Petani Torjun Tanam 40 Ribu Batang Tembakau, Optimistis Panen Berkualitas
Musim Kemarau Membawa Harapan Baru bagi Petani Tembakau Sampang
Suara Pecari, Memasuki puncak musim kemarau tahun 2026, para petani tembakau di Kabupaten Sampang, Madura, mulai menunjukkan optimisme yang tinggi. Salah satunya adalah Moh. Hijab, petani tembakau asal Desa Pangongsean, Kecamatan Torjun, yang telah menanam sekitar 40 ribu batang tembakau di lahan seluas dua hektare. Hijab meyakini bahwa cuaca yang didominasi kemarau akan menjadi faktor kunci dalam menghasilkan daun tembakau berkualitas premium.
Kondisi Tanaman yang Menggembirakan
Menurut Hijab, tanaman tembakau di lahannya tumbuh dengan baik. Serangan hama masih tergolong normal dan dapat dikendalikan dengan pestisida, sehingga tidak mengganggu pertumbuhan secara signifikan. Ketersediaan air untuk penyiraman juga masih mencukupi berkat sumur bor yang dimanfaatkan para petani. “Kami berharap hujan tidak turun hingga masa panen agar kualitas hasil tetap terjaga,” ujarnya saat ditemui pada Senin, 13 Juli 2026.
| Faktor | Keterangan |
|---|---|
| Luas Lahan | 2 hektare (sawah dan tegal) |
| Jumlah Tanaman | ±40.000 batang |
| Biaya Produksi | ±Rp15 juta (termasuk tenaga kerja dan pengairan) |
| Sumber Air | Sumur bor |
| Kendala Hama | Masih terkendali dengan pestisida |
Harapan di Tengah Biaya Produksi yang Tinggi
Meski kondisi tanaman cukup baik, Hijab mengakui bahwa biaya produksi tembakau tidaklah sedikit. Untuk mengelola 40 ribu batang hingga panen, ia memperkirakan kebutuhan modal mencapai sekitar Rp15 juta. Biaya tersebut mencakup tenaga kerja, pengairan, dan pembelian pestisida. Dengan modal sebesar itu, Hijab berharap harga tembakau pada musim panen nanti sesuai dengan harapan petani. “Harga yang layak menjadi penentu keberlanjutan usaha tani tembakau sekaligus memberikan keuntungan yang sepadan dengan modal dan tenaga yang telah dikeluarkan,” tuturnya.
Dampak Cuaca terhadap Kualitas Tembakau
Kualitas daun tembakau sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Daun tembakau yang tumbuh di musim kemarau cenderung lebih tebal, kering, dan memiliki aroma yang kuat, sehingga diminati pasar. Sebaliknya, jika hujan turun saat masa panen, daun bisa menjadi lembap, mudah busuk, dan menurunkan harga jual. Oleh karena itu, para petani di Sampang sangat bergantung pada stabilitas cuaca. Memasuki puncak kemarau, mereka berharap tidak ada gangguan hujan hingga proses panen selesai.
Peran Pemerintah dan Stabilitas Harga
Selain cuaca, stabilitas harga di tingkat pembeli menjadi faktor penentu keberhasilan musim tanam. Selama ini, harga tembakau sering fluktuatif dan tidak menentu, membuat petani ragu untuk menanam. Pemerintah daerah diharapkan dapat berperan aktif dalam menstabilkan harga melalui kebijakan seperti penetapan harga acuan, fasilitasi akses pasar, atau kerja sama dengan industri rokok. Tanpa adanya jaminan harga yang layak, petani enggan berinvestasi besar pada musim tanam berikutnya.
Optimisme Petani Torjun
Meski tantangan masih ada, Moh. Hijab dan petani lainnya di Torjun tetap optimis. Mereka telah berpengalaman puluhan tahun mengelola tembakau dan tahu cara menghadapi risiko. Kunci utama adalah menjaga kualitas dan berharap cuaca bersahabat. “Kami hanya bisa berusaha dan berdoa. Semoga hasil tahun ini lebih baik dari tahun lalu,” pungkas Hijab.
Keberhasilan musim tanam tembakau di Sampang tidak hanya berdampak pada kesejahteraan petani, tetapi juga pada perekonomian lokal. Tembakau merupakan komoditas unggulan Madura yang menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi sumber pendapatan utama ribuan keluarga. Jika panen berhasil dan harga stabil, akan ada efek berganda yang positif bagi sektor perdagangan, transportasi, dan jasa di sekitar.
Dengan semangat yang membara, para petani Torjun terus merawat tanamannya. Mereka sadar bahwa setiap tetes keringat adalah investasi masa depan. Di tengah ketidakpastian iklim global, optimisme ini adalah aset paling berharga yang dimiliki petani Madura.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










