Kisah Pilu Siswi di Jember yang Rutin Cuci Darah Naik Bentor karena Keterbatasan Biaya
Suara Pecari, Jember
Merisa, siswi kelas X SMK Muhammadiyah 4 Jember, berjuang melawan penyakit gagal ginjal yang memaksanya menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Merisa harus menempuh perjalanan ke rumah sakit menggunakan bentor tua milik ayahnya karena tidak selalu tersedia ambulans.
Perjuangan Keluarga Menghadapi Keterbatasan
Slamet, ayah Merisa, sehari-hari bekerja sebagai tukang becak dengan penghasilan tidak menentu, rata-rata sekitar Rp20 ribu per hari. Uang tersebut sering kali tidak cukup untuk kebutuhan makan keluarga, apalagi untuk biaya transportasi ke rumah sakit. Saat sepi penumpang, Slamet bahkan harus meminjam uang agar kebutuhan sehari-hari terpenuhi. Namun, demi kesehatan putrinya, Slamet tetap berusaha mengantar Merisa ke rumah sakit meski menggunakan bentor yang sederhana.
Minimnya Bantuan dari Lingkungan dan Pemerintah
Kondisi Merisa dan kesulitan keluarganya sudah diketahui lingkungan sekitar dan pemerintah desa. Meskipun demikian, sampai saat ini belum ada kunjungan petugas medis ke rumah keluarga Merisa. Bantuan ambulans dari relawan sempat diterima sebanyak empat kali, yang sangat membantu keluarga, namun setelah itu bantuan tersebut tidak berlanjut. Keluarga kembali harus mencari solusi sendiri untuk memastikan Merisa dapat menjalani pengobatan rutin.
Kendala Informasi dan Harapan Keluarga
Keluarga Merisa juga belum memahami program Home Care yang diluncurkan oleh Pemerintah Kabupaten Jember, termasuk cara mengakses layanan tersebut. Telepon genggam yang dimiliki Slamet hanya digunakan untuk komunikasi dengan pelanggan, sehingga keterbatasan informasi menjadi kendala utama. Harapan keluarga sederhana, yakni mendapatkan bantuan biaya bahan bakar jika layanan antar-jemput belum dapat diberikan, agar Merisa tetap bisa pergi ke rumah sakit secara rutin.
Fakta Penting tentang Pengobatan Rutin dan Biaya Transportasi
- Merisa harus menjalani cuci darah dua kali seminggu sebagai bagian dari pengobatan gagal ginjal.
- Biaya transportasi menjadi beban besar bagi keluarga dengan ekonomi terbatas.
- Bentor tua milik ayah Merisa menjadi sarana transportasi utama menuju rumah sakit.
- Bantuan ambulans dari relawan hanya datang beberapa kali dan tidak berkelanjutan.
- Keluarga belum mendapatkan kunjungan atau bantuan dari petugas medis desa.
Analisis dan Implikasi
Kisah Merisa menggambarkan tantangan yang dihadapi pasien dengan penyakit kronis di daerah dengan keterbatasan ekonomi, terutama dalam hal akses transportasi untuk pengobatan rutin. Minimnya bantuan dari pemerintah dan kurangnya informasi mengenai program kesehatan yang tersedia menambah beban keluarga. Hal ini menekankan pentingnya pemerataan layanan kesehatan dan sosialisasi program secara efektif agar pasien tidak terhambat oleh kendala nonmedis dalam mendapatkan perawatan.
Harapan untuk Dukungan Lebih Lanjut
Keluarga Merisa berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah maupun pihak terkait untuk membantu kebutuhan transportasi atau subsidi bahan bakar agar pengobatan rutin dapat terus berjalan tanpa hambatan. Perjuangan Slamet dan keluarganya mencerminkan kebutuhan mendesak akan dukungan sosial dan kemudahan akses layanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










