Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Sampai Jabodetabek, Ahli Anjurkan Warga Pakai Masker
Suara Pecari, Jakarta – Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau telah menyebar hingga wilayah Jabodetabek, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kondisi ini mulai dirasakan oleh sejumlah warga di daerah tersebut, sehingga para ahli mengimbau agar masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Fakta Sebaran Abu Vulkanik
<pBMKG mencatat sebaran abu vulkanik pada Minggu (6/9/2026) telah memasuki sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat serta perairan sekitarnya. Berdasarkan citra satelit, abu vulkanik terbagi dalam dua kategori berdasarkan ketinggiannya:
- Ketinggian 20 ribu kaki, bergerak ke arah timur laut dan selatan, mencakup sebagian Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.
- Ketinggian 50 ribu kaki, bergerak ke arah barat daya dan barat laut, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu-Lampung-Banten.
Imbauan Ahli Kebencanaan
Daryono, pakar gempa dan tsunami sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menjelaskan bahwa partikel abu vulkanik sangat halus, dengan ukuran kurang dari 2 mm. Oleh karena itu, warga diimbau menggunakan masker jenis N95 atau masker medis serta kacamata pelindung saat beraktivitas di luar ruangan untuk mencegah gangguan pernapasan dan iritasi mata.
Empat Hal Utama yang Perlu Diterapkan Masyarakat:
- Gunakan Alat Pelindung Diri (APD): Masker dan kacamata pelindung wajib dipakai saat berada di luar ruangan.
- Lindungi Sumber Air dan Makanan: Tutup rapat penampungan air bersih dan bahan makanan agar terhindar dari kontaminasi silika dan asam dari abu vulkanik.
- Waspadai Informasi Hoaks: Tetap tenang dan hanya mempercayai informasi resmi dari PVMBG dan BPBD setempat.
- Patuhi Rekomendasi Mitigasi: Hindari mendekati area sekitar Gunung Anak Krakatau sesuai batas aman yang ditetapkan.
Status Gunung Anak Krakatau dan Dampaknya
Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga setelah erupsi pada Sabtu (5/9/2026) malam yang melontarkan lava pijar. Kepala Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati, memastikan tidak ada potensi keruntuhan tubuh gunung dalam skala yang dapat memicu tsunami saat ini. Masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung tersebut.
Akibat erupsi ini, Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara selama delapan jam pada Minggu (6/9/2026) pagi, yang berdampak pada ratusan penerbangan dan puluhan ribu penumpang pesawat.
Pentingnya Kepedulian dan Kewaspadaan
Dengan sebaran abu vulkanik yang telah mencapai wilayah Jabodetabek, kewaspadaan warga sangat diperlukan untuk mencegah gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan iritasi mata. Penggunaan masker dan perlindungan diri lainnya menjadi langkah utama yang harus diambil.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dari instansi berwenang dan tidak mudah terpengaruh oleh berita hoaks yang dapat menimbulkan kepanikan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










