jelas, kesiapsiagaan, dan perhatian terhadap kondisi keselamatan di transportasi laut.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *