BMKG Peringatkan Potensi Hujan di Beberapa Wilayah Meski El Nino Kuat pada 2026
Suara Pecari – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan masyarakat mengenai potensi hujan yang masih dapat terjadi di beberapa wilayah Indonesia meskipun fenomena El Nino kuat diprediksi berlangsung hingga akhir tahun 2026. Fenomena ini menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang dan curah hujan yang rendah di sebagian besar daerah.
Analisis terbaru BMKG menunjukkan bahwa selama periode Juli hingga Agustus 2026, sekitar 73,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau dengan dominasi curah hujan rendah mencapai 80,77 persen. Meskipun demikian, ada wilayah tertentu yang masih berpotensi menerima hujan hingga 13 Agustus 2026, sehingga masyarakat di daerah tersebut perlu tetap waspada terhadap perubahan cuaca.
Fenomena El Nino Kuat dan Dampaknya di Indonesia
Fenomena El Nino kategori kuat yang sedang berlangsung ini menyebabkan kondisi atmosfer menjadi lebih kering dari rata-rata normal. Curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori bawah normal, yang berkontribusi pada risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla), khususnya di Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur.
Selain itu, citra satelit menunjukkan sebaran asap akibat kebakaran di beberapa wilayah seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. BMKG mengimbau agar masyarakat dan pihak terkait meningkatkan kewaspadaan dan tindakan mitigasi untuk menghadapi potensi bencana ini.
Perkiraan WMO dan Prediksi BMKG Terkait El Nino
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan El Nino akan terus menguat hingga Oktober 2026, dengan anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuatorial yang mencapai lebih dari 2,9 derajat Celsius. Kondisi ini diperparah oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif dan suhu laut Atlantik Tropis yang lebih hangat dari rata-rata normal, yang menambah potensi bencana ekstrem seperti kekeringan dan kebakaran hutan di wilayah sekitar Samudra Hindia, termasuk Indonesia.
BMKG juga memperkirakan dampak El Nino akan mulai mereda saat memasuki musim hujan pada minggu ketiga Oktober 2026, meskipun fenomena ini akan tetap aktif hingga Mei 2027. Curah hujan yang rendah diprediksi masih akan terjadi pada Agustus dan September 2026, dengan peningkatan curah hujan baru mulai terjadi pada Oktober hingga November.
Wilayah yang Tetap Berpotensi Hujan dan Kebal terhadap Kekeringan
Meski sebagian besar wilayah mengalami musim kemarau panjang dan curah hujan yang rendah akibat El Nino, terdapat beberapa daerah yang diprediksi tetap menerima hujan. Informasi rinci mengenai wilayah-wilayah tersebut penting untuk menjadi acuan dalam pengelolaan sumber daya air dan mitigasi risiko bencana.
Dampak El Nino terhadap Sektor Vital
Dampak El Nino tidak hanya terbatas pada kondisi meteorologi, tetapi juga meluas ke berbagai sektor seperti sumber daya air, kehutanan, energi, kesehatan, ekonomi, dan pangan. Pada puncak El Nino kuat sebelumnya, seperti tahun 2015 dan 2023, kebakaran hutan dan lahan mencapai jutaan hektare, yang menimbulkan kerugian besar dan memerlukan penanganan serius.
BMKG bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah merumuskan langkah respons kebijakan untuk menghadapi dampak El Nino 2026, yang mencakup mitigasi risiko dan adaptasi di berbagai sektor pembangunan utama.
Peringatan dan Imbauan dari BMKG dan PBB
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa El Nino 2026 saat ini berada pada kategori kuat dengan indeks ENSO +1,59 dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Peringatan ini sejalan dengan peringatan dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, yang menekankan perlunya penghentian ekspansi penggunaan bahan bakar fosil untuk mengurangi pemanasan global dan dampak ekstrim El Nino.
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang diprediksi mengalami kekeringan lebih lama dan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Dengan pemahaman yang tepat dan kesiapsiagaan yang matang, dampak negatif El Nino dapat diminimalisasi demi menjaga keberlangsungan kehidupan dan pembangunan di Indonesia.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.







