Belajar dari Tragedi Sampurna: Pentingnya Pendekatan One Health untuk Deteksi Dini Risiko Kesehatan akibat Karhutla

Belajar dari Tragedi Sampurna: Pentingnya Pendekatan One Health untuk Deteksi Dini Risiko Kesehatan akibat Karhutla

Suara Pecari, Kalimantan Barat – Kematian orangutan Kalimantan bernama Sampurna akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi peringatan penting akan ancaman serius yang ditimbulkan karhutla tidak hanya bagi satwa liar tetapi juga kesehatan manusia. Sampurna ditemukan dalam kondisi lemas dan tidak sadarkan diri di kebun kelapa sawit pada 30 Agustus 2026 dan meninggal dua hari kemudian akibat kerusakan paru-paru yang parah karena paparan asap tebal.

Peristiwa ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan terpadu ‘One Health’ yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam upaya deteksi dini dan mitigasi risiko kesehatan akibat karhutla. Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Jawa Barat, drh. Mirjawal, M.M., menegaskan bahwa gangguan pernapasan yang dialami satwa liar seperti orangutan merupakan indikator awal bahaya kualitas udara yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Ketika satwa liar menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan, hal tersebut harus direspon sebagai peringatan terhadap potensi risiko kesehatan manusia.

Pentingnya Sistem Surveilans Terpadu

Mirjawal menekankan bahwa data kualitas udara, kondisi kesehatan manusia, satwa, dan ekosistem harus dianalisis secara bersama-sama melalui sistem surveilans terpadu. Satwa liar tidak dapat menyampaikan secara langsung bahwa kondisi udara berbahaya, sehingga perubahan perilaku dan kondisi tubuh mereka menjadi sinyal penting yang perlu diperhatikan oleh manusia dan pihak terkait.

Untuk menindaklanjuti hal tersebut, penguatan sistem pelaporan dan penyelamatan satwa terdampak karhutla dilakukan secara intensif. Kementerian Kehutanan memperkuat jalur pelaporan melalui call center yang disosialisasikan secara masif agar masyarakat dapat segera melaporkan apabila menemukan satwa liar terdampak. Nomor call center yang dikelola Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah menjadi jalur utama dalam koordinasi penyelamatan.

Kolaborasi dan Penguatan Satgas Penyelamatan

Upaya penyelamatan satwa liar, khususnya orangutan yang terdampak karhutla, dilakukan melalui kolaborasi antara Kementerian Kehutanan, BKSDA, dan sejumlah organisasi konservasi seperti Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Orangutan Foundation International (OFI), dan OFI UK. Satgas penyelamatan satwa liar di Kalimantan Tengah diperkuat dengan meningkatkan frekuensi patroli, kesiapan tenaga medis, dan ketersediaan peralatan medis seperti tabung oksigen dan nebulizer untuk menangani gangguan pernapasan akibat asap karhutla.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan kolaborasi erat agar penyelamatan satwa liar berjalan efektif dan dampak karhutla dapat diminimalisasi. Selain pemadaman dan pencegahan kebakaran, penanganan medis dan evakuasi satwa menjadi fokus utama agar satwa yang terdampak dapat segera mendapatkan pertolongan.

Dampak Karhutla terhadap Kesehatan Manusia dan Satwa

Kebakaran hutan seluas ribuan hektare di beberapa wilayah seperti Riau dan Kalimantan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sekolah pun harus digelar secara daring untuk menghindari paparan asap berbahaya. Hal ini menguatkan urgensi mengintegrasikan data kesehatan manusia dan satwa melalui pendekatan One Health agar respons terhadap risiko kesehatan dapat lebih cepat dan tepat sasaran.

Tragedi Sampurna menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan satwa liar adalah bagian penting dalam menjaga kesehatan keseluruhan ekosistem dan manusia. Upaya deteksi dini melalui sistem surveilans terpadu, pelaporan cepat, dan kolaborasi multi-sektor menjadi kunci dalam menghadapi dampak karhutla yang semakin mengancam.

Dengan pendekatan yang holistik dan sinergis, risiko kesehatan akibat karhutla dapat diminimalisasi, sekaligus menjaga kelestarian satwa liar dan kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *