Ditanya Wartawan soal Tak Temui Demo Mahasiswa, Ahmad Luthfi: Anda yang Demo atau Wawancara?

Ditanya Wartawan soal Tak Temui Demo Mahasiswa, Ahmad Luthfi: Anda yang Demo atau Wawancara?

Suara Pecari | SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi kembali menjadi sorotan setelah responsnya yang kontroversial saat ditanya wartawan soal tak temui demo mahasiswa. Dalam pernyataan yang viral, Luthfi justru balik bertanya, “Anda yang demo atau wawancara?” Pertanyaan ini dilontarkan seusai menghadiri acara Pencanangan Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Kamis (18/6/2026).

Kejadian ini bermula dari aksi demonstrasi yang telah tiga kali digelar mahasiswa di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah dalam sepekan terakhir. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menuntut perhatian langsung dari gubernur. Namun, hingga aksi ketiga berakhir pada Rabu (17/6/2026) pukul 18.30 WIB, tidak ada satu pun perwakilan pemprov yang menemui mereka. “Gubernur tidak pernah melihat, tidak pernah mendengar apa yang kita suarakan,” ujar seorang orator dari mobil komando.

Situasi semakin memanas ketika seorang jurnalis mencoba mengonfirmasi sikap Luthfi. “Anda yang demo atau Anda yang wawancara?” ujar Luthfi kepada jurnalis tersebut. Pertanyaan itu diulang tanpa perubahan respons. “Anda yang demo atau yang wawancara? Yang mewawancarai kan. Ya tanyakan ke yang demo bukan tanya ke saya,” tambahnya. Jurnalis lain kemudian mempertegas bahwa mahasiswa menginginkan ditemui gubernur. “Kata siapa? Yo kita temuin,” jawab Luthfi singkat.

Ketua Korps PMII Putri Kota Semarang, Fardani Hayatul Ulum, menyatakan kekecewaannya. “Sampai saat ini belum ada respons apa pun, baik dari gubernur, wakil gubernur, termasuk wali kota dan wakil wali kota. Saya sangat kecewa,” ujarnya. Ia mengungkapkan bahwa dalam demo tersebut, mahasiswa membawa hasil kajian dan penelitian dampak kebijakan pemerintah terhadap masyarakat akar rumput, hasil kerja 15 komisariat PMII selama dua pekan.

Di sisi lain, Luthfi justru mempersilakan demo asal tertib dan tidak mengganggu kepentingan umum. “Lakukan dengan santun dan tidak mengganggu kepentingan umum,” katanya di hari yang sama. Ia mengingatkan bahwa penyampaian pendapat dijamin undang-undang, namun tetap harus menghormati hak masyarakat lain. “Itu merupakan koreksi dari masyarakat, silakan. Ke depan bisa lebih baik,” ujarnya.

Insiden ini menimbulkan pertanyaan serius tentang keterbukaan pemerintah daerah terhadap aspirasi mahasiswa. Ditanya wartawan soal tak temui demo mahasiswa, Ahmad Luthfi: Anda yang demo atau wawancara? menjadi simbol komunikasi yang tidak efektif antara pemimpin dan rakyat. Mahasiswa menilai gubernur tidak menghargai perjuangan mereka yang telah mengorbankan waktu dan tenaga untuk menyuarakan keprihatinan. Sementara itu, publik menanti apakah Luthfi akan benar-benar menemui mahasiswa jika mereka kembali berdemo, atau hanya sekadar retorika belaka.

Kesimpulannya, respons Ahmad Luthfi yang terkesan defensif justru memperlebar jurang antara pemerintah dan mahasiswa. Alih-alih membuka dialog, pertanyaan baliknya malah menimbulkan kekecewaan lebih dalam. Di tengah tuntutan evaluasi program seperti MBG dan KDMP, serta penolakan militerisme ruang sipil, langkah konkret gubernur untuk mendengarkan aspirasi rakyat menjadi sangat krusial. Tanpa itu, demo mahasiswa mungkin akan terus bergulir, dan pertanyaan “Anda yang demo atau wawancara?” akan terus menghantui.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan