KSAL Ungkap Alasan Teluk Ratai Lampung Dipilih Jadi Markas Garibaldi

KSAL Ungkap Alasan Teluk Ratai Lampung Dipilih Jadi Markas Garibaldi

Suara Pecari, Jakarta – Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengungkapkan alasan pemilihan Teluk Ratai di Lampung sebagai pangkalan bagi kapal induk ringan ITS Giuseppe Garibaldi, yang akan berganti nama menjadi KRI Sriwijaya. Faktor utama yang menjadi pertimbangan adalah kedalaman perairan yang memadai, akses navigasi yang baik, dan posisi geografis yang relatif terlindung.

Menurut KSAL Muhammad Ali, kedalaman perairan di Teluk Ratai mencapai sekitar 8 hingga 8,5 meter, cukup untuk mendukung kapal dengan draft serupa. Selain itu, akses navigasi ke lokasi tersebut dinilai sangat baik, memudahkan manuver kapal induk yang memiliki bobot hampir 14 ribu ton tersebut.

Faktor Pemilihan Teluk Ratai sebagai Pangkalan

  • Kedalaman Laut: Kedalaman sekitar 8 hingga 8,5 meter memungkinkan kapal induk Garibaldi untuk bersandar dengan aman.
  • Geografis Strategis: Lokasi yang terlindung meminimalkan risiko dari kondisi cuaca buruk dan memberikan perlindungan alami.
  • Akses Navigasi: Jalur masuk dan keluar perairan yang baik memudahkan pergerakan kapal.

Pembangunan pangkalan militer atau lanal di Lampung terus disempurnakan agar siap menampung kapal induk tersebut. Meski demikian, Lampung tidak akan menjadi satu-satunya pangkalan kapal induk yang disiapkan oleh TNI AL. Beberapa lokasi alternatif juga tengah dipertimbangkan untuk penempatan kapal induk secara permanen.

Peran dan Fungsi Kapal Induk Garibaldi

Kapal induk ini akan difokuskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya dalam penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan. Dengan kapasitas mampu membawa hingga 14 helikopter kelas menengah atau berat, serta drone, kapal ini akan memperkuat distribusi logistik di wilayah yang sulit dijangkau.

Selain itu, kapal sepanjang 180,2 meter dengan lebar 33,4 meter ini juga dilengkapi sistem penggerak super yang menghasilkan kecepatan maksimum 30 knot (sekitar 56 km/jam). Kapal ini akan mendukung modernisasi Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL, dengan dilengkapi berbagai persenjataan seperti rudal antipesawat dan torpedo.

Proses Reflagging dan Penempatan Kapal

Setelah tiba di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, kapal induk Garibaldi masih mengibarkan bendera Italia. Seremoni reflagging atau pergantian bendera menjadi milik Republik Indonesia dijadwalkan pada 24 September 2026, yang akan dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto. Pada saat itu, kapal akan resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya dan masuk dalam jajaran armada TNI AL.

Untuk sementara, kapal induk ini akan masuk ke dalam Satuan Kapal Bantu sambil dipertimbangkan penempatan satuan yang paling tepat, baik di Komando Armada (Koarmada) atau Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil).

Persiapan Pengawalan Kapal Induk

KSAL Muhammad Ali menjelaskan bahwa ketika kapal induk ini digunakan untuk operasi militer perang, pengawalan sangat diperlukan. Namun, kapal pengawal tidak harus berupa destroyer; fregat dengan kemampuan senjata anti-udara, anti-kapal selam, anti-kapal permukaan, dan perang elektronik juga dapat mengawal kapal induk ini.

Dengan berbagai persiapan dan pertimbangan tersebut, penempatan kapal induk Garibaldi di Teluk Ratai, Lampung, diharapkan mampu mendukung operasi militer dan kemanusiaan secara optimal di wilayah Indonesia.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *