Foto Dulu Terbengkalai, Kini Kampung Bayam Madani Manfaatkan Lahan Jadi Hasil Panen

Foto Dulu Terbengkalai, Kini Kampung Bayam Madani Manfaatkan Lahan Jadi Hasil Panen

Suara Pecari, Jakarta, 13 Juli 2026 – Lahan seluas sekitar 500 meter persegi yang sebelumnya terbengkalai dan tak terurus kini berubah menjadi oasis hijau di tengah kepadatan Jakarta Utara. Kawasan yang dikenal dengan nama Kampung Bayam Madani ini menjadi contoh nyata bagaimana pertanian perkotaan dapat mengubah lahan tidur menjadi sumber pangan dan ekonomi produktif. Sebanyak 35 kepala keluarga (KK) bergotong royong mengelola lahan tersebut, menanam berbagai jenis sayuran seperti bayam, kangkung, cabai, dan tomat.

Perubahan Lahan Terbengkalai Menjadi Kebun Produktif

Dahulu, lahan di Kampung Bayam Madani hanya menjadi tempat pembuangan sampah liar dan sarang penyakit. Warga setempat kerap mengeluhkan kondisi kumuh dan bau tak sedap. Namun, sejak awal tahun 2025, Kelompok Tani Kampung Bayam Madani yang diketuai oleh Muhammad Furqon mulai merintis program pertanian perkotaan. Dengan gotong royong, mereka membersihkan lahan, menyuburkan tanah, dan mulai menanam bibit sayuran. Kini, lahan tersebut tidak hanya bersih, tetapi juga menjadi pemasok sayuran segar bagi warga sekitar.

Kronologi Transformasi

  • Januari 2025: Warga membersihkan lahan dari sampah dan puing.
  • Februari 2025: Pembentukan Kelompok Tani Kampung Bayam Madani dengan 35 KK anggota.
  • Maret 2025: Penanaman perdana bibit bayam dan kangkung.
  • Mei 2025: Panen pertama berhasil, hasilnya dibagikan ke warga.
  • Agustus 2025: Mulai menjual kelebihan hasil panen ke masyarakat umum.
  • Juli 2026: Lahan 500 m² kini produktif penuh, menjadi percontohan urban farming.

Hasil Panen: Konsumsi Sendiri dan Jual ke Masyarakat

Ketua Kelompok Tani, Muhammad Furqon, menjelaskan bahwa hasil panen tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan 35 KK pengelola, tetapi juga dijual kepada masyarakat di sekitar Kampung Bayam Madani. “Kami menjual sayuran segar dengan harga terjangkau. Ini membantu warga mendapatkan pangan murah sekaligus menambah penghasilan kelompok,” ujar Furqon saat ditemui di lokasi, Kamis (13/7/2026).

Berikut adalah data hasil panen rata-rata per bulan dari lahan tersebut:

Jenis SayuranLuas Tanam (m²)Rata-rata Panen (kg/bulan)Harga Jual (Rp/kg)
Bayam1501208.000
Kangkung100907.000
Cabai Rawit502540.000
Tomat806012.000
Lainnya (terong, sawi)1208010.000

Dengan total pendapatan rata-rata sekitar Rp 4,5 juta per bulan, hasil ini dibagi rata kepada 35 KK setelah dipotong biaya operasional. Meskipun belum besar, Furqon optimistis ke depannya dapat meningkat seiring perluasan lahan dan peningkatan produktivitas.

Dampak dan Implikasi bagi Ketahanan Pangan

Keberadaan Kampung Bayam Madani memberikan dampak signifikan, tidak hanya bagi warga setempat, tetapi juga bagi konsep ketahanan pangan di Jakarta Utara. Dengan lahan terbatas, pertanian perkotaan menjadi solusi cerdas untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan sayuran dari luar kota. Selain itu, kegiatan ini juga menyerap waktu luang warga, mengurangi angka pengangguran, dan menciptakan lingkungan yang lebih hijau.

Pemerintah Kota Jakarta Utara pun mulai melirik keberhasilan ini. Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta Utara, Andi Suryanto, menyatakan bahwa program Kampung Bayam Madani akan dijadikan percontohan untuk wilayah lain. “Kami akan mendorong pembentukan kampung tematik serupa di setiap kecamatan. Ini sejalan dengan program Jakarta sebagai kota global yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dampak Lingkungan dan Sosial

  • Lingkungan: Lahan yang dulunya kumuh kini menjadi area hijau yang menyerap polusi dan menurunkan suhu mikro.
  • Sosial: Gotong royong mempererat hubungan antarwarga, menumbuhkan rasa memiliki, dan mengurangi konflik.
  • Ekonomi: Menambah penghasilan keluarga, terutama bagi ibu rumah tangga dan lansia.
  • Kesehatan: Warga mengonsumsi sayuran segar tanpa pestisida berlebih, meningkatkan gizi keluarga.

Harapan ke Depan: Perluasan Lahan dan Diversifikasi Tanaman

Muhammad Furqon berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih, seperti bantuan bibit, pupuk organik, dan sistem irigasi yang lebih modern. Saat ini, pengairan masih mengandalkan sumur dan selang manual. Ke depan, kelompok tani juga berencana menanam tanaman obat keluarga (TOGA) dan buah-buahan seperti pepaya dan pisang untuk diversifikasi produk.

“Kami ingin Kampung Bayam Madani tidak hanya dikenal sebagai penghasil sayuran, tetapi juga sebagai pusat edukasi urban farming. Banyak sekolah dan komunitas yang sudah mulai berkunjung untuk belajar,” tambah Furqon.

Tidak hanya itu, kelompok tani juga mulai merintis penjualan secara daring melalui media sosial dan aplikasi pesan instan. Langkah ini diharapkan mampu menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk restoran dan katering di Jakarta Utara.

Penutup

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang identik dengan gedung pencakar langit dan kemacetan, Kampung Bayam Madani hadir sebagai oase hijau yang membuktikan bahwa lahan sempit pun bisa produktif. Transformasi dari lahan terbengkalai menjadi kebun sayur yang menghasilkan tidak hanya memberi pangan, tetapi juga harapan dan semangat gotong royong. Inilah wajah baru ketahanan pangan urban: dari foto dulu yang terbengkalai, kini menjadi foto panen yang membanggakan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *