K-Pop Diguncang Kontroversi: Lagu AI ‘GG EZ’ Viral Usai Dance Challenge Jungkook BTS

K-Pop Diguncang Kontroversi: Lagu AI 'GG EZ' Viral Usai Dance Challenge Jungkook BTS

Suara Pecari, Industri hiburan Korea Selatan kembali digemparkan oleh fenomena baru yang mempertanyakan batas antara kreativitas manusia dan kecerdasan buatan. Lagu berjudul ‘GG EZ’ yang diciptakan oleh pengguna AI misterius bernama M.Sasuke mendadak meledak popularitasnya setelah dibawakan dalam tantangan dansa oleh sejumlah idola K-Pop ternama, termasuk Jungkook BTS. Fenomena ini membuka diskusi tentang peran teknologi dalam industri musik, terutama di era di mana kualitas sebuah karya tidak lagi semata-mata ditentukan oleh proses produksi tradisional.

Semua bermula dari tantangan dansa sederhana yang dibuat oleh Kangmin, anggota grup TWS, yang diiringi lagu ‘GG EZ’. Gerakan yang enerjik dan mudah diikuti itu dengan cepat menyebar ke berbagai artis lain seperti ITZY, MEOVV, dan ENHYPEN. Puncaknya terjadi ketika Jungkook BTS turut serta dalam tantangan tersebut, mengunggah video yang meraup lebih dari 91 juta penayangan di media sosial. Hal ini mendorong popularitas lagu ‘GG EZ’ meroket, menempatkannya di tangga lagu Korea dan meningkatkan jumlah pendengar bulanan M.Sasuke di Spotify hingga lebih dari 741 ribu.

Kehebohan justru muncul ketika terungkap bahwa M.Sasuke, yang identitas aslinya tidak diketahui, mengakui bahwa lagu ‘GG EZ’ dan karya-karyanya yang lain dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan. Dalam sebuah unggahan Instagram, M.Sasuke menyatakan bahwa produksi musik dan visualnya menggunakan elemen yang diciptakan dengan teknologi AI. Meskipun ia mengaku menulis lirik, aransemen, dan prompt, fakta bahwa vokal dan instrumen dihasilkan oleh AI menimbulkan perdebatan sengit di kalangan penggemar dan pelaku industri. Banyak yang mempertanyakan apakah sebuah lagu yang sepenuhnya dihasilkan AI layak mendapatkan tempat yang sama di industri yang dibangun di atas kreativitas manusia.

Fenomena serupa juga terjadi pada ‘digital artist’ lain bernama Rym yang lagunya, ’10count’ dan ‘LØVE NEBULA’, juga viral setelah dibawakan oleh Jungkook dan artis lainnya. Rym, yang identitasnya sepenuhnya dihasilkan AI, kini memiliki pengikut Spotify hingga 391 ribu. Kehadiran para ‘AI artist’ ini tidak hanya mengubah lanskap kompetisi, tetapi juga memunculkan pertanyaan etis tentang hak cipta, orisinalitas, dan definisi seni itu sendiri. Beberapa pihak melihatnya sebagai evolusi alami dari teknologi, sementara yang lain menganggapnya sebagai ancaman terhadap karya orisinal musisi sungguhan.

Menariknya, para idola K-Pop yang turut serta dalam tantangan dansa ini tampaknya tidak mempermasalahkan asal-usul lagu tersebut. Mereka lebih fokus pada aspek hiburan dan koneksi dengan penggemar melalui tantangan yang sedang tren. Hal ini menunjukkan bahwa bagi sebagian besar penikmat musik, nilai sebuah lagu mungkin lebih diukur dari daya tarik dan popularitasnya, bukan dari proses pembuatannya. Namun, bagi para puris, fenomena ini adalah tamparan keras bagi industri yang mengandalkan bakat dan kerja keras.

Ke depannya, industri hiburan global, khususnya K-Pop, harus bersiap menghadapi lebih banyak lagi konten yang dihasilkan oleh AI. Platform streaming dan media sosial telah menjadi lahan subur bagi pertumbuhan ‘AI artist’ seperti M.Sasuke. Pertanyaan besar yang masih menggantung adalah bagaimana industri akan beradaptasi: apakah akan merangkul teknologi ini sebagai alat baru, atau justru membuat regulasi yang membatasinya? Yang jelas, ‘k’reativitas dalam bentuknya yang paling murni kini tengah diuji oleh mesin, dan hasil dari ujian ini akan membentuk masa depan musik dunia.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa batas antara dunia nyata dan digital semakin kabur. ‘K’arya yang lahir dari algoritma mampu bersaing dan bahkan mengalahkan popularitas karya manusia. ‘K’ita mungkin sedang menyaksikan lahirnya era baru dalam industri musik, di mana definisi ‘artis’ tidak lagi terbatas pada manusia. ‘K’eputusan ada di tangan kita, para pendengar, untuk menentukan apa yang benar-benar berharga dalam sebuah lagu.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *