BRIN Ciptakan Membran Filtrasi Air dari Limbah Botol Plastik PET: Solusi Ganda untuk Krisis Air dan Sampah

BRIN Ciptakan Membran Filtrasi Air dari Limbah Botol Plastik PET: Solusi Ganda untuk Krisis Air dan Sampah

Suara Pecari | Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menghadirkan terobosan di bidang teknologi lingkungan. Melalui Pusat Riset Sistem Nanoteknologi, BRIN berhasil mengembangkan membran filtrasi air yang terbuat dari limbah botol plastik PET (polyethylene terephthalate). Inovasi ini tidak hanya menjawab masalah pencemaran sampah plastik yang kian mengkhawatirkan, tetapi juga menawarkan solusi pengolahan air yang lebih terjangkau dan efisien.

Latar Belakang: Darurat Sampah Plastik dan Krisis Air Bersih

Indonesia merupakan salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa setiap tahunnya, jutaan ton sampah plastik berakhir di tempat pembuangan akhir, sungai, dan lautan. Di sisi lain, akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan serius, terutama di daerah-daerah yang bergantung pada air sungai sebagai sumber utama. Kondisi ini mendorong para peneliti untuk mencari solusi inovatif yang mampu menyelesaikan dua masalah sekaligus.

Peneliti Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Badrut Tamam Ibnu Ali, menjelaskan bahwa selama ini membran filtrasi komersial memang memiliki performa yang baik, namun harganya relatif mahal. “Membran keramik bisa mencapai jutaan rupiah per meter persegi. Sementara itu, limbah botol plastik PET praktis tidak memiliki nilai ekonomi. Kami mencoba menggabungkan dua persoalan menjadi satu solusi,” ujar Badrut dalam wawancara dengan Tim Humas BRIN pada Senin, 8 Juni 2026.

Proses Pembuatan: dari Botol Plastik Menjadi Lembaran Membran

Teknologi pembuatan membran ini tergolong sederhana namun canggih. Botol plastik PET dikumpulkan, dibersihkan, dan dihancurkan menjadi potongan kecil. Potongan tersebut kemudian dilarutkan menggunakan pelarut organik hingga membentuk larutan polimer. Larutan polimer selanjutnya dicetak menggunakan metode phase inversion, menghasilkan lembaran membran berlapis dengan ketebalan sekitar 0,19 mm. Ketebalan membran dapat disesuaikan dengan kebutuhan aplikasi, mulai dari penyaringan air sungai hingga limbah industri.

ParameterNilai
Ketebalan membran0,19 mm (dapat diatur)
Bahan bakuLimbah botol plastik PET
Metode pembuatanPhase inversion
Biaya produksiSangat rendah (bahan baku dari limbah)

Hasil Uji Coba: Air Sungai Layak Pakai Setelah Filtrasi

Teknologi membran ini telah diuji coba untuk mengolah air sungai dengan karakteristik awal yang belum memenuhi standar baku mutu air layak pakai berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 32 Tahun 2017. Sebelum filtrasi, air sungai memiliki tingkat kekeruhan mencapai 440 NTU, TDS 506 ppm, TSS 793 ppm, COD 17,05 ppm, dan BOD 6,94 ppm. Setelah melalui proses filtrasi menggunakan membran berbahan limbah plastik PET, kualitas air meningkat secara signifikan.

ParameterSebelum FiltrasiSesudah FiltrasiBaku Mutu (Permenkes 32/2017)
Kekeruhan440 NTU1,42 NTUMaks. 25 NTU
TDS506 ppm374 ppmMaks. 1000 ppm
TSS793 ppm37 ppmMaks. 1000 ppm
COD17,05 ppm2,45 ppmMaks. 10 ppm
BOD6,94 ppm1,24 ppmMaks. 2 ppm

Hasil tersebut menunjukkan bahwa seluruh parameter telah memenuhi standar baku mutu air layak pakai, bahkan beberapa jauh di bawah ambang batas. Ini membuktikan efektivitas membran dalam menyaring partikel tersuspensi, bahan organik, dan kontaminan lainnya.

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat dan Industri

Inovasi ini membawa dampak yang luas. Bagi masyarakat, terutama yang tinggal di daerah dengan akses air bersih terbatas, teknologi ini menawarkan alternatif pengolahan air yang murah dan mudah dioperasikan. Bagi industri, membran ini dapat digunakan untuk mengolah limbah cair, termasuk limbah dari industri elektroplating, batik, dan lain-lain. Dalam uji coba terhadap air limbah elektroplating yang mengandung ion chromium (VI), membran menunjukkan fluks 200 Lm-2h-1 bar1 dan rejeksi 70 persen.

Dari segi ekonomi, biaya produksi membran yang sangat rendah berpotensi menekan harga jual, sehingga lebih terjangkau dibandingkan membran komersial. “Satu botol plastik PET dapat dimanfaatkan menjadi beberapa lembar membran filtrasi,” kata Badrut. Hal ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, di mana limbah diubah menjadi produk bernilai tambah.

Langkah ke Depan: Peningkatan Performa dan Kolaborasi

Tim peneliti BRIN tidak berhenti pada pencapaian saat ini. Ke depan, mereka akan terus meningkatkan performa membran, terutama pada aspek fluks aliran dan selektivitas penyaringan. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah penambahan nanopartikel untuk meningkatkan kemampuan membran dalam menyaring partikel tertentu. Selain itu, BRIN telah menjalin kolaborasi dengan PDAM untuk mengembangkan penerapan membran dalam pengolahan air baku sungai. Dengan teknologi ini, proses pengolahan air dapat dibuat lebih sederhana karena mampu mengurangi tahapan konvensional seperti sedimentasi dan koagulasi.

Penutup: Menuju Masa Depan Berkelanjutan

Inovasi membran filtrasi dari limbah botol plastik PET merupakan langkah konkret BRIN dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin pengurangan limbah plastik, penyediaan air bersih, dan pengembangan teknologi berkelanjutan berbasis ekonomi sirkular. Dengan biaya yang rendah, bahan baku yang melimpah, dan kinerja yang terbukti efektif, teknologi ini berpotensi menjadi solusi yang dapat diadopsi secara luas di Indonesia. Seperti yang disampaikan Badrut, “Kami terus berkomitmen melakukan riset yang berdampak dan ramah lingkungan. Tidak hanya untuk mengatasi masalah limbah, tetapi juga menghasilkan teknologi yang murah dan kinerja yang baik bagi masyarakat.”

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan