Musyrif Dini Ingatkan Jemaah Haji Perempuan untuk Menjaga Kesucian Selama Ibadah Haji

Musyrif Dini Ingatkan Jemaah Haji Perempuan untuk Menjaga Kesucian Selama Ibadah Haji

Suara Pecari | Makkah – Musyrif Dini, Liliek Nur Chalida, memberikan penekanan pada pentingnya menjaga kesucian bagi jemaah haji perempuan selama pelaksanaan ibadah haji. Menurutnya, kesucian adalah syarat utama yang harus dipenuhi agar ibadah haji dapat dilaksanakan dengan baik.

Dalam sebuah kajian yang berlangsung di Makkah, Liliek menyatakan bahwa sebelum melaksanakan ibadah, jemaah perempuan harus memastikan bahwa istinja telah dilakukan dengan baik. Hal ini penting karena pelaksanaan salat dan tawaf membutuhkan keadaan suci dari hadas maupun najis.

“Kesucian itu utama jika ingin melakukan salat dan tawaf,” ungkap Liliek. Ia juga mengingatkan agar jemaah tidak lengah terhadap hal-hal yang dapat membatalkan wudu, terutama dalam situasi tertentu seperti saat batuk atau merasa kelelahan.

Liliek menjelaskan bahwa area yang terkontaminasi najis harus dibersihkan dengan tuntas sebelum melaksanakan salat. Ia merekomendasikan penggunaan tisu basah jika kondisi tidak memungkinkan untuk menggunakan air. Selain itu, ia menjelaskan perbedaan antara madi, wadi, dan mani dalam fikih perempuan, di mana madi dan wadi mewajibkan wudu, sedangkan mani memerlukan mandi besar.

Dalam kondisi tertentu, jemaah diperbolehkan untuk melakukan tayamum guna menghormati waktu salat, namun salat tersebut perlu diulang setelah kondisi memungkinkan untuk bersuci secara sempurna. Liliek juga membahas mengenai perempuan yang mengalami haid menjelang puncak ibadah haji, di mana mereka tetap dapat memperbanyak doa dan istigfar.

Pemahaman tentang rukhsah dianggap penting untuk kenyamanan ibadah jemaah perempuan. “Islam itu mudah dan indah di depan Allah,” kata Liliek. Ia berharap agar semua jemaah haji perempuan dapat menjalankan ibadahnya dengan baik dan sesuai dengan ketentuan yang ada.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan