Foto Dari Kulit Buah Menjadi Ekoenzim, Upaya Anantasari Kurangi Sampah

Suara Pecari, Tangerang Selatan – Anantasari mengolah kulit buah menjadi ekoenzim sebagai upaya mengurangi sampah organik di lingkungan rumah dan sekitarnya. Aktivitas ini bermula pada masa pandemi COVID-19 saat kebutuhan cairan pembersih meningkat. Dari rumahnya, ia memanfaatkan kulit jeruk, mangga, jambu, dan nanas yang biasanya berakhir di tempat sampah untuk diolah menjadi cairan fermentasi yang bermanfaat.

Manfaat Ekoenzim dan Proses Pengolahan

Ekoenzim adalah cairan hasil fermentasi kulit buah yang memiliki berbagai manfaat, salah satunya sebagai pembersih ramah lingkungan. Anantasari menghasilkan sekitar 36 liter ekoenzim setiap bulan dengan mengolah sekitar 10,4 kilogram kulit buah yang berasal dari sampah rumah tangga dan sisa buah dari penjual kudapan.

Baca juga:

Proses pembuatan ekoenzim dilakukan secara mandiri di rumah dengan membersihkan dan mengumpulkan kulit buah, lalu fermentasi selama beberapa waktu hingga menghasilkan cairan yang siap digunakan.

Kegiatan Edukasi Lingkungan

Selain produksi ekoenzim, Anantasari aktif membagikan pengetahuan dan keterampilan ini kepada masyarakat dan anak-anak sekolah di Kota Tangerang Selatan melalui tugasnya sebagai penyuluh lingkungan di Dinas Lingkungan Hidup. Edukasi ini bertujuan mengenalkan potensi sampah organik dan mengajak masyarakat untuk mengolahnya sejak dari sumbernya.

Menurut Anantasari, pembiasaan pengelolaan sampah sejak usia dini dapat membentuk perilaku peduli lingkungan yang berkelanjutan. Anak-anak yang diajak belajar mengolah sampah organik diharapkan dapat menyebarkan kebiasaan baik ini kepada teman-temannya.

Peran Masyarakat dan Pemerintah

Timbulan sampah organik, seperti sisa makanan dan kulit buah, merupakan permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pengelolaan sampah dari sumbernya memerlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat luas agar solusi seperti pembuatan ekoenzim dapat diterapkan secara efektif dan berkelanjutan.

Dampak Positif Upaya Pengolahan Sampah

Anantasari mengungkapkan bahwa manfaat ekoenzim melebihi ekspektasi, terutama sebagai solusi mengurangi limbah organik. Keberhasilan penyuluhan juga diukur dari ketertarikan dan keberanian masyarakat untuk mencoba serta merasakan manfaat langsung dari pengolahan sampah organik.

Baca juga:

Bagi mereka yang belum tertarik, Anantasari menggunakan pengalaman tersebut sebagai evaluasi untuk meningkatkan cara penyuluhan agar lebih efektif dan menarik.

Dengan langkah sederhana mengolah kulit buah menjadi ekoenzim, Anantasari menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik dapat dilakukan secara mandiri dan memberi dampak positif bagi lingkungan serta masyarakat sekitar.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *