Basarnas Berhasil Evakuasi 3 Jenazah Korban KM Virgo di Kedalaman 24 Meter

Basarnas Berhasil Evakuasi 3 Jenazah Korban KM Virgo di Kedalaman 24 Meter

Suara Pecari – Tim SAR gabungan yang dipimpin oleh Basarnas berhasil mengevakuasi tiga jenazah korban kecelakaan Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 yang tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa. Evakuasi dilakukan pada Jumat, 18 September 2026, di kedalaman sekitar 24 meter setelah kondisi cuaca mendukung operasi penyelaman.

Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo Nur Sasongko, menjelaskan bahwa satu jenazah laki-laki berhasil dievakuasi pada pukul 12.28 Wita, diikuti oleh dua jenazah lainnya pada pukul 13.10 Wita. Ketiga korban ditemukan dalam ruangan kapal dalam kondisi terjebak, sehingga tim penyelam harus memecahkan kaca jendela kapal untuk mengeluarkan jasad korban.

Operasi penyelaman melibatkan dua tim dari TNI Angkatan Laut, yakni Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Koarmada II, yang bersama Basarnas bekerja sama dalam proses evakuasi. Setelah berhasil dievakuasi, jenazah dipindahkan ke Kapal Negara Republik Indonesia (KRI) I Gusti Ngurah Rai-332 untuk selanjutnya dibawa ke Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.

Situasi dan Progres Operasi SAR KM Virgo

Kecelakaan KM Virgo Transport 8 terjadi saat kapal tersebut berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin dengan membawa 243 penumpang. Kapal dilaporkan mengalami cuaca buruk dan hilang kontak pada 13 September 2026 dini hari. Setelah ditemukan dalam kondisi terbalik di perairan Masalembo, operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan hingga hari keenam.

Hingga Jumat malam, Basarnas telah mengonfirmasi total 117 korban ditemukan, terdiri atas 108 orang selamat dan sembilan orang meninggal dunia. Namun, masih terdapat 126 orang yang belum ditemukan. Basarnas juga berencana melakukan pengangkatan bangkai kapal untuk memudahkan proses pencarian dan evakuasi korban selanjutnya.

Faktor Pendukung dan Tantangan Operasi

Kondisi cuaca yang mendukung pada hari evakuasi menjadi faktor penting keberhasilan operasi penyelaman. Sebelumnya, cuaca buruk serta gelombang tinggi menjadi kendala utama tim SAR dalam memasuki kapal yang tenggelam. Proses evakuasi juga membutuhkan kehati-hatian dan keterampilan khusus karena korban ditemukan dalam ruangan kapal yang terendam air.

Selain itu, keterlibatan berbagai unsur TNI AL dan Basarnas menunjukkan koordinasi yang baik antara instansi dalam menangani bencana laut. Penggunaan peralatan khusus seperti Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB) dan sekoci mendukung kelancaran operasi bawah laut.

Perkembangan Terbaru dan Proyeksi ke Depan

Penemuan tiga jenazah terbaru ini menambah jumlah korban meninggal yang berhasil dievakuasi, namun angka korban yang belum ditemukan masih cukup banyak. Basarnas dan tim SAR terus melanjutkan pencarian dengan tetap memperhatikan faktor keselamatan dan kondisi cuaca.

Pengangkatan bangkai kapal menjadi langkah strategis untuk mempercepat proses pencarian dan memastikan keselamatan para penyelam. Pemerintah dan instansi terkait juga diharapkan dapat memberikan dukungan penuh agar operasi SAR dapat berjalan efektif dan korban dapat segera ditemukan.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan transportasi laut dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana di perairan Indonesia yang rawan cuaca buruk.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *