Krisis Distribusi BBM: Sopir Truk Tangki Pertamina Jadi Sorotan Usai Mogok dan Kecelakaan Beruntun
Suara Pecari, Jakarta, VIVA – Gelombang kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang melanda sejumlah daerah dalam beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran publik. Di balik antrean panjang dan keluhan masyarakat, peran sopir truk tangki Pertamina menjadi sorotan utama. Insiden kecelakaan di Jakarta serta isu mogok kerja di Medan turut memperkeruh situasi. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bahkan meminta tindakan tegas terhadap sopir truk tangki Pertamina yang dinilai lalai.
Pada Kamis, 16 Juli 2026, sebuah truk molen tersangkut di kolong jembatan Matraman, Jakarta Timur. Kecelakaan itu diduga akibat sopir truk tangki Pertamina bermain ponsel saat mengemudi. Gubernur Pramono Anung langsung bereaksi keras. “Saya sudah meminta Dinas Perhubungan dan Korlantas untuk menindak sekeras-kerasnya. Jika perlu, lisensi sopir dicabut,” ujarnya pada Jumat, 17 Juli 2026. Ia menegaskan tidak ingin Jakarta terusik oleh ulah sopir yang tidak disiplin.
Sementara itu, di Medan, Sumatera Utara, beredar isu mogok massal sopir truk tangki Pertamina akibat keterlambatan pembayaran. Kabar tersebut sontak memicu antrean panjang di sejumlah SPBU. Namun, Pertamina Patra Niaga Sumbagut membantah keras isu tersebut. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani, menegaskan bahwa distribusi BBM tetap berjalan normal. “Armada mobil tangki terus bergerak. Tidak ada penghentian distribusi akibat persoalan pembayaran,” katanya. Pertamina justru mengakui tengah melakukan pembenahan manajemen transportasi dengan menindak sopir truk tangki Pertamina yang melanggar disiplin.
Di Bengkulu, antrean truk di SPBU Kelobak, Kabupaten Kepahiang, mencapai ratusan meter pada Jumat, 17 Juli 2026. Pasokan bio solar yang biasanya 16 ton per hari dipangkas menjadi hanya 8 ton. Pengawas SPBU, Fuji, mengaku tidak tahu penyebab pengurangan pasokan. Ironisnya, di Banyuasin, Sumatera Selatan, seorang sopir truk bernama Amri (50) ditemukan meninggal dunia saat mengantre solar di SPBU Kecamatan Sembawa pada 29 Juni 2026. Tragedi ini menjadi bukti betapa parahnya krisis distribusi yang terjadi.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung memastikan stok BBM nasional aman dengan ketahanan 14-40 hari. Namun, lonjakan permintaan akibat kenaikan harga Pertamax disebut memicu peningkatan konsumsi Pertalite hingga 15%. Sistem distribusi dinilai gagal mengejar permintaan yang membeludak. Pertamina Patra Niaga Sumbagut mengakui kebutuhan BBM di Medan meningkat 10 persen dari rata-rata harian, namun membantah adanya mogok massal. Executive General Manager Sunardi menyatakan bahwa pihaknya tengah melakukan evaluasi terhadap awak mobil tangki yang melanggar prosedur.
Di tengah kontroversi, para sopir truk tangki Pertamina menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka harus menghadapi tekanan dari publik, tuntutan disiplin dari perusahaan, serta risiko keselamatan di jalan. Insiden di Matraman dan tragedi di Banyuasin menunjukkan betapa gentingnya situasi. Pertamina perlu segera membenahi sistem distribusi dan pengawasan terhadap sopir agar krisis serupa tidak terulang. Masyarakat pun diimbau tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
Krisis ini menjadi pengingat bahwa kelancaran distribusi BBM tidak hanya bergantung pada stok nasional, tetapi juga pada kinerja para pengemudi di lapangan. Pengawasan ketat, penegakan disiplin, serta perbaikan sistem pembayaran menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan publik. Hingga berita ini diturunkan, antrean di beberapa SPBU masih terpantau, namun pemerintah dan Pertamina berjanji akan menormalisasi distribusi dalam waktu dekat.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










