Satu Dekade Pimpin DPRD DKI, Pras Ungkap Tantangan Jakarta Jelang 5 Abad
Suara Pecari | Jakarta – Menjelang perayaan 500 tahun Kota Jakarta pada 2027, mantan Ketua DPRD DKI Jakarta dua periode (2014-2024), Prasetyo Edi Marsudi, menyampaikan refleksi mendalam. Bukan sekadar nostalgia, tetapi catatan kritis tentang arah pembangunan ibu kota. Setelah satu dekade memimpin DPRD, Prasetyo menilai Jakarta telah melangkah maju, namun masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus dituntaskan agar kota ini benar-benar menjelma menjadi kota global yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Fondasi Pembangunan Manusia: Prioritas Utama
Menurut Pras, panggilan akrab Prasetyo, pembangunan manusia harus menjadi fondasi utama. Ia menegaskan bahwa kemajuan sebuah kota tidak bisa diukur semata dari infrastruktur megah atau gedung pencakar langit, melainkan dari kualitas sumber daya manusianya. “Yang pertama soal pembangunan manusia sebagai fondasi kemajuan Jakarta. Ini nggak bisa cuma diukur dari infrastruktur dan gedung pencakar langit. Tapi bagaimana kualitas sumber daya manusianya,” ujar Prasetyo di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis 11 Juni 2026.
Selama menjabat, Pras mengaku konsisten mendukung program prioritas di bidang pendidikan dan kesehatan. DPRD tidak hanya mengalokasikan anggaran, tetapi juga memperketat pengawasan terhadap pelaksanaan layanan publik. Data dari Dinas Pendidikan DKI menunjukkan peningkatan angka partisipasi sekolah dan penurunan angka putus sekolah dalam satu dekade terakhir. Namun, tantangan seperti kesenjangan kualitas antarwilayah dan akses layanan kesehatan yang merata masih menjadi pekerjaan rumah.
Transportasi Publik: Solusi Kemacetan Klasik
Pras menyoroti pentingnya pengembangan transportasi publik sebagai solusi kemacetan yang telah menjadi masalah klasik Jakarta. Integrasi antarmoda yang tengah dibangun Pemprov DKI dinilainya sudah berada di jalur yang tepat. “Sebab saya percaya kalau ini sudah optimal baik semua nggak ada lagi yang mau pakai kendaraan pribadinya. Semuanya naik transportasi umum,” katanya.
Data dari PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menunjukkan peningkatan jumlah penumpang harian dari 500.000 pada 2014 menjadi lebih dari 1,2 juta pada 2024. Namun, integrasi dengan moda lain seperti MRT, LRT, dan KRL masih perlu ditingkatkan. Berikut adalah capaian dan target transportasi publik Jakarta:
| Moda Transportasi | Penumpang Harian (2024) | Target 2027 |
|---|---|---|
| Transjakarta | 1,2 juta | 1,8 juta |
| MRT Jakarta | 150.000 | 300.000 |
| LRT Jakarta | 40.000 | 100.000 |
| KRL Commuter | 1,1 juta | 1,5 juta |
Banjir: Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Persoalan banjir juga menjadi perhatian Prasetyo. Ia menilai program normalisasi sungai harus terus dilanjutkan. Meski mengakui persoalan ini belum tuntas selama kepemimpinannya, ia melihat perkembangan positif di bawah Gubernur DKI Jakarta saat ini, Pramono Anung Wibowo. “Tapi saya lihat Mas Pram concern sekali dan titik-titik banjir bisa kita lihat sudah mulai berkurang. Intinya penataan kawasan bantaran perlu terus dilakukan dengan mengedepankan kepentingan masyarakat dan lingkungan,” ucap Pras.
Berdasarkan data BPBD DKI Jakarta, jumlah titik banjir pada musim hujan 2025-2026 menurun sekitar 30% dibandingkan periode 2014-2015. Namun, tantangan perubahan iklim dan penurunan muka tanah memerlukan solusi jangka panjang, seperti pembangunan tanggul laut dan sistem polder yang terintegrasi.
Lingkungan Hidup: Menuju Kota Global yang Ramah Lingkungan
Di sisi lain, Pras menilai Jakarta perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap isu lingkungan. Sebagai kota global, Jakarta harus tumbuh menjadi kota yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Ia mendorong penambahan ruang terbuka hijau, pengendalian polusi udara, serta pengelolaan sampah modern masuk dalam agenda prioritas. Namun, upaya ini tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. “Kalau pemerintah sudah seperti itu, kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan perlu terus ditingkatkan melalui edukasi dan partisipasi yang aktif,” ujarnya.
Data Dinas Lingkungan Hidup DKI menunjukkan luas RTH baru mencapai 15% dari target 30% pada 2030. Polusi udara masih menjadi masalah serius dengan rata-rata PM2.5 mencapai 50 µg/m³, di atas standar WHO. Pengelolaan sampah juga membutuhkan inovasi, seperti program bank sampah dan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.
Tata Kelola Pemerintahan: Transparansi dan Responsivitas
Pras juga menekankan pentingnya tata kelola pemerintahan yang transparan, profesional, dan responsif. Di era digital, pelayanan publik harus cepat, tepat, dan akuntabel. Ia mengingatkan bahwa keterbukaan informasi di DPRD DKI telah dimulai sejak 2015. “Dan saya yakin di kepemimpinan Mas Pram dan Pak Suhud Ketua DPRD yang baru ini transparansi dan akuntabilitas dapat semakin optimal. Serta dapat merespons kebutuhan masyarakat secara cepat, tepat, dan efisien,” katanya.
Indeks Reformasi Birokrasi DKI Jakarta meningkat dari 68 pada 2015 menjadi 82 pada 2024. Namun, partisipasi publik dalam pengambilan keputusan masih perlu ditingkatkan. DPRD kini memiliki portal aspirasi online dan rapat dengar pendapat yang lebih sering digelar.
Kronologi Refleksi Prasetyo Edi Marsudi
- 11 Juni 2026: Prasetyo menyampaikan refleksi di Tanah Abang, Jakarta Pusat.
- 2014-2019: Periode pertama sebagai Ketua DPRD DKI, fokus pada pengawasan anggaran dan kebijakan.
- 2019-2024: Periode kedua, mendorong integrasi transportasi dan penanganan banjir.
- 2027: Target perayaan 500 tahun Jakarta sebagai momentum evaluasi dan akselerasi pembangunan.
Dampak dan Implikasi
Refleksi Prasetyo memberikan gambaran bahwa Jakarta berada di persimpangan penting. Keberhasilan mengatasi tantangan akan menentukan posisi Jakarta di kancah global. Bagi masyarakat, perbaikan transportasi dan lingkungan akan meningkatkan kualitas hidup. Bagi investor, tata kelola yang transparan dan infrastruktur yang baik akan menarik investasi. Pemerintah perlu mengintegrasikan berbagai sektor dengan melibatkan partisipasi publik.
Menutup refleksinya, Pras menegaskan bahwa usia 500 tahun Jakarta bukan sekadar perayaan sejarah. Lebih dari itu, peringatan tersebut harus menjadi titik tolak untuk memperkuat fondasi pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Masa depan Jakarta akan ditentukan oleh kemampuan seluruh elemen kota mewujudkan pembangunan yang maju, inklusif, berkelanjutan, dan menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh warganya. Dari Tanah Abang, Prasetyo Edi Marsudi telah meninggalkan catatan yang patut direnungkan: Jakarta bukan hanya tentang beton dan aspal, melainkan tentang manusia dan mimpi mereka untuk hidup lebih baik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.









