Ketika Apoteker Lebih Banyak Menatap Layar daripada Menatap Pasien
Suara Pecari – Transformasi digital di sektor kesehatan membawa perubahan signifikan dalam pelayanan, khususnya di puskesmas. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan tantangan yang dihadapi tenaga farmasi, terutama apoteker, yang kini lebih banyak menatap layar komputer daripada berinteraksi langsung dengan pasien.
Manfaat dan Tantangan Digitalisasi Pelayanan Farmasi
Digitalisasi seperti resep elektronik dan Rekam Medis Elektronik (RME) memberikan banyak manfaat, antara lain memperjelas resep, memudahkan pelacakan riwayat pelayanan, dan mempercepat pengecekan ketersediaan obat. Teknologi ini idealnya menyederhanakan pekerjaan dan memberi waktu lebih untuk pelayanan manusia.
Namun, di beberapa puskesmas di Kota Medan, penelitian menunjukkan bahwa tenaga farmasi menghadapi kendala seperti jaringan internet yang tidak stabil, server lambat, gangguan sistem, sarana pendukung terbatas, dan kekurangan tenaga. Kondisi tersebut menyebabkan proses pelayanan menjadi berbelit, seperti keterlambatan penginputan data dan kebutuhan menggunakan resep manual untuk menghindari keterlambatan pasien.
Beban Administratif yang Bertambah
Selain itu, petugas harus mengelola berbagai aplikasi dan pelaporan farmasi yang berbeda dalam format dan waktu pengiriman, sehingga data yang sama harus dimasukkan berkali-kali. Hal ini mengurangi waktu yang seharusnya digunakan untuk pelayanan kefarmasian dan interaksi dengan pasien.
Paradoks Digitalisasi dan Dampaknya pada Pelayanan
Digitalisasi yang seharusnya memangkas birokrasi justru berpotensi menciptakan birokrasi baru jika sistem, manusia, dan proses kerja tidak terintegrasi dengan baik. Padahal, peran apoteker bukan sekadar menyiapkan obat, melainkan juga memberikan konseling, memastikan penggunaan obat yang rasional, memantau terapi, dan mendukung program kesehatan masyarakat, yang semua memerlukan waktu dan interaksi langsung dengan pasien.
Kebutuhan Reformasi Birokrasi Digital
Tantangan utama transformasi digital bukan hanya pada teknologi, tetapi pada bagaimana teknologi dapat mengurangi beban kerja ASN, bukan sekadar memindahkan beban tersebut ke layar komputer. Reformasi birokrasi digital perlu fokus pada integrasi sistem yang ada dengan prinsip “input sekali, digunakan berkali-kali” agar penginputan data tidak berulang-ulang dan pelaporan dapat disederhanakan.
Penguatan kapasitas sumber daya manusia juga penting melalui pelatihan dan pendampingan berkelanjutan. Evaluasi sistem harus melibatkan suara ASN sebagai pengguna sekaligus pasien sebagai penerima manfaat demi memastikan kemudahan dan efektivitas penggunaan di lapangan.
Mewujudkan Digitalisasi yang Manusiawi
Teknologi yang sempurna di atas kertas belum tentu sederhana dan efektif di meja pelayanan. Keberhasilan transformasi digital diukur dari kemampuan teknologi membuat pelayanan lebih cepat, aman, sederhana, dan dekat dengan masyarakat.
Ketika apoteker memiliki waktu lebih untuk mendengarkan keluhan pasien, menjelaskan penggunaan obat, dan memastikan keberhasilan terapi, teknologi telah bekerja sebagaimana mestinya. Sebaliknya, jika layar komputer lebih menyita perhatian daripada pasien, itu berarti transformasi digital masih memiliki pekerjaan rumah besar.
Oleh karena itu, digitalisasi kesehatan di Indonesia harus dibangun tidak hanya dengan teknologi canggih, tetapi juga dengan pendekatan yang memberi manusia lebih banyak waktu untuk memanusiakan manusia, sehingga pelayanan kesehatan primer benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









