Harga Fresh Fruit Bunch di Kalimantan Naik, Dukungan pada Petani dan Pasar Global

Avatar
Harga Fresh Fruit Bunch di Kalimantan Naik, Dukungan pada Petani dan Pasar Global

Suara Pecari – 24 April 2026 | Harga fresh fruit bunch (FFB) di Central Kalimantan naik menjadi IDR 3.897,96 per kilogram untuk tanaman berumur 10‑20 tahun pada awal April, mencerminkan penguatan pasar CPO dan kernel.

Keputusan komite harga provinsi menambah IDR 124,52/kg dibanding periode sebelumnya, dan rapat penetapan harga berikutnya dijadwalkan pada 5 Mei 2026.

Di West Kalimantan, komite serupa menaikkan harga FFB untuk kelompok umur yang sama menjadi IDR 3.827,54 per kilogram pada periode 8‑15 April, dengan tambahan IDR 101,26/kg, menandakan pemulihan di sektor hulu.

Harga CPO ditetapkan pada IDR 15.657,03/kg di Central Kalimantan dan IDR 15.709,32/kg di West Kalimantan, sementara harga kernel berada di kisaran IDR 15.869,55/kg dan IDR 15.785,29/kg dengan indeks K sekitar 91,8%.

Struktur harga menurut usia menunjukkan pohon muda (3‑5 tahun) di Central Kalimantan dihargai antara IDR 3.174‑3.455/kg, naik secara bertahap hingga puncak pada umur produktif, lalu menurun perlahan untuk pohon lebih tua.

Polanya serupa di West Kalimantan, di mana FFB dari pohon 3 tahun dipatok IDR 2.877/kg dan mencapai puncak IDR 3.827/kg untuk umur 10‑20 tahun, kemudian mengalami penurunan marginal pada umur di atas 20 tahun.

Seorang juru bicara Badan Penanaman Sawit Provinsi menyatakan, “Kenaikan ini sejalan dengan tren CPO global dan mendukung pendapatan petani kecil yang menjadi tulang punggung produksi.”

Analis menilai permintaan minyak kelapa sawit internasional, khususnya dari Cina dan India, menjaga harga crude tetap kuat, sementara kapasitas pengolahan dalam negeri yang terus berkembang menstabilkan pasokan dan menambah tekanan naik pada harga hulu.

Rupiah tetap relatif stabil terhadap dolar AS pada akhir April, menciptakan lingkungan nilai tukar yang menguntungkan bagi eksportir, meski data spesifik tidak tersedia karena keterbatasan sumber.

Komite harga menegaskan bahwa penetapan selanjutnya akan terus memantau indeks CPO internasional, permintaan kernel domestik, serta komposisi usia perkebunan, dengan ekspektasi volatilitas yang moderat.

Kombinasi kenaikan harga FFB dan kestabilan CPO diperkirakan meningkatkan arus kas petani kecil di kedua provinsi, mendorong investasi kembali pada penanaman ulang dan peningkatan produktivitas.

Secara keseluruhan, periode awal hingga pertengahan April 2026 menunjukkan kenaikan signifikan harga FFB di Central dan West Kalimantan, didorong oleh pasar CPO yang kuat dan kebijakan harga yang terkoordinasi, menandakan perbaikan pada sektor hulu kelapa sawit Indonesia.

Tinggalkan Balasan