Alamtri Resources Indonesia Turun Bersama IHSG, Namun Tetap Jadi Pilihan Investor
Suara Pecari | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 0,15% ke level 7.095 pada sesi pertama perdagangan Selasa 28 April 2026, sementara saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) masuk dalam daftar tiga saham terburuk LQ45 bersama JPFA dan AMRT.
Penurunan indeks dipicu oleh aksi jual berskala besar oleh investor asing senilai sekitar Rp 2,01 triliun, menambah tekanan pada saham-saham sektor energi dan pertambangan yang sebelumnya berada di zona support.
Analisis teknikal menunjukkan IHSG berada di antara level support 6.900‑7.000 dan resistance 7.200‑7.250, menandakan potensi koreksi lanjutan jika momentum jual tidak berkurang.
Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menilai bahwa IHSG “berpotensi koreksi kembali setelah gagal menembus zona 7.250” dan memperingatkan investor untuk memperhatikan pergerakan harga di level support kritis.
Riset PT Kiwoom Sekuritas Indonesia menambahkan bahwa tanpa katalis positif, indeks dapat berakhir di sekitar 7.022 atau berlanjut menguji zona 7.000‑6.917 dalam beberapa sesi ke depan.
Dalam rekomendasi saham hari ini, BNI Sekuritas menempatkan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) bersama KIJA, HRTA, UNTR, SSIA, dan INDY sebagai pilihan yang tetap menarik meski berada di posisi terburuk LQ45.
Alamtri Resources Indonesia diperkirakan dapat memanfaatkan kenaikan permintaan batu bara thermal di Asia, khususnya di pasar Indonesia dan India, yang mendukung prospek pendapatan jangka menengah meski harga komoditas berfluktuasi.
Selama minggu terakhir, ADRO mencatat penurunan sekitar 2,3% akibat tekanan pasar global dan sentimen negatif terhadap sektor energi, namun volume perdagangan yang tinggi menunjukkan minat beli kembali dari investor institusional.
Para analis memperkirakan harga saham ADRO dapat mengalami rebound pada akhir pekan ini bila indeks utama menguat kembali dan data ekspor batu bara menunjukkan surplus.
Secara makro, pasar saham Indonesia masih dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan moneter global, nilai tukar rupiah, serta pergerakan harga komoditas energi yang dapat memicu volatilitas tambahan.
Investor disarankan untuk menerapkan manajemen risiko yang ketat, termasuk penetapan stop‑loss dan diversifikasi portofolio, terutama ketika memasuki posisi pada saham yang baru saja mengalami penurunan signifikan seperti ADRO.
Dengan dukungan fundamental yang tetap kuat dan potensi pemulihan teknikal, PT Alamtri Resources Indonesia tetap berada dalam radar investor yang mencari peluang di tengah koreksi pasar, meski kondisi tetap memerlukan kehati‑hatian.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.






