Pesisir Selatan Siapkan Sistem Pengolahan Sampah Modern: Langkah Strategis Menuju Lingkungan Berkelanjutan

Pesisir Selatan Siapkan Sistem Pengolahan Sampah Modern: Langkah Strategis Menuju Lingkungan Berkelanjutan

Suara Pecari, Padang — Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan mengambil langkah progresif dengan menyiapkan sistem pengolahan sampah modern sebagai solusi mengurangi timbunan sampah dan meningkatkan kualitas lingkungan. Konsep tersebut disusun dengan mempelajari teknologi pengelolaan sampah yang telah diterapkan di sejumlah daerah di Pulau Jawa. Rencana ini disampaikan Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, Pertanahan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Pesisir Selatan, Roli Buchari, usai menghadiri rapat koordinasi pemerintah daerah bersama Menteri Lingkungan Hidup di Kabupaten Padang Pariaman, Selasa, 14 Juli 2026.

Latar Belakang dan Urgensi Pengelolaan Sampah di Pesisir Selatan

Kabupaten Pesisir Selatan, yang memiliki garis pantai sepanjang lebih dari 200 kilometer dan jumlah penduduk sekitar 500.000 jiwa, menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup setempat, volume sampah yang dihasilkan mencapai sekitar 150 ton per hari, dengan komposisi dominan sampah organik (60%) dan sisanya anorganik. Selama ini, sebagian besar sampah berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa pengolahan yang memadai, menimbulkan pencemaran lingkungan dan risiko kesehatan.

Roli Buchari menegaskan bahwa sistem pengelolaan sampah yang ada saat ini sudah tidak relevan lagi. “Kita membutuhkan terobosan. Sampah bukan hanya masalah kebersihan, tetapi juga masalah lingkungan dan ekonomi. Dengan teknologi modern, sampah bisa menjadi sumber energi atau bahan baku daur ulang,” ujarnya.

Studi Banding ke Pulau Jawa: Belajar dari Keberhasilan Daerah Lain

Sebagai bagian dari persiapan, Pemkab Pesisir Selatan telah melakukan penjajakan dan studi ke sejumlah fasilitas pengolahan sampah di Pulau Jawa. Beberapa lokasi yang dikunjungi antara lain:

  • TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Bantargebang, Bekasi — yang mengolah sampah menjadi gas metana untuk pembangkit listrik.
  • Fasilitas pengolahan sampah organik di Kota Surabaya — yang menggunakan teknologi biodigester untuk menghasilkan kompos dan biogas.
  • Pusat daur ulang sampah plastik di Kabupaten Sleman, Yogyakarta — yang berhasil mengubah sampah plastik menjadi biji plastik bernilai ekonomi.

Dari studi tersebut, Pemkab Pesisir Selatan mengidentifikasi beberapa teknologi yang potensial diterapkan, antara lain:

TeknologiDeskripsiPotensi di Pesisir Selatan
BiodigesterMengolah sampah organik menjadi biogas dan pupuk cairTinggi, karena dominasi sampah organik
InsineratorMembakar sampah pada suhu tinggi untuk menghasilkan listrikSedang, perlu kajian emisi
Daur ulang plastikMengolah sampah plastik menjadi bahan baku industriTinggi, dengan dukungan industri lokal

Momentum Kunjungan Menteri Lingkungan Hidup

Rencana pengelolaan sampah modern ini mengemuka dalam rapat koordinasi yang dihadiri Menteri Lingkungan Hidup, Gubernur Sumatera Barat, para bupati dan wali kota se-Sumatera Barat, serta jajaran Kementerian Lingkungan Hidup. Rapat tersebut membahas penguatan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Sebelum rapat, Menteri Lingkungan Hidup bersama rombongan meninjau pengelolaan sampah terpadu berbasis kawasan di Kabupaten Padang Pariaman. Rangkaian kunjungan juga diisi dengan penanaman mangrove dan kelapa serta pencanangan Gerakan Taubat Ekologis Nasional — sebuah gerakan spiritual-ekologis yang mengajak masyarakat untuk bertobat dari perilaku merusak lingkungan.

Menurut Roli, kunjungan Menteri menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. “Kami berharap dukungan pemerintah pusat dan provinsi dapat mempercepat penerapan sistem pengolahan sampah modern di Pesisir Selatan,” ujarnya.

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat dan Lingkungan

Penerapan sistem pengolahan sampah modern di Pesisir Selatan diharapkan membawa dampak positif yang signifikan:

  • Bagi lingkungan: Mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA, menurunkan emisi gas rumah kaca dari dekomposisi sampah, serta mencegah pencemaran tanah dan air.
  • Bagi ekonomi: Menciptakan lapangan kerja baru di sektor daur ulang dan energi terbarukan, serta mengurangi biaya pengelolaan sampah jangka panjang.
  • Bagi kesehatan masyarakat: Lingkungan yang lebih bersih mengurangi risiko penyakit berbasis lingkungan seperti diare dan infeksi saluran pernapasan.
  • Bagi pariwisata: Pesisir Selatan yang memiliki banyak objek wisata pantai akan lebih menarik dengan lingkungan yang terjaga kebersihannya.

Namun, tantangan tetap ada. Diperlukan investasi awal yang tidak kecil, serta perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah. Roli mengakui hal ini: “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat, dunia usaha, dan akademisi.”

Langkah Selanjutnya dan Target

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan menargetkan konsep pengelolaan sampah modern ini selesai pada akhir tahun 2026. Setelah itu, akan dilakukan uji coba di satu kecamatan sebagai pilot project. Jika berhasil, sistem akan diperluas ke seluruh kabupaten secara bertahap.

Roli Buchari menambahkan, “Kami juga akan mengalokasikan anggaran untuk sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Karena teknologi secanggih apa pun, tanpa dukungan warga, tidak akan berhasil.”

Langkah Pesisir Selatan ini menjadi contoh bagi daerah lain di Sumatera Barat dan Indonesia pada umumnya. Dengan komitmen yang kuat dan kolaborasi lintas sektor, mimpi mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan bukan lagi sekadar wacana. Pesisir Selatan bergerak maju, meninggalkan praktik pengelolaan sampah konvensional menuju era baru pengelolaan sampah modern yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *