Praka Aprianus, Prajurit TNI Asal Sintang Gugur di Papua demi Membantu Ekonomi Keluarga

Praka Aprianus, Prajurit TNI Asal Sintang Gugur di Papua demi Membantu Ekonomi Keluarga

Suara Pecari | Praka Aprianus, prajurit TNI asal Sintang, Kalimantan Barat, gugur pada 29 April 2026 saat menjalankan tugas di Kabupaten Nduga, Papua.

Kematian tersebut dikonfirmasi oleh Komandan Kodim 1205/Sintang, Letkol Arm Anggit Wijaksono, yang menyatakan Praka tewas akibat tembakan di leher dan tidak berhasil diselamatkan meski dievakuasi ke Timika.

Praka merupakan anak bungsu dan satu-satunya laki-laki dalam keluarga, lahir di Desa Pakak, Kecamatan Kayan Hilir, dan tumbuh dalam keluarga penjual sayur.

Ibunya, Agnes, sempat menolak ide anaknya menjadi tentara, menyarankan kuliah atau menjadi pastor, namun Praka menegaskan ingin segera bekerja untuk membantu ekonomi rumah tangga.

Keinginan itu mendorongnya mencoba seleksi TNI berulang kali; setelah dua kegagalan dan satu percobaan di kepolisian, ia akhirnya lulus pada 2021 dan resmi menjadi prajurit. Seleksi tersebut melibatkan tes kebugaran, psikologi, dan wawancara yang menuntut ketahanan fisik serta mental.

Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan keluarga; kakak perempuannya, Margareta, mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian Praka meski harus berjuang keras.

Pada 29 April, Praka terlibat dalam operasi kontak tembak di daerah pegunungan Nduga, di mana ia terkena tembakan leher dan langsung dikerahkan helikopter Medevac ke Timika.

Tim medis di Timika tidak dapat menyelamatkan nyawanya, dan jenazahnya direncanakan diterbangkan ke Pontianak pada 30 April sebelum dilanjutkan ke Sintang.

Keluarga menerima kabar pertama dari pacar Praka yang tinggal di Manado, bukan melalui saluran resmi, sehingga mereka harus menunggu konfirmasi lebih lanjut.

Margareta memutuskan menunggu orangtua sampai pulang dari pasar sebelum menyampaikan berita duka, demi memberi mereka waktu bersiap.

Jenazah akan disimayamkan di Gereja Katedral Sintang sebelum dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Syuhada Pertiwi, sebagai penghormatan negara.

Hingga kini, keluarga belum memperoleh penjelasan rinci dari pihak berwenang mengenai kronologi tembakan yang menewaskan Praka. Pihak militer belum memberikan laporan resmi tentang identitas penembak atau latar belakang insiden.

Peristiwa ini menegaskan risiko tinggi yang dihadapi prajurit TNI di wilayah konflik Papua serta menambah beban emosional bagi keluarga yang mengandalkan mereka sebagai penyokong ekonomi.

Meskipun kehilangan besar, keluarga menegaskan tekad untuk meneruskan semangat Praka, yang mengabdikan dirinya demi kesejahteraan orang tua dan adik‑adik.

Tinggalkan Balasan