Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Kalimantan dan Papua, Ribuan Penumpang Terdampak
Suara Pecari, Kalimantan dan Papua – Asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu operasional penerbangan di sejumlah bandara di Kalimantan dan Papua. Dampak tersebut menyebabkan pembatalan dan keterlambatan penerbangan yang berdampak pada ribuan penumpang.
Di Bandara Douw Aturure Nabire, Papua Tengah, asap karhutla menyebabkan jarak pandang turun drastis hingga di bawah 70 meter pada Jumat sore (21/8/2026). Kondisi ini jauh di bawah batas minimal operasional penerbangan yang harus mencapai jarak pandang minimal 5 kilometer. Akibatnya, dua penerbangan yaitu Nam Air rute Nabire-Makassar dan Wings Air rute Timika-Nabire dibatalkan, dan bandara ditutup sementara demi keselamatan penumpang dan kru pesawat.
Petugas pemadam kebakaran terus berupaya mencegah api merambat ke area bandara, namun hingga lebih dari satu jam setelah kejadian, jarak pandang di sekitar bandara baru meningkat menjadi sekitar 100 meter, yang masih belum memenuhi standar keselamatan penerbangan. Pengelola bandara belum dapat memastikan kapan operasional penerbangan dapat kembali normal.
Dampak Kabut Asap di Kalimantan Barat
Kabut asap pekat akibat karhutla juga melanda wilayah Kalimantan Barat dan secara signifikan menurunkan jarak pandang di Bandara Supadio Pontianak. Hal ini menyebabkan setidaknya 21 penerbangan mengalami keterlambatan dan beberapa penerbangan dibatalkan sejak beberapa hari terakhir hingga 21 Agustus 2026. Jarak pandang pagi hari di sekitar bandara tercatat di bawah 1.000 meter, jauh di bawah batas aman untuk penerbangan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa pembatalan penerbangan di Kalimantan Barat dilakukan untuk menjaga keselamatan dan bahwa maskapai diminta memantau informasi cuaca dari BMKG secara ketat serta tidak memaksakan penerbangan saat kondisi tidak memungkinkan.
Pengaruh Asap Karhutla terhadap Penerbangan di Kalimantan
Kementerian Perhubungan juga memantau dampak asap karhutla di sejumlah bandara di Kalimantan, termasuk Bandara Singkawang yang mengalami pembatalan penerbangan pada pertengahan hingga akhir Agustus 2026. Jarak pandang yang menurun sampai sekitar 2.000 meter menyebabkan penerbangan dari dan menuju Bandara Singkawang mengalami gangguan, yang berdampak pada ribuan penumpang.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menyatakan bahwa keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama, sehingga maskapai wajib melakukan penyesuaian seperti pembatalan atau pengalihan penerbangan jika jarak pandang tidak memenuhi standar minimal 5.000 meter. Penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan mendapatkan penanganan berupa pengembalian dana penuh (full refund) atau perubahan jadwal penerbangan tanpa biaya tambahan hingga tujuh hari ke depan sesuai kebijakan maskapai.
Upaya Pengendalian dan Pemantauan
Pihak terkait terus melakukan pemantauan dan koordinasi untuk mengantisipasi dampak asap karhutla terhadap operasional penerbangan. Petugas pemadam kebakaran aktif berusaha mengendalikan api agar tidak merambat ke area bandara, sementara instansi penerbangan mengutamakan keselamatan dengan menyesuaikan jadwal penerbangan sesuai kondisi cuaca dan jarak pandang.
Penumpang diimbau untuk selalu memantau informasi terbaru dari maskapai dan BMKG, serta memahami kebijakan pembatalan atau penundaan penerbangan yang diberlakukan demi keselamatan bersama.
Asap karhutla yang meluas tidak hanya mengganggu aktivitas penerbangan, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat di sekitar wilayah terdampak, sehingga penanganan dan mitigasi kebakaran hutan dan lahan harus menjadi prioritas bersama.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










