BNPB Catat Gempa Sigi Telan Satu Korban Jiwa, Lebih dari 5.700 Warga Terdampak

BNPB Catat Gempa Sigi Telan Satu Korban Jiwa, Lebih dari 5.700 Warga Terdampak

Guncangan Malam yang Menggetarkan Sigi

Suara Pecari | Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Senin malam, 16 Juni 2026, telah meninggalkan duka dan kerusakan yang signifikan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat satu orang meninggal dunia dan lebih dari 5.700 warga terdampak hingga sehari setelah kejadian. Wilayah Sigi, yang berada di jalur patahan aktif, kembali mengingatkan kita pada kerentanan kawasan ini terhadap bencana seismik.

Kronologi Gempa dan Respons Awal

Gempa terjadi pada pukul 22.30 WITA dengan episenter di darat, sekitar 12 kilometer timur laut Kota Palu. Guncangan kuat dirasakan selama beberapa detik, menyebabkan kepanikan massal. Warga berhamburan keluar rumah, dan sebagian memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman. Pemerintah Kabupaten Sigi segera mengaktifkan posko darurat di beberapa titik strategis, termasuk di Kecamatan Dolo dan Kecamatan Sigi Biromaru. Tim reaksi cepat BNPB diterjunkan ke lokasi untuk melakukan asesmen dan koordinasi dengan BPBD setempat.

Korban Jiwa dan Luka-luka

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengonfirmasi bahwa satu korban meninggal dunia tercatat di Kabupaten Sigi. Korban adalah seorang pria berusia 45 tahun yang tertimpa reruntuhan tembok rumahnya. Selain itu, 73 warga mengalami luka ringan dan tiga orang luka berat akibat tertimpa bangunan. Seluruh korban luka telah mendapatkan penanganan medis di puskesmas dan rumah sakit terdekat. BNPB terus memutakhirkan data, mengingat masih ada kemungkinan penambahan korban dari desa-desa terpencil yang belum terjangkau.

Dampak Terhadap Masyarakat: 5.784 Jiwa Terdampak

Berdasarkan data sementara, gempa ini berdampak pada 1.834 kepala keluarga atau sekitar 5.784 jiwa yang tersebar di 33 desa. Banyak warga yang masih memilih bertahan di luar rumah karena khawatir akan gempa susulan. Hingga Selasa siang, BMKG mencatat telah terjadi 15 kali gempa susulan dengan magnitudo antara 3,2 hingga 5,1. Kondisi ini membuat warga enggan kembali ke rumah, terutama mereka yang rumahnya mengalami kerusakan struktural.

Kerusakan Bangunan dan Fasilitas Umum

Gempa menyebabkan kerusakan yang cukup meluas. Berikut adalah data kerusakan bangunan yang dirangkum BNPB:

Jenis BangunanRusak RinganRusak SedangRusak Berat
Rumah Warga1.074 unit110 unit30 unit
Fasilitas Ibadah33 unit (berbagai tingkat kerusakan)
Fasilitas PublikMasih dalam pendataan

Selain rumah, fasilitas ibadah seperti masjid dan gereja juga mengalami kerusakan. Beberapa di antaranya mengalami dinding roboh, retak parah, hingga kerusakan struktur. Fasilitas publik seperti sekolah dan puskesmas juga dilaporkan rusak, namun data detail masih dikumpulkan oleh tim di lapangan.

Upaya Penanganan Darurat dan Bantuan

Pemerintah Kabupaten Sigi telah mendirikan posko darurat di dua lokasi, yaitu di Kecamatan Dolo dan Kecamatan Sigi Biromaru. BNPB mengirimkan bantuan awal berupa:

  • Tenda multifungsi dan tenda keluarga untuk pengungsian.
  • Sembako, matras, selimut, dan kasur lipat untuk memenuhi kebutuhan dasar.
  • Tim medis dan relawan untuk membantu evakuasi dan perawatan korban.

Bantuan diprioritaskan bagi warga yang rumahnya mengalami rusak berat dan belum dapat dihuni. BNPB juga memastikan bahwa skema perbaikan rumah akan diberikan sesuai tingkat kerusakan: Rp15 juta untuk rusak ringan, Rp30 juta untuk rusak sedang, dan Rp60 juta untuk rusak berat atau pembangunan rumah baru. Proses ini akan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah dan kementerian terkait.

Dampak dan Implikasi Lebih Luas

Gempa Sigi tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tetapi juga psikologis dan ekonomi. Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, terutama petani dan nelayan yang bergantung pada kondisi lingkungan yang stabil. Kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan juga menghambat distribusi bantuan dan mobilitas warga. Pemerintah perlu segera melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi untuk memulihkan roda perekonomian. Selain itu, trauma psikologis akibat gempa perlu ditangani melalui layanan konseling dan dukungan sosial. Pengalaman gempa besar tahun 2018 yang diikuti tsunami masih membekas di benak warga Palu dan Sigi, sehingga kejadian ini menambah beban psikologis mereka.

Peringatan dan Kewaspadaan

Meskipun kondisi penanganan darurat dinilai terkendali, BNPB tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta untuk tidak memasuki bangunan yang rusak sebelum dinyatakan aman oleh petugas. Masyarakat juga diingatkan untuk selalu menyiapkan tas siaga bencana dan mengikuti arahan dari pihak berwenang. Gempa susulan masih mungkin terjadi, sehingga penting untuk tetap tenang dan waspada.

Di tengah cobaan ini, solidaritas dan gotong royong masyarakat Sigi kembali teruji. Bantuan berdatangan dari berbagai pihak, baik pemerintah, swasta, maupun relawan. Semoga proses pemulihan berjalan cepat dan masyarakat Sigi dapat bangkit kembali. Gempa ini menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di kawasan rawan gempa, dan kesiapsiagaan bencana harus terus ditingkatkan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan