Astronaut Bisa Kena Sembelit di Luar Angkasa, Sistem Pencernaan Kacau Balau

Astronaut Bisa Kena Sembelit di Luar Angkasa, Sistem Pencernaan Kacau Balau

Suara PecariAstronaut mengalami masalah sembelit dan gangguan sistem pencernaan ketika berada di luar angkasa akibat kondisi gravitasi mikro. Fenomena ini menjadi tantangan kesehatan penting selama misi luar angkasa, termasuk di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Sistem Pencernaan Terpengaruh Gravitasi Mikro

Di lingkungan tanpa gravitasi seperti ISS, cairan dalam tubuh astronaut bergeser ke arah atas tubuh, menyebabkan isi lambung dan usus tidak tersusun rapat seperti di Bumi. Hal ini membuat sistem pencernaan harus sepenuhnya mengandalkan gerakan peristaltik untuk mendorong makanan sepanjang saluran cerna tanpa bantuan gravitasi.

Kondisi ini memicu terjadinya “sendawa basah” dan memperlambat proses pencernaan, sehingga astronaut sering mengalami sembelit selama misi mereka.

Perubahan Bakteri Usus dan Fermentasi Protein

Penelitian kolaborasi NASA dan University of Copenhagen menunjukkan bahwa bakteri usus astronaut berubah cara kerjanya di luar angkasa. Mereka memfermentasi protein lebih intens dibandingkan saat di Bumi, bahkan ketika asupan serat makanan belum habis dicerna.

Fenomena fermentasi protein berlebih ini diduga akibat makanan bergerak lebih lambat di usus yang dipicu oleh minimnya gravitasi. Kondisi ini bukan hanya menyebabkan sembelit, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang, seperti gangguan konsentrasi, suasana hati, dan kerusakan ginjal jika berlangsung lama.

Risiko Jangka Panjang untuk Misi Luar Angkasa Jarak Jauh

Dampak fermentasi protein berlebih menjadi perhatian serius bagi misi luar angkasa jangka panjang, seperti rencana pengiriman manusia ke Mars, di mana astronaut akan hidup dalam kondisi gravitasi mikro lebih lama dibanding di ISS.

Penggunaan Toilet di Luar Angkasa

Selain masalah pencernaan, penggunaan toilet di luar angkasa juga memerlukan teknik khusus. Toilet di ISS menggunakan aliran udara untuk menggantikan fungsi gravitasi dalam mengarahkan limbah tubuh astronaut.

  • Urine disedot melalui selang khusus ke sistem daur ulang air (ECLSS).
  • Kotoran padat dikumpulkan dalam kantong kedap udara untuk mencegah bau menyebar.
  • Toilet memiliki drum berputar yang memisahkan cairan dari udara agar air dapat disaring dan diolah ulang menjadi air minum.

Astronaut juga harus belajar memposisikan tubuh dengan tepat menggunakan kedua tangan untuk menstabilkan diri dan memastikan limbah tepat masuk ke lubang toilet. Latihan ini dilakukan sebelum dan selama misi, dengan beberapa astronaut baru merasa lebih nyaman melepas pakaian bawah saat mencoba pertama kali.

Kesimpulan

Gangguan sistem pencernaan seperti sembelit merupakan efek samping nyata dari kehidupan di luar angkasa yang berhubungan dengan gravitasi mikro. Perubahan fungsi bakteri usus dan perlambatan pergerakan makanan menjadi penyebab utama. Memahami dan mengatasi masalah ini penting untuk kesehatan astronaut, khususnya dalam misi luar angkasa jangka panjang yang akan datang.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *