Satgas PRR Dorong Percepatan Pembangunan 187 Huntap di Desa Tandihat Tapsel
Suara Pecari, Tapanuli Selatan – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) terus mendorong percepatan pembangunan 187 unit hunian tetap (huntap) bagi warga Desa Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Langkah ini bertujuan menyediakan tempat tinggal yang aman dan layak bagi masyarakat yang terdampak bencana tanah longsor pada November 2025.
Progres Pembangunan Hunian Tetap
Pembangunan hunian tetap ini telah melewati beberapa tahap awal, seperti penyiapan lahan yang meliputi pembersihan lahan (land clearing), cut and fill, serta pemadatan tanah. Saat ini, konstruksi fisik sudah dimulai dengan berdirinya struktur fondasi dan tiang penyangga bangunan di lokasi pembangunan di Desa Simarpinggan Perkebunan, yang merupakan sebagian dari lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT Perkebunan Nusantara IV.
Komitmen Pemerintah Melalui Satgas PRR
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, yang juga menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, menegaskan bahwa percepatan pembangunan huntap dan pemulihan infrastruktur publik menjadi prioritas utama dalam proses pemulihan bencana di wilayah tersebut. Hal ini mengacu pada Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) Sumatera 2026-2028.
Tito menjelaskan, pembangunan dilakukan secara masif disertai penyediaan fasilitas pendukung seperti jalan, air, listrik, dan prasarana kawasan agar hunian dapat segera ditempati oleh masyarakat terdampak.
Kondisi dan Dampak Bencana Tanah Longsor
Bencana tanah longsor yang melanda Desa Tandihat pada November 2025 menyebabkan kawasan tersebut menjadi rawan huni dengan potensi bencana susulan. Kondisi ini memaksa warga meninggalkan tempat tinggal asal dan menempati hunian sementara (huntara) di Desa Simarpinggan sambil menunggu penyelesaian hunian tetap.
Saat ini, sebanyak 187 kepala keluarga atau sekitar 542 jiwa telah menempati huntara tersebut dan direncanakan menjadi penerima manfaat pembangunan huntap.
Teknologi dan Spesifikasi Hunian Tetap
Hunian tetap yang dibangun merupakan rumah tapak permanen tipe 36 dengan luas bangunan sekitar 37,5 meter persegi. Rumah tersebut menggunakan teknologi konstruksi RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat) yang tahan terhadap guncangan gempa, sehingga memberikan keamanan lebih bagi penghuninya. Sistem konstruksi ini memungkinkan pembangunan yang cepat dan efisien, mirip dengan sistem lego, dengan luas lahan per unit sekitar 8×12 meter.
Upaya Percepatan dan Harapan Satgas PRR
Pemerintah melalui Satgas PRR menekankan pentingnya percepatan pembangunan agar warga terdampak tidak terlalu lama tinggal di hunian sementara. Pengalaman pemerintah dalam membangun rumah korban bencana di Sumatera sebelumnya menjadi modal penting untuk memastikan proses pemulihan berjalan cepat dan tepat sasaran.
Pembangunan huntap di Desa Tandihat merupakan bagian dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang menyeluruh, termasuk pemulihan infrastruktur publik dan penyediaan prasarana dasar yang memadai.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










