Rayan Cherki Berseteru dengan Deschamps di Laga Perpisahan yang Memalukan
Suara Pecari, Miami – Perjalanan Prancis di Piala Dunia 2026 berakhir dengan kekalahan memalukan 6-4 dari Inggris dalam perebutan tempat ketiga di Hard Rock Stadium, Sabtu (18/7/2026). Namun, sorotan utama bukan hanya hasil akhir, melainkan insiden ketegangan antara gelandang muda Rayan Cherki dan pelatih Didier Deschamps di pinggir lapangan.
Rayan Cherki, yang baru pertama kali menjadi starter di turnamen ini, tampil buruk pada babak pertama. Ia gagal memberikan kontribusi berarti saat Inggris melesat unggul empat gol melalui Declan Rice, Ezri Konsa, dan dua gol Bukayo Saka. Pada jeda minum babak pertama, kamera menangkap momen ketika Deschamps menghampiri Cherki untuk memberikan instruksi. Alih-alih mendengarkan, Cherki terlihat melambaikan tangan, membalikkan badan, dan meninggalkan pelatihnya. Sikap ini langsung memicu spekulasi mengenai hubungan keduanya yang sudah tegang sejak awal turnamen.
Sebelumnya, pada babak 32 besar melawan Swedia, Rayan Cherki juga dilaporkan mengabaikan Deschamps saat diperkenalkan sebagai pemain pengganti. Kurangnya waktu bermain yang konsisten sepanjang Piala Dunia menjadi sumber frustrasi bagi pemain Manchester City tersebut. Ia lebih sering menjadi cadangan, sementara Michael Olise dan Bradley Barcola lebih dipilih untuk mengisi peran di lini serang.
Usai pertandingan, Deschamps memilih bersikap diplomatis. “Saya tidak akan membalas dendam hari ini,” katanya dalam konferensi pers. “Para pemain sudah sangat paham. Saya tidak akan menyalahkan siapa pun. Namun, saya selalu mengatakan kepada mereka… mereka membutuhkan waktu untuk memprosesnya, tetapi itu adalah kesalahan saya; saya seharusnya membuat pilihan yang berbeda sejak awal pertandingan—Anda bisa mengatakan itu—dan mungkin segalanya akan berjalan lebih baik.”
Media Prancis, L’Équipe, memberikan nilai 2 dari 10 untuk penampilan Rayan Cherki, menyebutnya sebagai “mimpi buruk”. “Dia punya ide bagus untuk bertengkar dengan Deschamps saat jeda,” tulis surat kabar tersebut dengan nada sinis. Jurnalis Hugo Guillemet menambahkan, “Pertandingan ini benar-benar konyol. Sepertinya tidak ada persiapan sama sekali dan setiap orang bertindak sesuka hati.”
Meskipun Prancis sempat bangkit di babak kedua dengan tiga gol beruntun melalui Kylian Mbappe (dua gol) dan Bradley Barcola, Inggris kembali menjauh melalui penalti Saka yang melengkapi hat-tricknya. Ousmane Dembele memperkecil ketertinggalan di masa injury time, tetapi Jude Bellingham memastikan kemenangan 6-4 dengan gol solo yang brilian pada menit ke-90+7.
Kekalahan ini menutup era 14 tahun Deschamps sebagai pelatih kepala Prancis dengan nada pahit. Sementara itu, Rayan Cherki harus menghadapi kritik tajam atas sikapnya yang dianggap tidak profesional. Pertanyaan besar kini muncul: akankah Cherki mampu memperbaiki citranya dan kembali menjadi andalan di masa depan? Ataukah insiden ini menjadi awal dari kehancuran kariernya di tim nasional?
Kesimpulannya, pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 tidak hanya menyajikan drama sepak bola yang menegangkan, tetapi juga mengungkap keretakan hubungan antara generasi muda dan pelatih legendaris Prancis. Bagi Rayan Cherki, ini adalah pelajaran berharga tentang pentingnya sikap hormat dan kerja sama tim, terlepas dari seberapa besar bakat yang dimiliki.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










