Houthi Klaim Serang Riyadh dan Fasilitas Aramco di Yanbu, Saudi Kerahkan Pertahanan Udara
Suara Pecari, Riyadh – Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melakukan serangan besar-besaran yang menargetkan ibu kota Arab Saudi, Riyadh, serta fasilitas perusahaan minyak Saudi Aramco di Yanbu pada Sabtu, 21 September 2026. Serangan tersebut menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone, menurut juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea.
Serangan dan Respons Saudi
Menurut pernyataan yang disiarkan oleh Al-Masirah TV, serangan pertama diarahkan ke sasaran sensitif di Riyadh, sementara serangan kedua menyasar fasilitas Aramco di Yanbu, yang merupakan pusat industri dan energi utama di pesisir Laut Merah. Houthi mengklaim serangan berhasil dan menyebabkan kebakaran di beberapa lokasi.
Insiden ini diiringi dengan terdengarnya dua ledakan di Riyadh dan terlihatnya kepulan asap di sekitar Bandara Internasional King Khalid, menyebabkan beberapa penerbangan mengalami penundaan.
Pihak berwenang Arab Saudi merespons dengan mengerahkan sistem pertahanan udara untuk mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan Houthi ke Riyadh. Koalisi pimpinan Saudi juga menyatakan berhasil menggagalkan serangan di wilayah lain seperti Baish, Taif, Farasan, dan Yanbu.
Perseteruan dan Klaim Kedua Pihak
Juru bicara koalisi Turki Al-Maliki menyebut serangan Houthi sebagai aksi yang menargetkan warga sipil dan objek sipil, dengan janji untuk mengambil tindakan pencegahan agar insiden serupa tidak terulang. Namun, Yahya Sarea membantah tudingan tersebut dan menyatakan serangan merupakan balasan atas serangan udara Arab Saudi terhadap wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman, dengan strategi “eskalasi dibalas eskalasi” hingga penghentian serangan udara dan pencabutan pembatasan terhadap Yaman.
Konteks Konflik Yaman dan Arab Saudi
Konflik antara Houthi dan Arab Saudi meningkat sejak pertengahan Juli 2026, ketika Angkatan Bersenjata Yaman melancarkan serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa yang dikuasai Houthi, guna mencegah kedatangan delegasi senior Houthi dari Iran. Tuduhan keterlibatan Saudi dalam insiden ini memicu serangan balasan dari Houthi menggunakan rudal balistik dan drone.
Pada 20 Juli, Houthi juga melarang pelayaran Arab Saudi melintasi Selat Bab al-Mandab dan mengklaim telah menyerang kapal tanker serta fasilitas minyak Saudi.
Konflik ini bermula pada akhir 2014 saat Houthi merebut Sanaa dan sebagian wilayah utara Yaman, yang memicu intervensi militer koalisi pimpinan Arab Saudi sejak Maret 2015 untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui internasional. Hingga kini, konflik tersebut tetap menjadi persoalan keamanan utama di Timur Tengah dan wilayah Laut Merah.
Dampak dan Perkembangan Terbaru
Serangan terbaru ini memperlihatkan eskalasi ketegangan yang dapat mempengaruhi stabilitas regional, terutama di jalur perairan strategis dan sektor energi. Aktivitas pertahanan udara Saudi yang intens menunjukkan kesiagaan menghadapi ancaman yang terus berkembang dari kelompok Houthi.
Kondisi ini juga berpotensi mempengaruhi operasi penerbangan di Riyadh dan aktivitas industri di Yanbu, yang merupakan salah satu pusat energi penting bagi Arab Saudi dan pasar minyak global.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










