Lisa, Wali Asuh SRT 51 Bangkalan Jadi Orang Tua Kedua: Menanamkan Disiplin dan Kasih Sayang
Suara Pecari, Bangkalan, Madura – Di balik tembok Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 51 Bangkalan, terdapat sosok yang tak lelah mendampingi puluhan anak-anak dari berbagai latar belakang. Yulistiana Dwi Purnamasari, atau akrab disapa Lisa, bukan sekadar pengawas asrama. Ia adalah orang tua kedua yang hadir sejak subuh hingga larut malam, memastikan setiap anak mendapatkan bimbingan, kasih sayang, dan perhatian penuh.
Peran Wali Asuh: Lebih dari Sekadar Pengawas
Lisa mengawali hari dengan membangunkan anak-anak untuk sholat Subuh berjamaah. Setelah itu, ia memimpin kegiatan bersih-bersih kamar, sarapan bersama, dan memastikan setiap anak siap mengikuti pelajaran di sekolah. Namun, tugasnya tidak berhenti di situ. Sepulang sekolah, ia mendampingi belajar, mengontrol kesehatan, dan menjadi tempat curhat bagi anak-anak yang rindu orang tua. “Sejak subuh, kami sudah bersama mereka. Membimbing sholat berjamaah, memastikan kamar bersih, menemani belajar, hingga mengontrol kesehatan anak-anak. Kalau ada yang sakit, kami bergantian menjaga di rumah sakit. Semua demi keselamatan mereka,” ujarnya penuh ketulusan, Kamis (9/7/2026).
Tantangan Mendampingi Anak dari Latar Belakang Beragam
Anak-anak di SRT 51 Bangkalan berasal dari keluarga kurang mampu, yatim piatu, atau korban perceraian. Masing-masing membawa luka dan kebiasaan yang berbeda. Lisa mengaku, mendampingi mereka membuatnya belajar tentang arti kesabaran. “Ada yang sulit diatur, ada yang terlalu aktif hingga jatuh saat bermain, bahkan ada yang harus dirawat di rumah sakit. Namun semua itu saya jalani dengan hati,” tuturnya.
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika ia merawat seorang anak yang harus opname di rumah sakit. Lisa dan rekan wali asuh bergantian menjaga selama 24 jam. “Kami tidak tega meninggalkan mereka sendirian. Mereka butuh kehadiran orang dewasa yang peduli,” katanya.
Perubahan Karakter yang Menyentuh Hati
Yang paling membahagiakan bagi Lisa adalah melihat perubahan karakter anak-anak. Dari yang awalnya suka bertengkar dan saling mengejek, kini mereka mulai belajar rukun dan saling mengasihi. “Saya ingin mereka tumbuh bukan hanya pintar, tapi juga punya hati yang baik. Karena pendidikan sejati adalah menumbuhkan akhlak dan kasih sayang,” tuturnya.
Perubahan ini tidak instan. Lisa menerapkan pendekatan disiplin penuh kasih. Setiap pelanggaran kecil seperti tidak merapikan tempat tidur atau berkelahi, ditindaklanjuti dengan diskusi dan hukuman yang mendidik, seperti membersihkan lingkungan asrama. Perlahan, anak-anak mulai memahami pentingnya tanggung jawab dan empati.
Dampak Kehadiran Wali Asuh bagi Anak-Anak SRT 51
Kehadiran wali asuh seperti Lisa memberikan dampak besar bagi anak-anak. Mereka tidak hanya mendapatkan pendidikan formal, tetapi juga pendidikan karakter yang membentuk kepribadian. Menurut psikolog pendidikan dari Universitas Trunojoyo Madura, Dr. Siti Nurhayati, peran wali asuh sangat krusial dalam membangun rasa aman dan kepercayaan diri anak. “Anak-anak yang kehilangan figur orang tua seringkali mengalami trauma. Kehadiran wali asuh yang konsisten dan penuh kasih sayang dapat menjadi terapi,” jelasnya.
Berikut adalah tabel aktivitas harian wali asuh di asrama SRT 51 Bangkalan:
| Waktu | Aktivitas |
|---|---|
| 04.00 – 05.00 | Membangunkan, sholat Subuh berjamaah, kultum |
| 05.00 – 06.00 | Bersih-bersih kamar, mandi, sarapan |
| 06.00 – 13.00 | Sekolah (wali asuh memantau kehadiran, koordinasi guru) |
| 13.00 – 15.00 | Makan siang, istirahat, sholat Dzuhur |
| 15.00 – 17.00 | Belajar sore, pendampingan PR, sholat Ashar |
| 17.00 – 18.00 | Olahraga atau kegiatan ekstrakurikuler |
| 18.00 – 19.00 | Sholat Maghrib, mengaji, makan malam |
| 19.00 – 21.00 | Belajar malam, sholat Isya, evaluasi harian |
| 21.00 – 04.00 | Istirahat malam (wali asuh bergantian jaga) |
Dukungan dan Harapan untuk Masa Depan
Lisa berharap, peran wali asuh semakin diakui dan didukung oleh pemerintah maupun masyarakat. “Kami butuh pelatihan, fasilitas yang lebih baik, dan tentunya tunjangan yang layak. Tapi yang terpenting, kami ingin anak-anak ini sukses dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi bangsa,” ujarnya.
Kepala SRT 51 Bangkalan, Ahmad Fauzi, mengapresiasi dedikasi Lisa. “Ia adalah teladan bagi wali asuh lainnya. Dengan ketulusan dan kesabaran, Lisa membuktikan bahwa wali asuh bukan sekadar pengawas, melainkan sosok yang menanamkan disiplin, kasih sayang, dan nilai kebersamaan bagi anak-anak,” katanya.
Kisah Lisa adalah pengingat bahwa di balik setiap anak hebat, ada orang dewasa yang rela berkorban. Di SRT 51 Bangkalan, Lisa dan para wali asuh lainnya adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang terus menyalakan cahaya harapan bagi masa depan anak-anak Indonesia.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










