Prof. Syawal Gultom Meninggal, Warisan Pengabdian di Dunia Pendidikan
Suara Pecari | Prof. Syawal Gultom, mantan rektor Universitas Negeri Medan (Unimed), resmi dinyatakan meninggal dunia pada Senin, 22 April 2026.
Kabar duka ini menyebar cepat di kalangan akademisi dan alumni, yang mengenang dedikasinya selama puluhan tahun.
Lahir pada 12 Januari 1955 di Medan, Syawal Gultom menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Pendidikan Universitas Sumatera Utara sebelum melanjutkan studi magister di luar negeri.
Ia meraih gelar doktor di bidang Pendidikan Dasar dari Universitas Negeri Malang, yang kemudian menjadi landasan kariernya di dunia pendidikan tinggi.
Karier akademiknya dimulai sebagai dosen di Unimed pada tahun 1983, di mana ia dikenal karena metode pengajaran yang interaktif dan berorientasi pada riset.
Pada tahun 2005, ia diangkat menjadi Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, memperkuat program kurikulum dan meningkatkan kerjasama dengan institusi internasional.
Prestasinya sebagai dekan membuka jalan bagi pengangkatan sebagai rektor pada tahun 2011, posisi yang ia jabat selama dua periode hingga 2019.
Selama masa kepemimpinan, Unimed mengalami pertumbuhan signifikan, termasuk peningkatan jumlah mahasiswa, akreditasi A untuk beberapa program studi, dan pembangunan fasilitas laboratorium modern.
Salah satu kebijakan utama Syawal Gultom adalah penguatan riset terapan, yang menghasilkan lebih dari 150 publikasi ilmiah dan sejumlah paten di bidang pendidikan.
Ia juga memprakarsai program beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dari daerah terpencil, yang membantu ribuan siswa mengakses pendidikan tinggi.
Rekan sejawat menilai beliau sebagai sosok yang visioner dan humanis, seperti yang diungkapkan Dekan Fakultas Ilmu Sosial, Dr. Ahmad Zulkifli: “Kepemimpinan Prof. Gultom selalu menempatkan kepentingan mahasiswa di atas segalanya.”
Mahasiswa yang pernah belajar di bawah bimbingannya mengingat pendekatan pembelajarannya yang menggabungkan teori dan praktik, serta kemampuan beliau memberi motivasi secara personal.
Setelah pensiun, ia tetap aktif sebagai pembicara tamu di konferensi pendidikan nasional, serta menjadi anggota dewan penasihat beberapa lembaga non‑profit.
Kematian beliau dilaporkan sebagai akibat komplikasi penyakit kronis yang diderita sejak beberapa tahun lalu, meski ia terus menjalankan kegiatan akademik hingga akhir hayatnya.
Upacara pemakaman dijadwalkan pada hari Jumat di Pemakaman Umum Taman Bahagia, Medan, dengan kehadiran keluarga, kolega, dan mahasiswa yang ingin memberi penghormatan.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyatakan berkabung satu hari, serta menurunkan bendera setengah tiang di gedung-gedung pendidikan sebagai bentuk penghormatan.
Warisan Prof. Syawal Gultom mencakup tidak hanya peningkatan infrastruktur Unimed, tetapi juga budaya akademik yang menekankan integritas, kolaborasi, dan inovasi berkelanjutan.
Dengan kepergiannya, dunia pendidikan Indonesia kehilangan seorang tokoh yang konsisten memperjuangkan kualitas dan aksesibilitas, namun nilai-nilai yang ditinggalkannya tetap menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







