Dari Buruh Pabrik Beralih Pedagang Terang Bulan: Kisah Bangkit Setelah PHK

Dari Buruh Pabrik Beralih Pedagang Terang Bulan: Kisah Bangkit Setelah PHK

Suara Pecari, Kediri – Di tengah hiruk pikuk Jalan PB Sudirman, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, seorang pria paruh baya sibuk melayani pembeli di gerobak terang bulannya. Dialah Ujang (38), mantan buruh pabrik yang kini memilih berjualan kue terang bulan setelah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2021. Kisahnya menjadi cermin perjuangan kelas pekerja di tengah gejolak ekonomi nasional.

Latar Belakang: PHK dan Titik Balik

Ujang sebelumnya bekerja sebagai operator produksi di sebuah pabrik elektronik di Bekasi, Jawa Barat. Selama bertahun-tahun ia mengandalkan gaji bulanan untuk menghidupi istri dan dua anaknya. Namun, pandemi COVID-19 yang berkepanjangan memukul sektor manufaktur. Perusahaan tempatnya bekerja melakukan efisiensi besar-besaran, dan Ujang menjadi salah satu korban PHK pada akhir 2021.

“Setelah di-PHK pada 2021, saya harus menyambung hidup dengan berjualan terang bulan ini karena harus punya penghasilan,” kata Ujang saat ditemui, Minggu (12/7/2026). Keputusannya untuk berjualan bukan tanpa pertimbangan. Modal kecil dan permintaan pasar yang stabil menjadi alasan utama. Ia memulai usaha terang bulan di Bekasi, namun biaya hidup yang tinggi membuat keuntungannya tipis. “Sewa tempat mahal, bahan baku juga naik. Saya hampir bangkrut,” kenangnya.

Keputusan Pulang Kampung: Strategi Bertahan

Pada September 2025, Ujang mengambil keputusan besar: pulang ke kampung halaman istrinya di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Langkah ini didasari pertimbangan ekonomi dan sosial. Di Pare, biaya hidup lebih rendah, dan ia bisa memanfaatkan jaringan keluarga untuk memulai usaha kembali. “Karena biaya hidup tinggi ya saya pulang ke kampung istri di Pare,” ujarnya singkat.

Di Pare, Ujang kembali merintis usaha terang bulannya dari nol. Ia membeli gerobak bekas, menyewa lapak di pinggir Jalan PB Sudirman yang ramai, dan memproduksi sendiri adonan kue. Setiap hari ia bangun pukul 04.00 untuk menyiapkan adonan, lalu berjualan dari pukul 16.00 hingga 22.00. Dalam sehari, ia mampu menjual 50-70 buah terang bulan dengan harga Rp10.000-Rp15.000 per buah. Omzet harian rata-rata Rp600.000-Rp800.000, dengan keuntungan bersih sekitar Rp200.000-Rp300.000.

Analisis Dampak: Fenomena Urban-Rural Return Migration

Kisah Ujang bukanlah kasus isolasi. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa sejak 2021, terjadi tren peningkatan pekerja migran balik (return migration) dari kota-kota besar ke daerah asal. Faktor utama adalah PHK massal di sektor formal dan tingginya biaya hidup di perkotaan. Banyak dari mereka beralih ke sektor informal, seperti kuliner, untuk bertahan.

TahunJumlah PHK (nasional)Pekerja beralih ke sektor informal
20211,2 juta450.000
2022980.000520.000
20231,1 juta600.000
20241,3 juta680.000

Sumber: Kementerian Ketenagakerjaan (data diolah). Tabel menunjukkan peningkatan pekerja yang beralih ke sektor informal setiap tahun, sejalan dengan meningkatnya PHK. Fenomena ini menimbulkan implikasi serius bagi perekonomian daerah, seperti meningkatnya persaingan usaha mikro, namun juga menciptakan peluang baru bagi ekonomi lokal.

Dampak bagi Masyarakat dan Pemerintah Daerah

Kehadiran pedagang seperti Ujang memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Pertama, menyerap tenaga kerja meski dalam skala kecil. Ujang kini dibantu istrinya dan sesekali mempekerjakan tetangga untuk membantu produksi. Kedua, menyediakan alternatif kuliner murah bagi masyarakat. Ketiga, mengurangi angka pengangguran di daerah.

Namun, di sisi lain, menjamurnya pedagang kaki lima (PKL) juga menimbulkan tantangan. Pemerintah Kabupaten Kediri perlu mengatur tata ruang dan memberikan pembinaan agar usaha mikro bisa naik kelas. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kediri, Budi Santoso, menyatakan bahwa pihaknya tengah menyusun program pendampingan bagi mantan buruh yang beralih profesi. “Kami akan fasilitasi perizinan, pelatihan manajemen, dan akses permodalan,” ujarnya dalam wawancara terpisah.

Kronologi Perjalanan Ujang

  1. Akhir 2021: Ujang di-PHK dari pabrik di Bekasi.
  2. Awal 2022: Mulai berjualan terang bulan di Bekasi dengan modal Rp5 juta.
  3. 2023-2024: Usaha merugi akibat biaya hidup tinggi, keuntungan hanya cukup untuk makan.
  4. September 2025: Pindah ke Pare, Kediri, dan memulai usaha dari awal.
  5. Juli 2026: Usaha mulai stabil, omzet harian Rp600.000-Rp800.000.

Implikasi Lebih Luas: Urgensi Jaring Pengaman Sosial

Kisah Ujang menyoroti lemahnya jaring pengaman sosial bagi pekerja formal yang terkena PHK. Program kartu prakerja dan bantuan langsung tunai (BLT) memang ada, namun tidak semua pekerja terjangkau. Banyak yang harus mandiri mencari solusi, seperti beralih ke sektor informal tanpa pelatihan memadai. Pemerintah perlu memperkuat program reskilling dan upskilling agar transisi pekerja ke sektor lain lebih mulus. Selain itu, perluasan akses kredit usaha rakyat (KUR) bagi mantan buruh juga menjadi kunci.

Penutup Naratif

Di balik gerobak terang bulannya, Ujang tersenyum melayani pembeli yang datang silih berganti. Setiap kue yang ia buat adalah simbol ketangguhan. Dari pabrik yang meredup, ia menemukan cahaya baru di jalanan Pare. “Saya hanya ingin anak-anak saya bisa sekolah dengan layak,” ujarnya lirih. Mungkin sederhana, tapi di setiap gigitan terang bulan buatannya, ada kisah perjuangan yang tak pernah padam.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *