APRIL Group Perpanjang Periode Bahaya Kebakaran Hingga September 2026: Antisipasi Karhutla di Riau
Suara Pecari, PELALAWAN – Menyikapi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi saat musim kemarau, APRIL Group secara resmi menetapkan Periode Bahaya Kebakaran (Fire Danger Period) di seluruh area konsesinya di Provinsi Riau. Periode ini berlaku mulai saat ini hingga 30 September 2026. Kebijakan tahunan ini menjadi sinyal kesiapsiagaan penuh perusahaan dalam menghadapi potensi bencana yang setiap tahun mengancam ekosistem dan masyarakat di sekitarnya.
Langkah Antisipasi dan Peningkatan Kesiapsiagaan
Selama Periode Bahaya Kebakaran, APRIL mengintensifkan patroli darat dan udara secara simultan. Patroli darat dilakukan oleh tim yang terlatih dengan menggunakan kendaraan roda empat dan sepeda motor trail di area rawan. Sementara patroli udara memanfaatkan helikopter untuk memantau titik panas dari ketinggian. Langkah ini memungkinkan deteksi dini terhadap potensi api sebelum meluas.
Selain patroli, perusahaan juga memperkuat kolaborasi dengan masyarakat di sekitar wilayah operasional. Kolaborasi ini diwujudkan melalui program Fire Free Village Program (FFVP) yang telah berjalan sejak 2014. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan mendorong praktik pengelolaan hutan yang bertanggung jawab di tingkat desa.
Fire Free Village Program: Pencegahan Berbasis Komunitas
Fire Free Village Program (FFVP) merupakan salah satu pilar utama strategi pengelolaan kebakaran APRIL. Program ini saat ini telah menjangkau 44 desa dengan luas wilayah mencapai 902.872 hektare. Sejak diluncurkan, kejadian kebakaran di desa-desa peserta FFVP tercatat menurun lebih dari 90 persen. Angka ini menunjukkan efektivitas pendekatan berbasis komunitas dalam mencegah karhutla.
Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP), unit operasional APRIL Group, Sihol Aritonang, menegaskan bahwa inti dari pengelolaan kebakaran hutan adalah pencegahan. “Pencegahan yang efektif memerlukan komitmen bersama untuk melindungi masyarakat, mata pencaharian, dan lingkungan. APRIL akan terus bekerja bersama masyarakat, instansi pemerintah, dan para pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat upaya pencegahan dan menjaga kelestarian bentang alam,” ujarnya pada Rabu, 8 Juli 2026.
Dukungan Pemadaman hingga Radius 3 Kilometer
Sebagai bagian dari komitmennya, APRIL juga memberikan dukungan pemadaman terhadap setiap kejadian kebakaran yang terjadi dalam radius hingga tiga kilometer dari batas area konsesi. Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada area internal, tetapi juga peduli terhadap lingkungan sekitar. Dukungan ini mencakup mobilisasi personel, peralatan pemadam, dan air boat jika diperlukan.
Investasi Teknologi dan Sumber Daya
Untuk mendukung kesiapsiagaan, APRIL terus berinvestasi dalam teknologi deteksi dini dan pemadaman kebakaran. Perusahaan memanfaatkan citra satelit dan jaringan menara CCTV yang tersebar di sekitar areal hutan tanaman. Saat ini, APRIL didukung oleh satu helikopter, dua airboat, 345 personel pemadam kebakaran profesional, 26 unit CCTV, 177 pompa air, 1.209 gulung selang pemadam, serta 735 relawan yang telah mendapatkan pelatihan dan tersebar di 49 desa di Provinsi Riau.
| Jenis Sumber Daya | Jumlah |
|---|---|
| Helikopter | 1 unit |
| Airboat | 2 unit |
| Personel Pemadam Profesional | 345 orang |
| CCTV | 26 unit |
| Pompa Air | 177 unit |
| Selang Pemadam | 1.209 gulung |
| Relawan Terlatih | 735 orang |
Kebijakan No Burn dan Kepatuhan Regulasi
Sejak 1993, APRIL secara konsisten menerapkan kebijakan No Burn (Tanpa Pembakaran) dan mematuhi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan di Indonesia terkait pencegahan serta penanganan karhutla. Kebijakan ini melarang segala bentuk pembakaran dalam pengelolaan lahan, baik untuk pembukaan lahan maupun kegiatan lainnya. Pelanggaran terhadap kebijakan ini akan dikenakan sanksi tegas sesuai aturan perusahaan dan hukum yang berlaku.
Dampak dan Implikasi
Penetapan Periode Bahaya Kebakaran ini memiliki dampak luas, tidak hanya bagi operasional APRIL, tetapi juga bagi masyarakat sekitar dan lingkungan. Dengan adanya peningkatan kesiapsiagaan, risiko kebakaran yang dapat menyebabkan kabut asap dan gangguan kesehatan dapat diminimalkan. Selain itu, keberhasilan program FFVP yang telah menurunkan kejadian kebakaran hingga 90% menunjukkan bahwa pencegahan berbasis komunitas efektif dan dapat direplikasi oleh perusahaan lain. Bagi pemerintah Provinsi Riau, langkah APRIL menjadi contoh kolaborasi swasta-pemerintah-masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.
Kronologi dan Konteks Tahunan
Penetapan Periode Bahaya Kebakaran merupakan agenda tahunan APRIL. Biasanya dimulai pada awal musim kemarau, yaitu sekitar bulan Juni hingga September. Pada tahun 2026, periode ini diperpanjang hingga 30 September mengingat prediksi cuaca yang menunjukkan musim kemarau lebih panjang akibat fenomena El Niño ringan. Sejak 2014, APRIL telah menjalankan FFVP dan setiap tahun mengevaluasi serta memperluas jangkauan program.
Partisipasi Masyarakat
Masyarakat yang menemukan titik panas atau kejadian kebakaran di sekitar area konsesi APRIL dapat segera melaporkannya melalui Fire Hotline yang beroperasi 24 jam di nomor 62 811 707 2121. Laporan dari masyarakat menjadi salah satu sumber informasi penting bagi tim pemadam untuk merespons cepat.
Dengan segala upaya yang telah dan akan terus dilakukan, APRIL Group berharap dapat menjaga kelestarian hutan dan lahan di Riau, serta melindungi masyarakat dari dampak buruk karhutla. Komitmen ini tidak hanya diwujudkan dalam bentuk kebijakan dan investasi, tetapi juga melalui kerja sama erat dengan seluruh pemangku kepentingan. Musim kemarau bukanlah momok yang harus ditakuti, melainkan tantangan yang dapat dihadapi bersama dengan kesiapsiagaan dan pencegahan yang matang.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










