Pekerja Konstruksi IKN Tempati 35 Tower, 4 Tower Khusus Perempuan
Suara Pecari, Jakarta – Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menyiapkan Hunian Pekerja Konstruksi (HPK) yang menerapkan kebijakan responsif gender. Saat ini, 35 tower hunian telah ditempati, dengan 4 tower khusus perempuan yang berada di kawasan HPK 2.
Sebanyak 716 perempuan (16,6 persen) dan 3.586 laki-laki (83,4 persen) menghuni kawasan HPK. Pelaksana Tugas Direktur Pengelolaan Gedung, Kawasan, dan Perkotaan Otorita IKN, Cakra Nagara, menyatakan bahwa pendekatan ini bertujuan menciptakan lingkungan hunian yang aman dan mendukung produktivitas seluruh pekerja.
Fasilitas dan Kebijakan Gender
Hunian Pekerja Konstruksi merupakan fasilitas tempat tinggal bagi pekerja yang terlibat dalam pembangunan IKN, mulai dari tenaga konstruksi, petugas keamanan, petugas kebersihan, hingga tenaga pendukung lainnya. Seluruh kawasan dikelola melalui sistem building management untuk memastikan pengelolaan fasilitas, keamanan, dan layanan berjalan profesional. Fasilitas pendukung seperti kantin, masjid, dan taman juga tersedia.
Empat tower khusus perempuan dirancang untuk menjaga privasi dan meningkatkan rasa aman. Petugas keamanan perempuan ditempatkan di area hunian perempuan, sementara petugas housekeeping disesuaikan berdasarkan gender dan lokasi kerja. Kamera pengawas (CCTV) dipasang di area publik sebagai bagian dari sistem keamanan.
Aturan Ketat di Tower Perempuan
Salah seorang Petugas Keamanan Perempuan HPK 2, Nirwana, menjelaskan bahwa aturan di tower perempuan sangat ketat. “Kalau di tower perempuan, laki-laki itu tidak boleh masuk tanpa pengawalan oleh security. Peraturan itu dibuat agar penghuni nyaman, tertib dan aman,” ujarnya.
Kebijakan ini dirasakan langsung oleh penghuni seperti Sri, yang telah tinggal sekitar satu tahun. “Sejak pertama datang saya memang langsung ditempatkan di area perempuan. Jadi selama tinggal di sini terasa lebih nyaman karena tidak bercampur dengan penghuni laki-laki,” kata Sri.
Keamanan dan Kenyamanan Terjaga
Sri mengaku tidak pernah mengalami gangguan selama beraktivitas. “Keberadaan petugas keamanan dan CCTV cukup membantu menjaga lingkungan tetap aman. Kalau ada kejadian biasanya bisa ditelusuri melalui rekaman CCTV,” jelasnya.
Bagi Sri, rasa aman merupakan kebutuhan dasar. “Semua orang tentu membutuhkan rasa aman,” tuturnya. Lingkungan hunian yang nyaman membuat pekerja dapat beristirahat dengan tenang sebelum kembali menjalankan aktivitas pembangunan Ibu Kota Nusantara.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










