Kebakaran Hutan di Kalimantan Memuncak: 1.487 Hotspot Terdeteksi, Warga Tercekik Asap dan DPR Desak Status Bencana Nasional
Suara Pecari, Kalimantan – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan semakin mengkhawatirkan dengan terdeteksinya 1.487 titik panas (hotspot) yang tersebar di seluruh wilayah. Kondisi ini menyebabkan kabut asap tebal yang mengganggu aktivitas dan kesehatan warga, terutama di daerah seperti Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa konsentrasi hotspot tertinggi berada di Kalimantan Tengah dengan 767 titik, diikuti Kalimantan Barat 560 titik, Kalimantan Selatan dan Timur masing-masing 74 titik, serta Kalimantan Utara 3 titik. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah telah memperketat koordinasi dan meningkatkan kesiapsiagaan untuk mencegah meluasnya kebakaran dan mempercepat penanganan di lapangan.
Upaya Penanganan dan Respons Pemerintah
BNPB bersama pemerintah daerah terus memantau perkembangan titik api dan memetakan wilayah rawan kebakaran. Pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan, melakukan pemantauan dan deteksi dini, serta memastikan ketersediaan sarana dan prasarana pemadaman yang memadai, termasuk personel dan peralatan di lapangan.
Penanganan karhutla di Kalimantan juga menjadi prioritas utama pemerintah. Di beberapa daerah seperti Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, kebakaran masih terjadi di kawasan taman konservasi dengan luas lahan terbakar mencapai 25,29 hektare. BPBD setempat telah melakukan pemadaman melalui jalur darat dan terus melakukan pemantauan pasca pemadaman.
DPR Desak Penetapan Status Bencana Nasional
Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, mendesak pemerintah untuk segera menetapkan karhutla di Kalimantan sebagai bencana nasional. Menurutnya, kebakaran yang semakin parah telah melumpuhkan aktivitas warga dan berdampak buruk pada kesehatan serta perekonomian masyarakat. Ia menekankan pentingnya tindakan cepat dan masif dalam pemadaman, termasuk operasi water bombing dan pengerahan tim darat gabungan dari Manggala Agni, BPBD, serta TNI/Polri untuk memprioritaskan titik api di lahan gambut.
Dampak Kabut Asap bagi Warga
Warga di beberapa wilayah terdampak kabut asap tebal akibat kebakaran, seperti di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Seorang warga di Kompleks Shafwah, Landasan Ulin, menyatakan bahwa jarak pandang di pagi hari hanya sekitar lima meter, hingga rumah tetangga pun tidak terlihat. Kabut asap yang pekat ini mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk pendidikan karena beberapa sekolah di daerah seperti Kabupaten Kubu Raya dan Pontianak harus meliburkan siswa untuk menghindari dampak buruk asap.
Perkembangan Terbaru dan Waspada Cuaca Kemarau
Meski terdapat laporan penurunan jumlah hotspot secara nasional, khususnya di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah yang mengalami penurunan signifikan dalam dua hari terakhir, ancaman karhutla masih tetap ada. Informasi dari BMKG menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan, masih dalam musim kemarau dengan curah hujan rendah dan bawah normal, sehingga potensi kebakaran tetap tinggi.
Hotspot yang terdeteksi merupakan indikasi suhu permukaan yang membutuhkan verifikasi lapangan lebih lanjut untuk memastikan kejadian kebakaran. Oleh karena itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan tetap harus dijaga untuk mengantisipasi risiko kebakaran yang dapat meluas.
Pemerintah bersama berbagai pihak terus berupaya meningkatkan koordinasi dan respons penanganan karhutla demi menjaga kesehatan masyarakat dan mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah di Kalimantan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










