Pencarian Intensif Jurnalis dan Awak Kapal Hilang di Selat Sunda serta Penemuan Sopir Lajuran Korban Kekerasan di Papua

Pencarian Intensif Jurnalis dan Awak Kapal Hilang di Selat Sunda serta Penemuan Sopir Lajuran Korban Kekerasan di Papua

Suara Pecari, Jakarta – Pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda terus berlanjut lebih dari sepekan sejak kejadian pada 7 September 2026. Sementara itu, di Papua Pegunungan, seorang sopir lajuran ditemukan meninggal dunia di sekitar Danau Habema setelah diduga menjadi korban tindakan kekerasan oleh kelompok bersenjata.

Pencarian Jurnalis dan Awak Kapal di Selat Sunda

<pKelompok jurnalis yang terdiri dari M. Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudhis, Daus, dan Donal bersama tiga awak kapal, yaitu kapten Warta, ABK Surakman, dan pemandu Heriyanto, melakukan perjalanan menggunakan speedboat Arupadhatu 1 dari Carita, Banten, menuju Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas vulkanik. Komunikasi terakhir diterima sekitar pukul 18.13 WIB dengan kondisi aman dan pengiriman foto aktivitas Gunung Anak Krakatau, namun kemudian kontak terputus.

Tim pencarian dibagi dalam lima Search and Rescue Unit (Sru) yang menggunakan berbagai kapal dan peralatan, termasuk KN SAR Tetuka, kapal KAL Anyer milik TNI AL, serta RIB dari Basarnas Lampung. Pencarian difokuskan di jalur perjalanan dari Carita hingga kawasan sekitar Anak Krakatau dan pulau-pulau sekitar.

Penemuan Sopir Lajuran di Papua Pegunungan

Aris Sanda, sopir lajuran asal Toraja, Sulawesi Selatan, ditemukan meninggal dunia di sekitar Danau Habema, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, bersama kendaraannya yang terbakar. Peristiwa ini dilaporkan terjadi pada 15 September 2026 pagi hari sekitar pukul 06.00 WIT setelah Aris diduga menjadi korban kekerasan oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap III Ndugama.

Berdasarkan informasi yang diterima, rombongan kendaraan yang melintas dari Wamena menuju Mbua dihentikan oleh kelompok bersenjata tersebut. Setelah memeriksa pengemudi dan penumpang, kelompok itu mengarahkan penumpang kembali ke Wamena sementara Aris dibawa ke kawasan Danau Habema. Tim TNI segera melakukan evakuasi jenazah dan proses penanganan sesuai prosedur keamanan serta menegakkan hukum terhadap pelaku.

Konteks dan Dampak

Pencarian terhadap jurnalis dan awak kapal di Selat Sunda penting mengingat aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berpotensi berbahaya dan urgensi keselamatan para peliput serta awak kapal. Sementara itu, kasus kekerasan yang menimpa Aris Sanda mencerminkan risiko yang dihadapi sopir lajuran di wilayah Papua Pegunungan yang rawan konflik bersenjata.

Upaya pencarian dan penegakan hukum terus dilakukan oleh instansi terkait untuk memastikan keselamatan masyarakat dan pelaku perjalanan di wilayah tersebut.

Peristiwa ini mengingatkan pentingnya perhatian terhadap keselamatan para pekerja di lapangan dan perlunya langkah mitigasi risiko di daerah rawan bencana maupun konflik.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *