Bhabinkamtibmas Bantan Sari Ajak Warga Manfaatkan Lahan Kosong untuk Ketahanan Pangan
Suara Pecari, Bengkalis – Upaya mendukung program pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan dan swasembada pangan terus dilakukan jajaran Polri melalui peran Bhabinkamtibmas di desa binaan. Salah satu contoh nyata datang dari Desa Bantan Sari, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, di mana Bhabinkamtibmas setempat, Aiptu Maryuni, turun langsung ke tengah masyarakat pada Rabu, 15 Juli 2026. Ia memberikan sosialisasi sekaligus mengajak warga memanfaatkan lahan kosong dan pekarangan rumah sebagai lahan produktif.
Latar Belakang: Mengapa Pemanfaatan Lahan Kosong Penting?
Indonesia saat ini menghadapi tantangan dalam hal ketahanan pangan, terutama di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok dan dampak perubahan iklim. Pemerintah pusat melalui berbagai kementerian dan lembaga terus mendorong program swasembada pangan, yang membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Di tingkat desa, peran Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak Polri sangat strategis untuk menyosialisasikan program ini secara langsung kepada warga.
Desa Bantan Sari memiliki potensi lahan yang cukup luas, namun sebagian lahan kosong belum dimanfaatkan secara optimal. Banyak pekarangan rumah yang hanya ditumbuhi rumput atau dibiarkan tidak terurus. Padahal, dengan sedikit usaha, lahan-lahan tersebut dapat diubah menjadi kebun produktif yang mendukung kebutuhan pangan keluarga sekaligus meningkatkan pendapatan.
Kegiatan Sosialisasi: Langkah Nyata Aiptu Maryuni
Pada kegiatan tersebut, Aiptu Maryuni mengimbau masyarakat agar menanam berbagai tanaman pangan seperti sayur-sayuran, jagung, ubi, dan komoditas lainnya yang dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia menekankan bahwa pemanfaatan lahan kosong merupakan langkah sederhana namun berdampak besar. “Pemanfaatan lahan kosong maupun pekarangan rumah merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar. Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, hasil panennya juga dapat dijual sehingga menambah penghasilan masyarakat,” ujar Aiptu Maryuni.
Menurutnya, pemanfaatan lahan pekarangan menjadi salah satu bentuk dukungan nyata terhadap program ketahanan pangan yang saat ini terus digalakkan pemerintah. “Di tengah kondisi harga kebutuhan pokok yang cenderung meningkat, masyarakat diharapkan dapat lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan. Dengan menanam sayuran, jagung, ubi maupun tanaman produktif lainnya, diharapkan dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa,” tambahnya.
Dampak dan Manfaat bagi Masyarakat
Program pemanfaatan lahan kosong ini memiliki dampak multisektor. Pertama, dari sisi ekonomi, masyarakat dapat menghemat pengeluaran belanja harian karena kebutuhan sayur dan umbi-umbian dapat dipenuhi sendiri. Kelebihan hasil panen bahkan bisa dijual ke pasar lokal, menambah pendapatan keluarga. Kedua, dari sisi kesehatan, konsumsi sayuran segar dari kebun sendiri lebih terjamin kebersihan dan kandungan gizinya. Ketiga, dari sisi lingkungan, lahan yang hijau dan produktif membantu menjaga kesuburan tanah dan mengurangi risiko erosi.
Berikut adalah perbandingan manfaat sebelum dan sesudah pemanfaatan lahan kosong:
| Aspek | Sebelum | Sesudah |
|---|---|---|
| Pengeluaran rumah tangga | Tinggi, tergantung pasar | Berkurang, mandiri pangan |
| Pendapatan keluarga | Tetap | Bertambah dari penjualan hasil panen |
| Ketersediaan pangan | Bergantung pasokan luar | Stabil, mandiri |
| Kualitas gizi | Kurang terkontrol | Lebih baik, sayuran segar |
Langkah-Langkah yang Bisa Dilakukan Warga
Bagi warga yang tertarik memanfaatkan lahan kosong, berikut adalah langkah-langkah sederhana yang disarankan:
- Identifikasi lahan: Tentukan area yang terkena sinar matahari cukup dan dekat dengan sumber air.
- Persiapan tanah: Gemburkan tanah, tambahkan kompos atau pupuk kandang untuk menyuburkan.
- Pemilihan tanaman: Mulailah dengan tanaman yang mudah tumbuh seperti kangkung, bayam, cabai, atau tomat.
- Penanaman dan perawatan: Tanam bibit atau benih, siram secara teratur, dan beri pupuk sesuai kebutuhan.
- Panen dan pemasaran: Setelah panen, konsumsi sendiri atau jual ke tetangga dan pasar desa.
Implikasi bagi Program Ketahanan Pangan Nasional
Kegiatan yang dilakukan Aiptu Maryuni di Desa Bantan Sari merupakan contoh konkret bagaimana sinergi antara Polri dan masyarakat dapat memperkuat ketahanan pangan dari tingkat akar rumput. Jika setiap desa di Indonesia melakukan hal serupa, dampaknya akan sangat signifikan. Data dari Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa potensi lahan pekarangan di Indonesia mencapai 10,3 juta hektar. Jika 50% saja dimanfaatkan untuk tanaman pangan, maka dapat memenuhi kebutuhan sayur dan buah untuk 30 juta rumah tangga per tahun.
Program ini juga sejalan dengan instruksi Presiden tentang percepatan swasembada pangan. Bhabinkamtibmas sebagai agen perubahan di desa memiliki peran vital dalam mengedukasi dan memotivasi warga. Keberhasilan di Bantan Sari diharapkan dapat direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Bengkalis dan sekitarnya.
Aiptu Maryuni berharap semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan lahan yang belum digunakan agar menjadi produktif dan bernilai ekonomis. Melalui sosialisasi tersebut, ia mengajak seluruh elemen masyarakat Desa Bantan Sari untuk bersama-sama menyukseskan program ketahanan pangan nasional dengan memulai dari lingkungan masing-masing. “Dengan gotong royong, kita ciptakan desa yang mandiri, produktif, dan mampu mendukung terwujudnya swasembada pangan,” pungkasnya.
Di tengah tantangan ekonomi global dan perubahan iklim, inisiatif seperti ini menjadi bukti bahwa solusi ketahanan pangan tidak selalu harus berskala besar. Langkah kecil dari setiap pekarangan, jika dilakukan bersama, akan menghasilkan dampak besar bagi bangsa. Desa Bantan Sari telah memulai; kini giliran desa-desa lain untuk mengikuti jejak mereka.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










