Cerita Mahasiswi Asal Makassar yang Kehilangan Ibu saat Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II

Cerita Mahasiswi Asal Makassar yang Kehilangan Ibu saat Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II

Suara Pecari, Surabaya – Tragedi kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di perairan Sumenep, Madura, pada Minggu (2/8/2026) menimbulkan duka mendalam, terutama bagi keluarga korban asal Makassar. Salah satu korban tewas, Siti Fatimah (57), meninggalkan cerita pilu setelah kehilangan nyawanya saat hendak menjemput putrinya, Nurul Izza (24), seorang mahasiswi Universitas Negeri Makassar yang baru kembali dari program magang di Taiwan.

Kebakaran kapal yang terjadi pada pagi hari itu mengakibatkan lima orang meninggal dunia dan ratusan lainnya berhasil dievakuasi. Nurul Izza selamat setelah melompat ke laut dan bertahan selama tiga jam di tengah ombak, namun ia harus berpisah dengan ibunya yang diketahui takut air dan tidak berhasil menyelamatkan diri.

Fakta Utama Tragedi Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II

  • Insiden terjadi pada Minggu, 2 Agustus 2026, di perairan Sumenep, Madura.
  • Lima korban meninggal, termasuk Siti Fatimah asal Makassar.
  • Korban bersama putrinya, Nurul Izza, yang merupakan mahasiswi UNM yang baru pulang dari magang di Taiwan.
  • Nurul Izza berhasil selamat setelah melompat ke laut dan bertahan selama tiga jam.
  • Kebakaran diduga berasal dari dek bawah kapal yang penuh kendaraan truk.

Kisah Pilu Siti Fatimah dan Nurul Izza

Siti Fatimah berangkat ke Surabaya dengan tujuan menjemput putrinya yang baru saja selesai magang di Taiwan. Menurut keterangan keluarga, niat tersebut menjadi akhir perjalanan hidupnya. Saat kebakaran terjadi, Nurul Izza berhasil menyelamatkan diri dengan melompat ke laut dan bertahan di tengah ombak selama tiga jam, sementara ibunya tidak berhasil ikut menyelamatkan diri karena ketakutan terhadap air.

Pengalaman Para Korban Selamat

Selain cerita Siti Fatimah dan Nurul Izza, kisah penyelamatan diri dari beberapa korban yang selamat turut mengungkap situasi dramatis saat kebakaran terjadi. Muhammad Saleh, salah satu penumpang yang selamat, mengungkapkan bahwa asap hitam pekat membuatnya sulit bernapas dan mencari jalur evakuasi. Ia terpaksa keluar melalui jendela ventilasi dan menggunakan jeriken plastik untuk mengapung sebelum akhirnya berhasil mencapai dek atas kapal.

Ade Lastri, korban lain, harus berjuang di laut selama tiga jam sambil mendekap anaknya dan seorang bocah asing untuk bertahan hidup di tengah gelombang laut. Pasangan asal Bogor ini mengalami trauma mendalam usai kejadian tersebut, yang menunjukkan betapa beratnya situasi saat kapal terbakar dan evakuasi berlangsung.

Perjalanan Jenazah Siti Fatimah Menuju Makassar

Jenazah Siti Fatimah telah diterbangkan dari Surabaya ke Makassar dan diterima oleh pihak Basarnas dan instansi terkait sebelum diserahkan kepada keluarga di rumah duka Jalan Sultan Abdullah II, Kecamatan Tallo, Kota Makassar. Suasana duka menyelimuti kedatangan jenazah, di mana keluarga dan kerabat berkumpul mengiringi proses pemakaman.

Korban Lain yang Berduka

Sari Sukoco, korban lain dalam insiden ini, juga meninggalkan duka mendalam. Warga Tulungagung ini tewas dalam kebakaran saat menjalankan tugas mengantar muatan truk ekspedisi menuju Makassar. Rencana pernikahannya tahun ini batal setelah kepergiannya yang mendadak. Jenazah Sari sudah dimakamkan di rumah duka di Tulungagung dengan diiringi isak tangis keluarga dan kerabat.

Tragedi kebakaran KMP Mutiara Sentosa II menjadi pengingat pentingnya keselamatan dan kesiapsiagaan di dunia transportasi laut Indonesia. Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban dan bangsa secara luas.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *