UKM Penanggulangan Kebencanaan UTU Gelar Kemah Pengabdian di Gayo Lues: Membangun Kembali Harapan di Huntara
Suara Pecari, Meulaboh – Unit Kegiatan Mahasiswa Penanggulangan Kebencanaan (UKM PK) Universitas Teuku Umar (UTU) resmi memulai program Kemah Pengabdian Mahasiswa (KPM) Tahun 2026 di Gayo Lues. Program ini merupakan tindak lanjut kerja sama antara UTU dengan Yayasan Hutan Alam Konservasi Aceh (HAKA). Pelepasan tim berlangsung pada Senin, 6 Juli 2026, di depan gedung rektorat kampus UTU. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UTU, H. Ibrahim Laweung, SKM., MNSc., melepas langsung para mahasiswa peserta program tersebut. Dalam sambutannya, Ibrahim menyatakan apresiasinya atas kolaborasi antara organisasi kemahasiswaan dengan lembaga mitra luar kampus.
“Kami berbangga telah terjalin kerjasama tingkat Ormawa UTU dengan lembaga Mitra. Kerjasama ini saling menguntungkan kedua belah pihak, kita UTU akan meningkatkan nilai Indikator Kinerja Utama (IKU) menjadi lebih baik serta meninggalkan jejak memorial keberadaan UTU di tengah masyarakat,” ujar Ibrahim. Kegiatan ini difokuskan pada pembangunan infrastruktur dasar untuk masyarakat di Hunian Sementara (Huntara) Desa Pepelah dan Desa Ekan, Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues.
Latar Belakang dan Kebutuhan Mendesak
Kecamatan Pining di Gayo Lues merupakan salah satu wilayah yang terdampak bencana alam beberapa tahun terakhir, sehingga banyak warga yang masih tinggal di hunian sementara (huntara). Kondisi infrastruktur di kedua desa sasaran sangat memprihatinkan. Berdasarkan survei awal yang dilakukan tim UKM PK UTU, teridentifikasi tujuh permasalahan infrastruktur utama yang dihadapi warga. Setelah melalui diskusi panjang antara HAKA dan UKM PK UTU, disepakati lima program prioritas yang akan dieksekusi selama masa kemah pengabdian.
Lima Program Prioritas Kemah Pengabdian
| No | Program | Lokasi | Target |
|---|---|---|---|
| 1 | Pembangunan gedung serba guna dua lantai | Desa Pepelah | Fasilitas umum untuk kegiatan sosial dan pendidikan |
| 2 | Pemasangan instalasi air bersih | Huntara Desa Pepelah | 38 kepala keluarga |
| 3 | Pembentukan Sekolah Kesiapsiagaan Bencana | Kecamatan Pining | Meningkatkan kapasitas masyarakat menghadapi bencana |
| 4 | Pembuatan jalan yang layak menuju Huntara Pepelah | Desa Pepelah | Akses transportasi dan logistik |
| 5 | Pembangunan fasilitas MCK | Desa Ekan | Sanitasi dasar bagi warga |
Kronologi dan Proses Seleksi Program
Ketua Tim sekaligus Pembina UKM PK UTU, Irsadi Aristora, S.Hut., M.H., menjelaskan bahwa program KPM ini diawali dengan survei langsung untuk melihat kondisi riil para penyintas di lokasi sasaran. “Tim awalnya mengidentifikasi ada tujuh permasalahan infrastruktur yang dihadapi oleh warga di wilayah tersebut. Setelah melalui proses seleksi dan diskusi panjang antara pihak HAKA dan UKM PK UTU, disepakati lima program prioritas yang akan dieksekusi selama masa kemah pengabdian,” tuturnya. Proses seleksi mempertimbangkan urgensi, dampak, dan ketersediaan sumber daya.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat
Program ini diharapkan memberikan dampak langsung bagi warga huntara. Pembangunan gedung serba guna akan menjadi pusat kegiatan sosial dan pendidikan anak-anak. Instalasi air bersih akan mengurangi risiko penyakit akibat air kotor. Sekolah Kesiapsiagaan Bencana akan membekali masyarakat dengan pengetahuan mitigasi bencana, mengingat Gayo Lues rawan gempa dan longsor. Jalan yang layak akan mempermudah akses bantuan dan mobilisasi warga. MCK komunal akan meningkatkan sanitasi dan martabat warga. Selain itu, program ini juga meningkatkan Indikator Kinerja Utama (IKU) UTU, terutama dalam hal pengabdian kepada masyarakat dan kolaborasi mitra.
Pesan Wakil Rektor: Jaga Etika dan Nama Baik Almamater
Dalam sambutannya, Ibrahim Laweung menitipkan pesan penting kepada seluruh mahasiswa yang akan berangkat ke lokasi pengabdian. “Kami menitip pesan untuk anak-anak jaga etika, jaga emosi, jaga kerukunan. Bangun kepedulian, kedisiplinan dan kesantunan yang menjadi nilai tambah setiap individu menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” tambahnya. Pesan ini menekankan bahwa mahasiswa tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun hubungan sosial yang baik dengan masyarakat setempat.
Kolaborasi Strategis dengan Yayasan HAKA
Kerja sama dengan Yayasan Hutan Alam Konservasi Aceh (HAKA) menunjukkan sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga non-pemerintah dalam penanggulangan bencana. HAKA memiliki pengalaman dalam konservasi dan pemberdayaan masyarakat di Aceh. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model bagi program pengabdian masyarakat lainnya di Indonesia.
Dengan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, mahasiswa UTU siap mengabdi dan meninggalkan jejak positif di Gayo Lues. Kemah Pengabdian ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wujud nyata kepedulian terhadap sesama yang terdampak bencana. Semoga program ini berjalan lancar dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










