Wamenkes Ungkap Lonjakan Percobaan Bunuh Diri pada Siswa Usia 11-17 Tahun
Suara Pecari – Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan adanya peningkatan signifikan dalam pikiran dan percobaan bunuh diri di kalangan siswa usia 11-17 tahun. Data dari Global School-Based Student Health Survey (GSHS) antara 2015 dan 2023 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan terkait kesehatan mental remaja.
Peningkatan Pikiran dan Percobaan Bunuh Diri
Berdasarkan survei GSHS, persentase siswa yang memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup naik dari 5,4 persen pada tahun 2015 menjadi 8,5 persen pada tahun 2023, atau meningkat sekitar 1,6 kali lipat. Lebih serius lagi, siswa yang mencoba mengakhiri hidup mengalami kenaikan hingga 2,7 kali lipat, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.
Kelompok Usia Rentan
Dante menegaskan bahwa kelompok usia 11 sampai 17 tahun merupakan masa yang sangat rentan terhadap percobaan bunuh diri. Usia tersebut merupakan periode penting dalam perkembangan psikologis remaja yang memerlukan perhatian khusus dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Masalah Kesehatan Jiwa yang Tidak Terlihat
Wamenkes juga menyoroti fakta bahwa masalah kesehatan mental seringkali tidak tampak secara fisik. Seseorang dapat terlihat sehat secara fisik namun mengalami kesulitan mental yang serius. Kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau status sosial ekonomi.
Pentingnya Kesadaran dan Dukungan
Kondisi ini menuntut peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di lingkungan sekolah dan keluarga. Penanganan yang tepat dan dukungan psikososial sangat penting untuk mencegah dampak serius dari masalah ini.
Data dan Fakta Resmi
- Persentase siswa berpikir untuk bunuh diri naik 1,6 kali lipat (5,4% tahun 2015 menjadi 8,5% tahun 2023).
- Persentase siswa mencoba bunuh diri naik 2,7 kali lipat (3,9% tahun 2015 menjadi 10,7% tahun 2023).
- Kelompok usia 11-17 tahun paling rentan.
Peningkatan ini menjadi peringatan penting bagi semua pihak agar lebih peka dan responsif terhadap kondisi kesehatan mental remaja. Upaya kolaboratif dari pemerintah, sekolah, keluarga, serta masyarakat luas sangat diperlukan untuk menangani isu ini secara efektif dan menyeluruh.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










