Kemarau Picu Gagal Tanam, Petani di Kaur Alami Kerugian

Kemarau Picu Gagal Tanam, Petani di Kaur Alami Kerugian

Kemarau Panjang Hantui Petani Kaur

Suara Pecari, Memasuki pertengahan tahun 2026, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, dilanda kemarau ekstrem yang tak hanya mengeringkan sungai dan sawah, tetapi juga menguras harapan para petani. Di Kecamatan Kelam Tengah, yang selama ini mengandalkan Sungai Air Kelam sebagai sumber irigasi utama, debit air kini menyusut drastis. Akibatnya, ratusan hektare lahan pertanian padi gagal ditanami atau mengalami gagal tanam (puso) pada musim tanam kali ini.

Musim kemarau tahun 2026 diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Fenomena El Niño yang menguat menjadi penyebab utama berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sumatera bagian selatan. Di Kabupaten Kaur, kondisi ini menyebabkan kekeringan yang sangat parah, terutama di daerah-daerah yang bergantung pada tadah hujan dan irigasi teknis sederhana.

Kisah Lisusi: Biaya Menumpuk, Panen Nihil

Salah satu petani yang merasakan pahitnya musim kemarau ini adalah Lisusi (45), warga Desa Bukit Latas, Kecamatan Kelam Tengah. Kepada RRI, ia menceritakan kronologi gagal tanam yang dialaminya. Awal Juli 2026, hujan sempat turun selama beberapa hari, memacu para petani untuk memulai aktivitas persiapan lahan. Lisusi dan puluhan petani lain di hamparan sawah Bukit Latas pun menyewa traktor, membeli bibit unggul, dan menyebar benih di atas lahan yang sudah digarap.

Namun, setelah benih ditabur, hujan tak kunjung turun selama lebih dari dua minggu. Lahan yang sebelumnya basah berubah menjadi kering dan retak-retak, menyebabkan benih padi tidak bisa berkecambah. “Akibat gagal tanam kami rugi karena banyak biaya yang sudah dikeluarkan, termasuk biaya sewa traktor, beli bibit, dan tenaga sudah capek,” ujar Lisusi, Minggu (19/7/2026).

Kerugian yang dialami Lisusi diperkirakan mencapai Rp3 juta per musim tanam untuk lahan seluas sekitar setengah hektare. Biaya tersebut belum termasuk nilai tenaga kerja keluarga yang seharusnya bisa dialihkan ke aktivitas produktif lain. Jika kemarau masih berlanjut, ia dan petani lain terpaksa membiarkan sawahnya terbengkalai hingga musim hujan tiba.

Krisis Irigasi di Kawasan Andalan Padi

Kecamatan Kelam Tengah merupakan salah satu sentra produksi padi di Kabupaten Kaur. Data Dinas Pertanian Kabupaten Kaur tahun 2025 mencatat luas lahan sawah di kecamatan ini mencapai 1.800 hektare, dengan produktivitas rata-rata 5 ton per hektare per musim. Namun, pada musim tanam Juli-September 2026, diperkirakan lebih dari 40% lahan terancam gagal tanam akibat kekeringan.

KecamatanLuas Sawah (ha)Terancam Gagal Tanam (ha)Perkiraan Kerugian (Rp)
Kelam Tengah1.800720Rp4,3 miliar
Kaur Tengah1.200350Rp2,1 miliar
Kaur Selatan900200Rp1,2 miliar

Sumber: Estimasi berdasarkan data Dinas Pertanian Kaur dan wawancara petani, 2026.

Fenomena El Niño Memperparah Kekeringan

Kepala Stasiun Klimatologi Bengkulu, Ahmad Syaifullah, menjelaskan bahwa fenomena El Niño yang terjadi pada 2026 termasuk kategori kuat hingga sangat kuat. Indeks Nino 3.4 telah mencapai +2,1 pada bulan Juni 2026, yang berarti suhu permukaan laut di Pasifik tengah lebih hangat dari normal. Kondisi ini menyebabkan penurunan curah hujan signifikan di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Bengkulu.

“Musim kemarau 2026 diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Agustus di sebagian besar wilayah Bengkulu, dengan puncak kemarau pada Juli-Agustus. Curah hujan bulanan bisa turun hingga 50-70% di bawah normal,” ujar Ahmad. Untuk Kabupaten Kaur, periode tanpa hujan (hari kering berturut-turut) diperkirakan mencapai 30-45 hari, yang sangat kritis bagi fase awal pertumbuhan tanaman padi.

Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Petani

Gagal tanam tidak hanya menyebabkan kerugian finansial langsung, tetapi juga mengancam ketahanan pangan rumah tangga petani. Sebagian besar petani di Kaur adalah petani gurem dengan luas lahan kurang dari 0,5 hektare. Jika musim tanam ini gagal total, mereka harus berutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau beralih ke pekerjaan informal yang tidak menentu.

  • Kehilangan pendapatan dari hasil panen (setara 2,5-3 ton gabah kering panen per hektare, atau sekitar Rp12-15 juta).
  • Biaya produksi yang sudah dikeluarkan (sewa traktor, bibit, pupuk, pestisida, tenaga kerja) rata-rata Rp4-6 juta per hektare.
  • Potensi kredit macet pada lembaga keuangan yang memberikan pembiayaan pertanian.
  • Meningkatnya angka kemiskinan dan kerawanan pangan di daerah pedesaan.

Selain itu, sektor hilir seperti penggilingan padi dan pedagang beras juga ikut terimbas. Penurunan suplai beras lokal berpotensi meningkatkan harga di pasar tradisional, sehingga beban ekonomi berpindah ke konsumen.

Respons Pemerintah Daerah

Pemerintah Kabupaten Kaur melalui Dinas Pertanian telah mengirimkan tim untuk mendata luas lahan yang mengalami puso dan menghitung kerugian petani. Kepala Dinas Pertanian Kaur, Hendri Gunawan, menyatakan bahwa pihaknya akan mengusulkan bantuan benih dan pompa air ke pemerintah provinsi dan pusat.

“Kami sudah menyurati Balai Besar Wilayah Sungai untuk normalisasi saluran irigasi dan penyediaan pompa air portable. Selain itu, kami juga mengimbau petani untuk menanam palawija yang lebih tahan kekeringan seperti jagung atau kacang tanah jika musim hujan masih jauh,” kata Hendri.

Namun, berbagai upaya tersebut belum cukup untuk menutup kerugian besar yang sudah terjadi. Petani seperti Lisusi berharap pemerintah dapat memberikan kompensasi atau program padat karya tunai selama musim kemarau agar mereka tetap memiliki penghasilan.

BMKG: Waspadai Kemarau yang Lebih Panjang

BMKG mengingatkan bahwa kondisi kekeringan ekstrem seperti di Kaur bisa terjadi di wilayah lain, terutama di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Masyarakat, khususnya petani, diminta untuk mengantisipasi dengan melakukan diversifikasi tanaman dan efisiensi air. Untuk wilayah Kaur sendiri, potensi hujan diperkirakan baru akan kembali normal pada akhir September hingga awal Oktober 2026.

Bagi para petani di Kaur, satu-satunya harapan saat ini adalah datangnya hujan yang lebih awal dari prediksi. Namun, dengan kondisi atmosfer yang masih dipengaruhi El Niño, harapan itu makin tipis. Di hamparan sawah Bukit Latas, Lisusi dan petani lain masih menunggu dengan cemas. “Kalau hujan tidak turun dalam dua minggu ke depan, sawah kami pasti terbengkalai. Kami hanya bisa pasrah dan berdoa,” tuturnya lirih.

Musim kemarau 2026 memang telah mengajarkan kerasnya hidup di hadapan ketidakpastian alam. Bagi petani Kaur, setiap tetes hujan adalah denyut kehidupan yang kini menjadi barang mahal. Sekali lagi, perubahan iklim bukanlah cerita masa depan—ia sudah di depan mata, mengeringkan sawah dan menguras air mata.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *