Dasco Apresiasi Kerja Sama BI dan PBOC Perkuat Transaksi Mata Uang Lokal
Langkah Strategis BI dan PBOC
Suara Pecari | Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah Bank Indonesia (BI) dan People’s Bank of China (PBOC) dalam memperkuat kerja sama penggunaan mata uang lokal pada transaksi bilateral antara Indonesia dan Tiongkok. Kesepakatan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) yang ditandatangani di Shanghai, Tiongkok, pada 11 Juni 2026 dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan keuangan kedua negara. Menurut Dasco, kesepakatan ini memungkinkan transaksi antara Indonesia, China Daratan, dan Hong Kong dilakukan menggunakan rupiah maupun renminbi tanpa harus bergantung pada dolar Amerika Serikat. Hal ini disampaikan Dasco pada Minggu, 14 Juni 2026.
Latar Belakang Kerja Sama
Kerja sama antara BI dan PBOC sebenarnya telah berlangsung lama, namun eskalasi terbaru menunjukkan komitmen yang lebih kuat. Sejak krisis keuangan global 2008, banyak negara mulai mencari alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Indonesia dan Tiongkok, sebagai dua ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan Asia, memiliki kepentingan bersama untuk menciptakan sistem keuangan yang lebih stabil dan mandiri. BCSA yang diperbarui ini tidak hanya memperpanjang jangka waktu swap, tetapi juga meningkatkan nilainya. Meskipun detail nominal tidak disebutkan, sumber menyebutkan bahwa kesepakatan ini mencakup peningkatan signifikan dalam fasilitas swap mata uang.
Dampak bagi Ekonomi Indonesia
Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral diharapkan dapat mengurangi biaya transaksi dan risiko nilai tukar. Bagi pelaku usaha Indonesia, ini berarti mereka tidak perlu lagi khawatir terhadap fluktuasi dolar AS saat bertransaksi dengan mitra di Tiongkok. Selain itu, kerja sama ini juga memperkuat cadangan devisa Indonesia karena rupiah lebih banyak digunakan dalam perdagangan internasional. Dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan stabilitas nilai tukar rupiah dan mengurangi tekanan eksternal.
Perluasan Konektivitas Pembayaran: QRIS Lintas Negara
Selain BCSA, Dasco juga menyambut baik perluasan konektivitas pembayaran lintas negara melalui implementasi QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) antara Indonesia dan Tiongkok. Sistem pembayaran ini memungkinkan masyarakat dan pelaku usaha kedua negara melakukan transaksi dengan mudah menggunakan kode QR. Saat ini, QRIS telah didukung oleh ratusan penyedia layanan pembayaran di Indonesia, dan integrasi dengan sistem pembayaran Tiongkok seperti Alipay dan WeChat Pay akan mempermudah wisatawan dan pebisnis. Dasco menilai langkah ini sebagai terobosan yang akan meningkatkan volume transaksi dan mendorong pariwisata.
| Aspek | Manfaat |
|---|---|
| BCSA | Mengurangi ketergantungan pada dolar AS, menekan biaya transaksi, memperkuat cadangan devisa |
| QRIS Lintas Negara | Mempermudah transaksi masyarakat, mendorong pariwisata, meningkatkan inklusi keuangan |
| RMB Clearing Bank | Memperlancar penyelesaian transaksi renminbi, mendukung investasi bilateral |
Implikasi bagi Hubungan Bilateral
Perluasan kerja sama Local Currency Transaction (LCT) hingga mencakup Hong Kong semakin memperkuat hubungan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Tiongkok. Hong Kong sebagai pusat keuangan global menjadi pintu gerbang bagi investasi Tiongkok ke Indonesia. Dengan adanya LCT, investor Hong Kong dapat langsung menggunakan renminbi atau rupiah tanpa konversi ke dolar, sehingga lebih efisien. Dasco menegaskan bahwa ini merupakan langkah konkret untuk memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional sekaligus memperkuat ketahanan sistem keuangan nasional.
Kronologi Perjanjian
- 11 Juni 2026: Penandatanganan BCSA di Shanghai oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur PBOC Pan Gongsheng.
- 14 Juni 2026: Pernyataan dukungan dari Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad di Jakarta.
- Rencana ke depan: Pembentukan RMB Clearing Bank di Indonesia dan integrasi penuh QRIS.
Pandangan Para Gubernur Bank Sentral
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa kerja sama ini mencakup penguatan transaksi mata uang lokal, pengembangan infrastruktur keuangan, serta perluasan kerja sama antarbank sentral, termasuk rencana pembentukan RMB Clearing Bank di Indonesia. Sementara itu, Gubernur PBOC Pan Gongsheng menilai Indonesia dan China sebagai mitra strategis di kawasan yang memiliki kepentingan bersama untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan keuangan yang saling menguntungkan. Keduanya optimis bahwa kerja sama ini dapat mendukung kelancaran perdagangan, investasi, termasuk transaksi keuangan antara kedua negara di tengah dinamika ekonomi global.
Penutup
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, langkah Indonesia dan Tiongkok untuk memperkuat transaksi mata uang lokal menjadi angin segar. Inisiatif ini tidak hanya mengurangi dominasi dolar AS, tetapi juga membuka jalan bagi sistem keuangan yang lebih multipolar. Dengan dukungan dari parlemen dan implementasi teknis yang matang, kerja sama ini berpotensi menjadi model bagi negara-negara lain di kawasan. Masyarakat dan pelaku usaha Indonesia dapat menyambut era baru di mana transaksi lintas batas menjadi lebih murah, cepat, dan stabil.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










